BLITAR - Di sebuah tongkrongan warung kopi desa, pertanyaan sederhana terlontar: "Kalau 9 dari 10 orang mau jadi Soekarno, dan 1 sisanya mau jadi bosnya Soekarno, lalu siapa yang akan menjalankan ide dan gagasan Soekarno?"
Pertanyaan ini mungkin terdengar seperti candaan khas anak desa yang nyeleneh. Tapi di balik gelak tawa, ada logika tajam yang patut direnungkan. Kita hidup di zaman di mana semua orang ingin menjadi pemimpin. Tapi lupa, bahwa pemimpin pun hanya akan berjalan sejauh tim yang bersamanya.
Mari kita tengok sejarah. Bung Karno adalah orator ulung, penggagas hebat, visioner kelas dunia. Tapi tanpa Mohammad Hatta yang tenang dan diplomatis, tanpa Sjahrir yang tajam secara strategi, tanpa para pemuda yang berani menculik beliau ke Rengasdengklok, dan tanpa rakyat yang rela berjuang, mungkinkah kemerdekaan bisa tercapai?
Logika Anak Desa bilang begini:
“Kalau semua orang mau pegang mikrofon, siapa yang nyiapin panggungnya? Kalau semua mau duduk di podium, siapa yang ngecat mejanya? Kalau semua mau difoto, siapa yang jadi fotografernya?”
Ambisi memang penting. Kita diajarkan sejak kecil untuk bermimpi tinggi. Tapi logika sederhana mengingatkan bahwa satu mimpi besar butuh banyak orang yang rela bekerja dalam diam.
Sayangnya, zaman sekarang media sosial memunculkan ilusi bahwa semua orang harus jadi pusat perhatian. Semua pengen jadi CEO, motivator, influencer, penggagas gerakan besar. Tapi kita lupa bahwa dalam tim, posisi penting bukan hanya yang terlihat di depan kamera, tapi juga mereka yang memastikan semuanya berjalan di balik layar.
Lalu, bagaimana jika satu dari mereka mendapat jabatan pemimpin? Logika Anak Desa lagi-lagi kasih petuah sederhana: “Kalau kamu naik jabatan karena kerja tim, ya jangan amnesia sosial. Ingat, kamu berdiri tinggi karena ada yang rela jadi alas.”
Karena itu, sistem kerja yang sehat bukan tentang one man show, tapi tentang kolaborasi yang saling menutupi kekurangan. Kerja tim yang ikhlas, yang tak selalu haus pengakuan, justru akan menciptakan hasil yang jauh lebih besar dari sekadar pencapaian pribadi.
LOGIKA ADALAH...
Kalau semua mau jadi Soekarno, jangan lupa: Soekarno pun butuh tim. Karena sejarah besar bukan ditulis satu orang, tapi oleh barisan orang yang rela bekerja bersama.
-----------------------------------------------------
Oleh : Yan Christanto
Editor : Fuad Abida