BLITAR – Kali Brantas, sungai yang dulu identik dengan arus deras dan cerita seram, kini menjelma jadi destinasi wisata edukasi yang ramah alam. Desa Minggirsari, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, mengubah wajah sungai ini lewat Wisata Desa bertajuk rafting Papringan. Tidak hanya menghadirkan petualangan, destinasi ini juga mengajarkan filosofi sederhana: alam adalah sahabat, bukan musuh.
Konsep rafting Papringan ini diulas dalam tayangan channel YouTube PecahTelur, yang memperlihatkan suasana berbeda di Kalibrantas. Wisata Desa ini dirancang untuk mengubah stigma lama masyarakat. “Dulu, orang selalu takut dengan sungai. Sekarang kami ingin orang belajar mencintai alam, bermain dengan sungai secara aman,” kata Eko Ariyadi, Kepala Desa Minggirsari, dalam wawancara dengan PecahTelur.
Dalam tiga menit pertama video, tampak warga dan wisatawan menikmati aliran sungai dengan ban karet dan rompi keselamatan. Mereka meluncur di jalur Papringan yang dinaungi rumpun bambu, menambah kesan alami. Wisata Desa ini bukan hanya soal petualangan air, tapi juga sarana edukasi lingkungan yang mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan dan keseimbangan ekosistem.
Baca Juga: Tinggal Tanpa Dokumen Sah, WN Malaysia Diamankan Petugas Imigrasi Blitar
Filosofi Alam Sahabat Kita
Paguyuban Watu Bonang, komunitas lokal yang menjadi penggerak, menyebut wisata ini lahir dari keinginan mengajak masyarakat menghormati sungai. “Kalibrantas tidak harus ditakuti. Dengan cara yang benar, sungai bisa jadi sumber kebahagiaan dan ilmu,” ungkap salah satu anggota dalam tayangan PecahTelur.
Di Papringan, wisatawan diajak mengenal flora dan fauna sekitar, termasuk tanaman bambu yang menjadi ikon lokasi. Rute rafting tidak hanya menantang, tapi juga menampilkan keindahan alam pedesaan yang jarang terlihat dari pinggir jalan. Filosofi yang diangkat sederhana: siapa yang menjaga alam, akan dijaga alam pula.
Dari Sungai Terlupakan Jadi Magnet Wisata
Sebelum dikenal, Kalibrantas lebih sering disebut sebagai sungai yang rawan banjir dan berbahaya. PecahTelur memaparkan bagaimana warga bergotong royong membersihkan jalur, menambah papan petunjuk, serta membuat sistem keselamatan yang terukur. Alat-alat sederhana seperti ban bekas dan pelampung dimanfaatkan untuk memperkenalkan olahraga air yang hemat biaya namun aman.
Kini, wisata ini mulai menarik pengunjung, baik dari Blitar maupun luar daerah. Beberapa wisatawan mengaku sengaja datang karena penasaran dengan konsep rafting desa yang unik. “Seru sekali, beda dengan rafting komersial. Di sini kita seperti belajar sambil bermain,” ujar seorang pengunjung yang terekam dalam video.
Wisata Desa yang Berdaya
Kehadiran rafting Papringan juga memantik semangat ekonomi kreatif. PecahTelur menyoroti bagaimana pemuda desa kembali pulang untuk menjadi pemandu wisata, pedagang lokal membuka warung, dan ibu-ibu desa memasarkan kuliner tradisional. Tiket masuk yang terjangkau tidak hanya dinikmati pengelola, tapi juga menjadi sumber dana untuk perawatan sungai.
Selain rafting, pengunjung dapat mencoba paket wisata edukasi seperti menanam pohon di bantaran sungai, belajar membuat kerajinan bambu, atau menikmati musik gamelan sederhana yang dimainkan warga. Semua ini memperkuat identitas Wisata Desa sebagai ruang belajar, bermain, dan menjaga budaya.
Baca Juga: Lantik Pejabat Struktural, Wamen Ossy Tekankan Dedikasi dan Integritas di Kementerian ATR/BPN
Edukasi dan Pesan Lingkungan
Paguyuban Watu Bonang berharap, lewat kegiatan ini, masyarakat terutama anak-anak muda bisa mengubah cara pandang terhadap sungai. “Sungai bukan tempat buang sampah, bukan momok. Ia teman kita, sumber kehidupan,” tegas Eko Ariyadi dalam video PecahTelur.
Beberapa program ke depan meliputi kampanye bersih sungai, sekolah alam untuk pelajar, hingga kolaborasi dengan komunitas lingkungan. Wisata Desa rafting Papringan menjadi contoh bahwa inovasi sederhana bisa mengubah stigma negatif menjadi kebanggaan bersama.
Harapan Warga
Warga Desa Minggirsari ingin wisata ini terus berkembang tanpa kehilangan jati diri. Mereka berharap dukungan pemerintah daerah dan pengunjung untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan lokasi. “Kami ingin Kalibrantas dikenal bukan karena seramnya, tapi karena ramahnya,” ujar seorang penggerak komunitas yang dikutip PecahTelur.
Baca Juga: BK dan PDIP Tak Kunjung Ambil Sikap terkait Legislator yang Punya Istri Siri
Kisah sukses ini menunjukkan bagaimana desa mampu mengubah keterbatasan menjadi peluang. Dari sungai yang dulu dianggap masalah, lahirlah wisata edukasi yang memadukan petualangan, budaya, dan kepedulian lingkungan.
Dengan rafting Papringan, Desa Minggirsari membuktikan bahwa potensi alam bisa diangkat menjadi daya tarik wisata tanpa merusak lingkungan. Mengusung konsep Wisata Desa, Kalibrantas kini menjadi sahabat yang mengajarkan harmoni antara manusia dan alam.
Editor : Anggi Septian A.P.