Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Majapahit & Harvard: Dua Jejak Besar, Satu Pertanyaan Bagi Bangsa

Fuad Abida • Senin, 26 Mei 2025 | 14:00 WIB
Photo
Photo

BLITAR - Di tengah hiruk-pikuk perkembangan zaman, isu pendidikan dan sejarah selalu menjadi dua sisi mata uang yang tak pernah habis untuk dibahas. Namun menarik ketika kita membandingkan dua entitas besar dari dua benua: Universitas Harvard di Amerika dan Kerajaan Majapahit dari Nusantara.

Meski berbeda dalam bentuk, tujuan, dan konteks zaman, keduanya berdiri sebagai simbol kejayaan dan peradaban pada masanya.

Harvard berdiri pada tahun 1636 di tanah jajahan Inggris yang saat itu masih berupa hutan belantara dan perkampungan kecil. Didirikan untuk mencetak pendeta-pendeta terpelajar dari kalangan Puritan, kampus ini perlahan menjelma menjadi pusat keilmuan dunia, mencetak pemimpin, inovator, dan ilmuwan yang mengubah sejarah.

Dari kampus inilah lahir delapan Presiden Amerika Serikat, ribuan CEO, penemu, dan tokoh-tokoh besar yang menggerakkan ekonomi digital dunia hari ini.

Sementara itu, jauh sebelumnya, tahun 1293, di tanah Jawa bagian timur berdirilah Kerajaan Majapahit. Sebuah imperium besar yang lahir dari bara keruntuhan Singasari, dibangun dengan visi besar untuk menyatukan Nusantara. Lewat sumpah Gajah Mada, Majapahit tumbuh bukan hanya sebagai kekuatan politik dan militer, tapi juga budaya dan identitas bangsa.

Dari Majapahit, kita mengenal istilah Bhineka Tunggal Ika, konsep persatuan dalam keberagaman yang menjadi dasar negara hari ini.
Namun pertanyaan muncul:
Mengapa Harvard terus berkembang dan jadi simbol masa depan, sementara Majapahit hanya tinggal ukiran sejarah?

Menurut logika anak desa, ini bukan soal siapa lebih hebat, tapi soal siapa yang terus menjaga warisannya dan siapa yang membiarkannya tinggal dalam buku pelajaran. Di desa, banyak anak muda yang hafal nama kampus Ivy League di luar negeri, tapi gagap ketika ditanya siapa Mahapatih Gajah Mada atau bagaimana Majapahit menyatukan ratusan kerajaan kecil.

Ironisnya, kita sering berbangga hati saat anak bangsa diterima kuliah di Harvard, tapi lupa membangun universitas kita sendiri dengan kualitas yang layak dibanggakan. Kita sibuk menghafal sejarah orang lain, tapi enggan merawat sejarah sendiri.

Bayangkan, jika Majapahit dahulu mendirikan pusat ilmu setara dengan Harvard, dan kita menjaga tradisi keilmuannya—bukan hanya lewat artefak, tapi juga inovasi dan pemikiran—mungkinkah hari ini Nusantara menjadi pusat peradaban dunia?

LOGIKA ADALAH…
Jika Harvard bisa tumbuh dari tanah asing yang dulu hanyalah hutan, maka Majapahit semestinya bisa tumbuh kembali dari tanah warisan sejarah yang penuh makna—asal kita mau belajar, merawat, dan membangkitkannya.

-----------------------------------------------------

Oleh : Yan Christanto

Editor : Fuad Abida
#Harvard #majapahit #blitar #pendidikan