Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Jaranan Klasik Blitar Tetap Eksis Berkat Turonggo Sekar Budoyo, Meski Dukungan Pemerintah Minim

Muhamad Ilham Baha’udin • Selasa, 11 Februari 2025 | 23:51 WIB
Jaranan Klasik Khas Blitar, Komunitas Turonggo Sekar Budoyo
Jaranan Klasik Khas Blitar, Komunitas Turonggo Sekar Budoyo

Blitar selalu punya cerita tentang seni dan budaya yang tak lekang oleh waktu. Di Dusun Tumpuk, Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat, sebuah kelompok jaranan tetap teguh mempertahankan tarian klasik khas Blitaran. Adalah Imam Sapi’i, lelaki yang memilih jalan mempertahankan warisan leluhur komunitas Turonggo Sekar Budoyo.

Langkah kaki pertama ketika menginjakkan kaki di halaman rumah ketua sekaligus penggerak utama kelompok jaranan, Imam Sapi’i langsung terdengar samar suara gamelan. Aroma dupa menyelinap di antara semilir angin sore. Sesosok pria paro baya itu menyambut dengan senyum hangat di bawah rindang pohon depan rumah yang juga menjadi tempat latihan jaranan.

"Jaranan ini sudah ada sejak tujuh tahun lalu, tapi menggunakan nama Turonggo Sekar Budoyo baru empat tahun terakhir," ungkapnya.

Berawal dari keikutsertaannya dalam kelompok jaranan di Selopuro yang akhirnya bubar, Imam bertekad melanjutkan seni ini agar tidak punah. Dia menjelaskan bahwa "sekar" berarti bunga dan "budoyo" adalah budaya. Filosofinya, budaya ini harus terus mekar dan lestari seperti bunga yang tak pernah layu.

Di tengah gempuran modernisasi yang mengubah wajah jaranan menjadi lebih atraktif dengan sentuhan dangdut dan unsur kekinian, Imam justru kukuh mempertahankan tarian klasik. "Biarpun jarang, tetap harus ada yang menjaga gaya lama ini," tegasnya.

Jaranan putra di kelompok ini tetap membawakan tarian jaranan Jawa klasik, sementara penari perempuan membawakan tari jaranan Senterewe. Tari Barong juga masih mempertahankan gaya Barongan Karanggayam yang klasik. Semua dilakukan agar ciri khas jaranan lama tetap hidup.

"Sekarang banyak yang ikut gaya Kedirian dengan kuda besar. Saya tetap mempertahankan gaya Blitaran dengan kuda yang lebih kecil agar tarian lebih maksimal," ujarnya.

Tak mudah menjaga seni klasik di era modern. Kelompok ini memiliki sekitar 50 anggota, terdiri dari pemain, penabuh gamelan, sinden, dan lainnya. Namun, tak ada pemain cadangan. Jika ada tanggapan, semua harus tampil. Latihan pun kini hanya dilakukan dua kali sebelum pentas, karena hampir semua personel sudah mahir.

“Hanya saja peralatan yang digunakan masih kurang. Gamelan belum lengkap, belum punya gong besar, demung, dan saron. Sound system juga kurang maksimal, itu pun milik orang," ungkapnya.

Selama ini, semua perlengkapan dibeli dari uang hasil tanggapan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit. Ketika ditanya bantuan dari pemerintah pria ramah ini hanya menggeleng dan tersenyum getir.

"Mengajukan ke dinas secara langsung belum pernah, semua beli sendiri. Tentu kami juga berharap pemerintah sudi kiranya melirik kesenian tradisional yang benar-benar klasik ini," harapnya.

Menurut dia, jaranan di Blitar terus berkembang dengan pesat, tapi tak jarang menimbulkan gesekan. "Sekarang banyak yang rawan tawuran. Saya ingin menyuguhkan tontonan yang tertata dan memberikan tuntunan. Makanya saya selalu tampil tanpa pagar, penonton bebas menikmati tanpa ada ketegangan," tandasnya.

Meski tetap setia pada gaya klasik, bukan berarti kelompok ini tak ingin berkembang. Namun, bukan dengan ikut-ikutan tren jaranan modern. "Kalau ikut tren yang sudah ada, nanti malah sama seperti yang lain. Saya ingin tetap mempertahankan ciri khas sendiri," terangnya.

Untuk promosi, Turonggo Sekar Budoyo masih mengandalkan cara tradisional. "Biasanya hanya lewat HP dan membuat poster sendiri. Belum ada media sosial. Dokumentasi juga belum ada, kecuali kemarin saat tampil di Kirab Goa Tumpeng, ada YouTuber yang mengabadikan pertunjukan kami,” ungkapnya. 

Di tengah keterbatasan, kecintaan komunitas ini terhadap jaranan klasik tak pernah surut. Dia terus menjaga warisan budaya ini, memastikan bahwa jejak jaranan klasik tetap ada di Blitar. "Selama masih ada yang mau menari, saya akan tetap menjaga budaya ini," pungkasnya. (*/ady)

Baca Juga: Ruangan Biro Humas ATR/BPN Terbakar, Menteri Nusron: Api Sudah Berhasil Dipadamkan dengan Cepat

Editor : Anggi Septian A.P.
#Jaranan Klasik Khas Blitar #Komunitas Turonggo Sekar Budoyo