Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Main Isap atau Main Bisnis? Logika Rokok di Tangan Anak Sekolah

Fuad Abida • Jumat, 23 Mei 2025 | 21:35 WIB
Photo
Photo

BLITAR - Di kampung kami, ngerokok itu semacam "ritual dewasa". Dari yang iseng-iseng waktu nongkrong, sampai yang serius nyembunyiin batang rokok di saku celana seragam. Katanya sih biar kelihatan jantan. Katanya lagi, biar diterima di lingkaran tongkrongan. Tapi... emang sebatang rokok bisa bikin kita naik kasta?

Padahal, ngerokok itu ya gitu-gitu aja. Beli, bakar, hisap, buang. 10 menit waktu melayang, paru-paru kena serangan, dompet makin tipis. Ironisnya, yang jual rokok justru makin gemuk keuntungannya.

Coba pikir, 1 bungkus rokok isi 12 batang, harga 25 ribu. Kalau sehari habis 1 bungkus, sebulan bisa tembus 750 ribu. Duit segitu kalau dipakai buat modal usaha kecil-kecilan? Bisa jualan es teh kekinian, atau beli bahan bikin konten YouTube. Wkwkwkwk logika sederhananya begitu, namun yaa (piker sendir saja) wkwkwkwk ngerokok udah kayak kebiasaan yang susah lepas.

Anak sekolahpun kadang tahu risikonya, tapi tetap dilakuin. Kayak nanem padi di sawah yang udah retak-retak. Ditanem sih, tapi nggak bakal panen.

Sementara itu, di sisi lain, pabrik rokok berdiri megah. Gaji karyawannya stabil, bisnisnya jalan terus, bahkan banyak anak muda justru pengen kerja di perusahaan rokok. Lah kok lucu ya? Yang ngisap jadi korban, yang bikin malah panen keuntungan.

Jadi pertanyaannya: kamu mau terus jadi pemain isap, atau mulai mikir jadi pemain bisnis?

LOGIKA ADALAH... Mengisap rokok mungkin bikin kelihatan dewasa, tapi nahan diri dari kebiasaan itu butuh kedewasaan yang sesungguhnya. Di desa, kami diajarin: api itu buat masak, bukan buat nyakitin diri pelan-pelan.

Eaaaaaaaaaa kayak rasa cintanya dia, harusnya untukmembahagiakan, bukan untuk……………..

-----------------------------------------------------

Oleh : Yan Christanto

Editor : Fuad Abida
#rokok #blitar #ngerokok