Ngopi terus, kerja kapan?
"Lho, justru dari ngopi itu kadang kerjaan malah jadi jalan."
Di desa, acara ngopi biasanya di warung atau teras rumah, duduk lesehan, kadang sambil bakar rokok atau makan gorengan. Dari luar, kelihatannya cuma duduk-duduk, ketawa-ketawa, malas-malasan. Tapi coba deh dengar isinya kadang dari gelas kopi itu muncul rencana panen, obrolan soal ternak, bahkan kerjasama beli pupuk bareng biar murah.
Ngopi itu bukan sekadar ngopi. Ada yang datang bawa keresahan, pulang bawa keputusan. Karena di balik pahitnya kopi, ada rasa tenang yang bikin pikiran jernih. Kata orang kota, itu karena kafein—bikin otak melek, hati santai, dan mulut lebih ringan buat negosiasi.
Bahkan sekarang, ngopi bisa jadi ajang kenalan sama calon relasi bisnis. Nongkrong di kafe, bawa laptop, ngobrol pelan tapi serius. Kelihatan santai, tapi sebenernya lagi bikin deal besar.
Jadi kalau ada yang bilang "ngopi itu cuma buang waktu", coba ajak dia sekali ikut ngopi bareng anak desa. Biar tahu, kadang keputusan penting itu nggak lahir di ruang rapat—tapi di bawah pohon, di samping tungku, ditemani kopi tubruk dan suara jangkrik.
Logikanya sederhana:
"Kalau perut bisa lapar, pikiran juga bisa tegang. Nah, kopi itu ibarat nasi buat pikiran. Biar kenyang sebelum mikir berat."
-------------------------------------
Oleh : Yan Christanto
Editor : Fuad Abida