BLITAR - Di tengah kesibukan dunia yang terus berkembang, ada tempat yang menyajikan lebih dari sekadar hidangan lezat. Di Desa Bendo, Kecamatan Ponggok, sebuah warung pecel dengan harga terjangkau menawarkan suasana yang membangkitkan kenangan indah masa lalu, khususnya bagi generasi X.
Bukan sekadar ornamen dan bangunan klasik yang ditawarkan. Paling spesial adalah suasana bangunan sederhana dengan pekarangan luas yang menjadi ciri khas hunian zaman dulu.
Nuansa alam ini semakin lengkap dengan kolam ikan, unggas, dan ternak lainnya yang ditempatkan di bagian sudut jauh sehingga tidak mengganggu saat pengunjung menyantap hidangan.
Warung yang didirikan oleh Puguh Supriadi ini sudah beroperasi sekitar setahun ini. Walaupun masih terbilang baru, warung ini cepat mencuri perhatian karena mengusung konsep yang jarang ditemukan di tempat makan lainnya. Dengan suasana yang terinspirasi dengan pedesaan era 90-an, pengunjung bisa merasakan ketenangan dan kehangatan masa lalu.
“Kami ingin orang yang datang ke sini merasakan sensasi ketika pulang kampung atau ke rumah kakek-nenek di desa,” kata Puguh, Sabtu (18/1/2025).
Pecel menjadi menu utama yang ditawarkan tempat ini. Porsi yang disajikan cukup memuaskan, dengan sambal kacang yang kental dan sayuran segar dari hasil kebun sendiri.
Dipadukan dengan nasi hangat, rasanya yang gurih dan pedas dengan sentuhan rempah-rempah tradisional mampu mengingatkan pengunjung pada masa-masa ketika makan pecel menjadi pilihan makanan yang sederhana namun nikmat.
“Harganya memang agak mahal yakni Rp 10.000 per porsi. Harapan kami, pengunjung yang datang tidak hanya menikmati hidangan, tapi juga merasakan pengalaman yang berbeda. Di sini, orang bisa merasakan kembali kehangatan suasana di rumah keluarga mereka,” katanya.
Awalnya, Puguh tidak berencana membangun tempat tersebut sebagai usaha. Sebaliknya, dia berencana membuat tempat untuk bersantai. Lambat laun, ada beberapa aset yang diboyong untuk melengkapi tempat tersebut sehingga fungsinya hampir menyerupai hunian.
“Lama-lama suasananya pas untuk kuliner. Jadi sekitar setahun lalu mulai buka usaha kuliner ini,” ujarnya.
Lebih dari sekadar tempat makan, warung pecel ini juga sering digunakan untuk berbagai kegiatan. Banyak acara yang digelar di sini, baik itu diskusi komunitas hingga kegiatan formal pegawai pemerintah. (hai/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah