Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Makam W. Smith dan Simbol Latin Misterius: Jejak Tersembunyi di Perkebunan Karanganyar Blitar

Anggi Septiani • Jumat, 11 Juli 2025 | 05:00 WIB

Makam W. Smith dan Simbol Latin Misterius: Jejak Tersembunyi di Perkebunan Karanganyar Blitar
Makam W. Smith dan Simbol Latin Misterius: Jejak Tersembunyi di Perkebunan Karanganyar Blitar

BLITAR – Di tengah rindangnya pepohonan dan hamparan hijau Perkebunan Karanganyar, Kabupaten Blitar, berdiri sebuah nisan tua yang berbeda dari makam-makam pada umumnya.

Berbentuk sederhana namun kuat, nisan itu memuat simbol dan tulisan Latin yang hingga kini menyimpan misteri. Nama yang tertera di batu nisan itu adalah W.

Smith, seorang tokoh kolonial yang diduga memiliki hubungan dengan Ordo Singa Belanda dan organisasi spiritual yang kontroversial: Freemason.

Baca Juga: Laka Talun, Rabu Malam: Tak Pakai Helm, Pemuda Wlingi Tewas usai Tabrak Plonto

Nisan tersebut menjadi perhatian setelah ditemukan di area yang dinamai Fredestein, yang dalam bahasa Belanda berarti “taman kedamaian”.

Tempat itu disebut-sebut sebagai area pemakaman peninggalan zaman Belanda di tengah kompleks perkebunan yang berdiri sejak tahun 1874.

Nama W. Smith dan Jejak Ordo Singa Belanda

Dari hasil penelusuran sejarah dan penggalian dokumen tua, nama W. Smith mengacu pada Way Smith, adik dari J.J.

Smith Jr, seorang tokoh penting kolonial Belanda yang berkontribusi dalam pengembangan Kebun Raya Bogor dan diduga juga merancang Kebun Raya di Blitar (yang kini dikenal sebagai Kebon Rojo).

Kliping koran berbahasa Belanda dari tahun 1897 yang ditemukan di arsip digital menunjukkan bahwa Way Smith meninggal pada 29 Maret 1897 dan dimakamkan di Karanganyar, Blitar.

Baca Juga: Pro Kontra Sound Horeg, Akhirnya MUI Duduk Bersama: Undang Pakar THT Hingga Mas Bre

Saudaranya, J.J. Smith Jr, diketahui merupakan anggota Ordo Singa Belanda (Order of the Dutch Lion), sebuah penghargaan kehormatan kerajaan yang juga dikaitkan dengan jaringan Freemason di Eropa.

“Kami menduga bahwa W. Smith merupakan bagian dari lingkaran elite kolonial yang punya koneksi kuat dengan pusat kekuasaan Belanda kala itu,” ungkap seorang peneliti sejarah lokal dari Blitar.

Simbol dan Tulisan Latin yang Menarik Perhatian

Hal yang membuat makam W. Smith menjadi sangat mencolok bukan hanya nama atau latar belakangnya. Tetapi justru ornamen dan ukiran tulisan Latin yang mengundang banyak tafsir.

Dua frasa yang terukir di batu nisan itu adalah:

Frasa pertama, "Amor Vincit Omnia", dalam bahasa Latin berarti "Cinta menaklukkan segalanya." Ungkapan ini pertama kali dikenal luas melalui karya pujangga Romawi, Vergilius (Virgil), dan menjadi semboyan dalam banyak komunitas spiritual dan kesenian Eropa.

Frasa ini juga sering digunakan dalam tradisi Freemason dan Theosofi, sebagai simbol dari persatuan, kedamaian universal, dan cinta kasih sebagai kekuatan tertinggi dalam kehidupan manusia.

Baca Juga: Lingkungan Warga di Wlingi Blitar Ini Punya Kegiatan Positif Isi Liburan Sekolah Anak-anak

Frasa kedua, "Acquisit in Pace", dapat diartikan sebagai “Mencapai kedamaian” atau “Beristirahat dalam damai”. Meski lebih jarang digunakan secara umum dibanding “Requiescat in Pace” (RIP), kalimat ini sarat makna dan kerap dijumpai pada makam anggota komunitas spiritual tertutup.

Simbol lain yang tak kalah mencolok adalah bentuk kolam bintang lima (pentagram) di dekat area makam. Simbol ini dalam tradisi esoterik digunakan sebagai lambang perlindungan dan keseimbangan, namun juga sering dikaitkan dengan simbol utama Freemasonry.

Meskipun tidak ada bukti konkret yang mengaitkan langsung simbol tersebut dengan organisasi tersebut, kemunculannya yang berulang di sekitar area perkebunan Karanganyar menambah panjang daftar dugaan.

Baca Juga: Dispendukcapil Kota Blitar Ingatkan Warga Risiko Nikah Tak Tercatat, Ini Dampaknya

Freemason dan Misteri di Blitar

Freemason adalah organisasi persaudaraan global yang didirikan pada abad ke-16 dan dikenal karena praktik-praktik simbolis dan ritual spiritual yang kompleks. Dalam sejarah kolonial Hindia Belanda, Freemason memiliki pengaruh yang cukup kuat di kalangan pejabat pemerintah, pengusaha, dan akademisi.

Banyak sumber menyebut bahwa para pendiri perkebunan besar di Pulau Jawa, termasuk Karanganyar, memiliki afiliasi dengan Freemason.

Hal ini diperkuat oleh arsitektur bangunan kolonial, pola tata ruang yang mengikuti simbolisme tertentu, dan kehadiran istilah “loji” yang mengacu pada “lodge”—tempat pertemuan anggota Freemason.

Baca Juga: Main Layangan Jam 12 Malam: Kehidupan Tak Masuk Akal di Desa Gaib

“Nisan W. Smith ini bukan sekadar penanda kematian seseorang. Ia adalah petunjuk penting akan eksistensi jaringan kolonial yang erat kaitannya dengan spiritualisme barat dan organisasi persaudaraan rahasia,” kata seorang antropolog budaya yang turut meneliti kawasan ini.

Sejarah yang Belum Tuntas

Hingga hari ini, belum ada catatan resmi dari pemerintah kolonial maupun institusi sejarah Indonesia yang menyatakan keterlibatan W.

Smith dalam Freemasonry. Namun kombinasi antara simbol pentagram, frasa Latin yang khas, dan keterkaitannya dengan tokoh-tokoh elit Ordo Singa Belanda membuat banyak pihak tertarik menelusuri lebih lanjut.

Pihak pengelola Perkebunan Karanganyar juga mengakui bahwa mereka tengah mendata dan mengarsipkan kembali dokumen-dokumen peninggalan zaman Belanda yang mungkin dapat memperjelas sejarah ini.

Baca Juga: Rekomendasi Cafe Bernuansa Tropis di Tengah Kota Blitar, Penasaran! Lokasinya Ada Disini

“Kami berharap masyarakat, terutama keturunan keluarga Belanda yang pernah tinggal di sini, bersedia berbagi dokumen sejarah yang bisa membantu kami menyusun kembali jejak masa lalu yang tersembunyi,” ujar perwakilan pengelola.

Wisata Sejarah yang Sarat Makna

Makam W. Smith kini menjadi bagian dari wisata sejarah Perkebunan Karanganyar, yang mempertemukan pengunjung dengan jejak kolonial, arsitektur kuno, serta narasi misteri yang memikat.

Para pengunjung yang datang tak hanya diajak menyesap kopi arabika Blitar yang nikmat, tapi juga merenung di hadapan nisan tua yang menyimpan pesan cinta dan kedamaian dari masa lalu yang belum sepenuhnya terungkap.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Berada #hamparan #di Tengah #dari #karanganyar #perkebunan #makam #hijau #pepohonan