BLITAR – Sebuah inovasi unik lahir dari Desa Minggirsari, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Warga setempat berani tampil beda dengan menghadirkan Wisata Desa bertema rafting yang diberi nama “Ngeliban”. Tidak hanya sekadar wisata air, Ngeliban menjadi simbol kearifan lokal yang menonjolkan identitas budaya desa di tengah tren wisata yang banyak memakai istilah asing.
Konsep Ngeliban sendiri datang dari keinginan warga untuk mem-branding kegiatan wisata dengan nama khas. Dalam tayangan channel YouTube PecahTelur, disebutkan bahwa rafting di Minggirsari tidak sekadar arung jeram, melainkan pengalaman berinteraksi langsung dengan sungai, alam, dan budaya lokal. “Kami sengaja tidak pakai istilah rafting karena ingin menonjolkan bahasa dan identitas sendiri,” ungkap salah satu pengelola kepada PecahTelur. Wisata Desa ini pun mendapat perhatian karena berani melawan arus tren bahasa global.
Tidak hanya nama yang unik, pengalaman wisata di Ngeliban juga berbeda. Jalur yang dilalui bukan sekadar sungai dengan arus deras, tapi juga menyuguhkan pemandangan tebing alami, kebun bambu, dan area papringan khas desa. PecahTelur menampilkan cuplikan wisatawan yang tampak antusias mencoba arung sungai ini. Mereka menyebut sensasinya “anti-mainstream” karena menggabungkan olahraga, petualangan, dan edukasi lingkungan dalam satu paket Wisata Desa.
Baca Juga: Tinggal Tanpa Dokumen Sah, WN Malaysia Diamankan Petugas Imigrasi Blitar
Branding Lokal yang Berani
Pemilihan kata “Ngeliban” bukan tanpa alasan. Menurut warga, istilah itu terinspirasi dari aktivitas bermain air di sungai (ngelibas arus) yang sejak lama dilakukan anak-anak desa. Dengan mengangkat nama ini, pengelola ingin menunjukkan bahwa desa punya cara sendiri mempopulerkan wisata.
Bahkan, Paguyuban Watu Bonang sebagai penggerak kegiatan ini sengaja memprioritaskan konten lokal dalam promosinya. Mereka ingin pengunjung merasakan sensasi bermain air ala warga desa, bukan sekadar turis. “Ngeliban itu kami persembahkan untuk menunjukkan desa juga bisa kreatif dan berdaya saing,” jelas Eko Ariyadi, Kepala Desa Minggirsari.
Dari Nol Hingga Jadi Magnet Wisata
Wisata Desa ini tidak langsung besar. Menurut tayangan PecahTelur, awalnya warga harus mengumpulkan modal secara swadaya. Lokasi yang digunakan adalah aliran sungai yang dulunya jarang dilirik. Namun berkat kerja sama, jalur dibersihkan, alat keselamatan disiapkan, dan konsep wisata diperkuat dengan sentuhan budaya lokal.
Kini, Ngeliban mulai dikenal luas. Selain wisata arung sungai, pengunjung juga disuguhi paket wisata edukasi seperti menanam sayuran, mengenal tanaman herbal, hingga menikmati kuliner khas desa. Pendapatan dari tiket wisata digunakan untuk mendukung kegiatan sosial dan perawatan sungai.
Filosofi Alam Sahabat Kita
Kekuatan lain dari Ngeliban adalah pesan yang ingin disampaikan: alam bukan musuh, melainkan sahabat. Dalam video PecahTelur, beberapa pengelola menjelaskan bahwa kegiatan ini juga untuk mengubah stigma sungai yang sering dianggap berbahaya menjadi ruang belajar dan bermain yang aman. “Kami ingin anak-anak muda tidak takut sungai, tapi bisa mencintai dan menjaganya,” tutur salah satu penggerak komunitas.
Pesan ini sejalan dengan tren ekowisata, di mana kunjungan wisata tidak hanya fokus pada hiburan, tetapi juga keberlanjutan. Dengan konsep Wisata Desa, Ngeliban mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan sungai dan menghormati alam sekitar.
Baca Juga: BKN Bapaknya ASN, dari Tempat Curhat hingga Penjaga Karir PNS: Harapan Honorer Jadi PPPK
Dampak Ekonomi untuk Warga
Seiring meningkatnya jumlah pengunjung, ekonomi desa pun ikut tumbuh. Warung makan sederhana, penyewaan alat, hingga pengrajin lokal mendapat manfaat. PecahTelur menyoroti adanya lapangan kerja baru bagi pemuda desa yang dulu merantau, kini kembali dan ikut mengelola wisata.
Beberapa pengunjung mengaku terkesan dengan keramahan warga dan harga yang terjangkau. “Rasanya beda, di sini kita disambut kayak keluarga,” kata seorang wisatawan dalam video. Ini menjadi nilai tambah yang sulit ditemukan di tempat lain.
Harapan ke Depan
Dengan potensi besar ini, pengelola berharap dukungan pemerintah daerah dan wisatawan untuk terus mengembangkan Ngeliban. Mereka berencana menambah wahana edukasi, memperkuat infrastruktur, dan mempromosikan desa sebagai destinasi wisata budaya dan alam.
Baca Juga: Monetize Tanpa Endorse, Kreator Digital Bisa Cuan Ratusan Juta Tanpa Modal
Namun, warga tetap menekankan pentingnya menjaga identitas. “Kami ingin tetap dikenal sebagai desa yang bangga dengan bahasa sendiri,” ujar Eko Ariyadi. “Ngeliban bukan hanya tentang wisata, tapi juga kebanggaan kami sebagai orang desa.”
Penutup
Di tengah gempuran istilah asing dalam dunia pariwisata, Desa Minggirsari berani tampil beda lewat Ngeliban. Inovasi ini bukan hanya menciptakan pengalaman unik bagi wisatawan, tetapi juga memperkuat ekonomi dan budaya lokal. Dengan mengusung Wisata Desa sebagai konsep utama, Minggirsari membuktikan bahwa kearifan lokal bisa menjadi daya tarik kelas nasional.
Editor : Anggi Septian A.P.