Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Rumah Loji dan Misteri di Baliknya: Menelusuri Jejak Spiritual di Blitar

Anggi Septiani • Jumat, 11 Juli 2025 | 06:30 WIB

Sejarah Rumah Loji dan Misteri di Baliknya: Menelusuri Jejak Spiritual di Blitar
Sejarah Rumah Loji dan Misteri di Baliknya: Menelusuri Jejak Spiritual di Blitar

BLITAR – Di tengah sejuknya udara perkebunan Karanganyar, Kabupaten Blitar, berdiri kokoh sebuah rumah tua bergaya kolonial yang menyimpan banyak cerita. Warga sekitar menyebutnya sebagai Rumah Loji bangunan yang konon sudah berdiri sejak abad ke-19 dan menjadi saksi bisu masa kejayaan perkebunan kopi di masa Hindia Belanda.

Namun, lebih dari sekadar bangunan tua, rumah ini menyimpan jejak sejarah yang lebih dalam, bahkan misterius.

Nama "loji" yang disematkan pada bangunan ini bukan tanpa alasan. Dalam bahasa Jawa, istilah "loji" memang digunakan untuk menyebut rumah besar peninggalan Belanda.

Baca Juga: Laka Talun, Rabu Malam: Tak Pakai Helm, Pemuda Wlingi Tewas usai Tabrak Plonto

Tetapi, bila ditilik lebih jauh, kata "lodge" dalam bahasa Inggris juga memiliki makna spesifik, yakni tempat berkumpulnya anggota Freemasonry—organisasi rahasia yang berkembang sejak abad ke-16 di Eropa dan sering dikaitkan dengan berbagai simbolisme dan ritual spiritual.

Fungsi Rumah Loji dari Masa ke Masa

Secara historis, Rumah Loji di Perkebunan Karanganyar berfungsi sebagai tempat tinggal para manajer Belanda yang mengelola area perkebunan kopi pada masa kolonial.Struktur bangunan yang megah, pilar tinggi, jendela besar, dan dekorasi khas Eropa mencerminkan status sosial penghuninya.

Setelah Indonesia merdeka dan perkebunan dikelola oleh pihak lokal, rumah ini kemudian dihuni oleh keluarga pengelola perkebunan generasi penerus.

Bahkan hingga kini, sebagian bangunan masih digunakan sebagai rumah tinggal, museum mini, dan kantor pengelola Perkebunan Karanganyar.

Baca Juga: Pro Kontra Sound Horeg, Akhirnya MUI Duduk Bersama: Undang Pakar THT Hingga Mas Bre

Namun fungsi bangunan ini tidak berubah secara drastis. Ia tetap menjadi pusat kendali aktivitas perkebunan dan kini juga menjadi bagian dari rute wisata sejarah bagi para pengunjung yang ingin mengenal sisi lain Blitar.

"Loji ini sejak dulu memang jadi pusat segalanya. Kalau zaman Belanda, ya jadi rumah tinggal bos-bosnya. Sekarang jadi tempat tinggal dan museum kecil," ujar seorang pengelola yang juga cucu dari manajer lokal pasca-kemerdekaan.

Cerita Pribadi dari Dalam Rumah

Pengelola saat ini mengaku bahwa ia tinggal di Rumah Loji tersebut sejak kecil. Banyak kenangan masa kecil yang melekat, termasuk suasana bangunan yang sering kali memberi kesan mistis, terutama di malam hari.

"Saya dari kecil tinggal di sini. Ya namanya rumah tua, ada aura yang beda. Tapi kami sudah terbiasa. Kadang-kadang pengunjung yang baru datang malah merasa merinding duluan," ujarnya sambil tersenyum.

Rumah Loji terdiri dari beberapa ruangan besar. Salah satunya bahkan dikenal sebagai “Kamar Bung Karno”, tempat di mana Presiden Soekarno pernah beristirahat pada tahun 1957 ketika melakukan kunjungan nasionalisasi perkebunan dari pihak asing ke pengelolaan bangsa sendiri.

Baca Juga: Mata Merah Menyala: Sosok Nenek Misterius di Jalur Sunyi Blitar-Malang

Bangunan ini juga menyimpan arsip dan dokumentasi keluarga Belanda, seperti foto-foto kuno manajer pertama, hingga catatan pernikahan campuran antara orang Eropa dan pribumi.

Di salah satu sudut rumah, tergantung potret Paul Konstans Schaff, manajer Belanda yang menikahi wanita lokal bernama Painem. Kisah cinta lintas bangsa itu turut menjadi bagian dari mozaik sejarah Rumah Loji.

Loji dan “Lodge”: Kemungkinan Keterkaitan dengan Freemason

Istilah “loji” memang terasa wajar digunakan untuk rumah besar bergaya kolonial. Namun jika mengingat bahwa Freemason menyebut tempat pertemuan mereka sebagai “lodge”, maka tidak heran jika muncul dugaan bahwa bangunan ini pernah atau mungkin digunakan oleh kalangan Freemason di masa lalu.

Apalagi jika ditelusuri ke sejarah panjang Perkebunan Karanganyar, yang didirikan pada 1874 oleh perusahaan kolonial Belanda.

Banyak perusahaan kolonial pada masa itu memiliki hubungan tidak langsung dengan anggota Freemasonry, terutama melalui jaringan Ordo Singa Belanda—penghargaan Kerajaan Belanda yang juga diberikan pada tokoh-tokoh yang tergabung dalam organisasi persaudaraan tersebut.

Baca Juga: Mata Merah Menyala: Sosok Nenek Misterius di Jalur Sunyi Blitar-Malang

“Kalau melihat struktur bangunannya, detailnya, serta nama yang disematkan, sangat mungkin ini lebih dari sekadar rumah tinggal. Bisa jadi dulu memang digunakan untuk pertemuan eksklusif,” kata seorang peneliti sejarah lokal.

Meski belum ada bukti otentik bahwa Rumah Loji ini adalah lodge resmi Freemasonry, kaitannya dengan bangunan sejenis di kota-kota besar seperti Batavia (Jakarta), Semarang, dan Surabaya menambah rasa penasaran para peneliti sejarah dan penggemar teori konspirasi.

Penampakan dan Cerita Spiritual

Rumah tua, sejarah panjang, dan atmosfer hening—tiga kombinasi ini menjadikan Rumah Loji kental dengan nuansa spiritual dan mistis.

Tidak sedikit pengunjung yang mengaku merasakan aura berbeda saat memasuki ruangan tertentu, khususnya kamar yang dulunya digunakan oleh keluarga Belanda.

“Saya pernah dengar suara langkah di lorong padahal semua orang sedang duduk di luar. Tapi ya, kami anggap itu angin saja,” cerita seorang pemandu wisata yang biasa mengantarkan tamu ke Rumah Loji.

Baca Juga: Warga Desa Sumberagung Kabupaten Blitar Ingin Jalur Konstruksi Cor Dituntaskan

Cerita lain menyebutkan adanya penampakan bayangan putih di dekat tangga utama, atau suara pintu terbuka sendiri saat malam hari.

Meski belum pernah ada pembuktian secara ilmiah, kisah-kisah ini justru menambah daya tarik bangunan bagi wisatawan yang tertarik pada wisata sejarah sekaligus mistik.

Menjaga Warisan, Menyimpan Rahasia

Kini, Rumah Loji di Perkebunan Karanganyar bukan hanya sekadar bangunan tua. Ia menjadi bagian dari warisan sejarah Blitar yang menyimpan banyak cerita. Mulai dari kolonialisme, kemerdekaan, hingga misteri simbol-simbol yang belum sepenuhnya terungkap.

Dengan membuka Rumah Loji sebagai bagian dari rute wisata, pengelola berharap generasi muda bisa memahami bahwa sejarah tidak selalu kaku dan formal.

Di balik tembok dan jendela besar itu, terdapat kisah personal, spiritual, bahkan konspiratif yang membuat Blitar tak kalah menarik dari kota-kota besar lainnya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#belanda #Kejayaan #blitar #abad #LOJI #rumah #berdiri #Hindia #karanganyar #perkebunan #ke 19 #bangunan #Sejak