BLITAR – Di balik ramainya destinasi rafting Papringan di Desa Minggirsari, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, ada sosok yang jadi motor penggerak. Dialah Eko Ariyadi, kepala desa yang menjadikan sungai bukan sekadar aliran air, tapi sumber inspirasi dan penghidupan. Kisahnya diulas dalam channel YouTube PecahTelur, mengangkat perjalanan hidup yang sarat perjuangan dan pesan memotivasi.
Tak banyak kepala desa yang mau turun langsung membangun konsep Wisata Desa, apalagi dengan memanfaatkan sungai yang dulunya dianggap menyeramkan. Namun Eko Ariyadi berani memulai. Dalam tayangan PecahTelur, ia bercerita bagaimana ide rafting Papringan dan pasar wisata di pinggir Kali Brantas lahir dari pengalaman hidup yang penuh liku. “Sungai ini dulu tak berarti apa-apa. Sekarang jadi simbol kebersamaan,” katanya.
Dari video tersebut terlihat jelas, Wisata Desa bukan hanya produk pariwisata, tapi cermin perjalanan hidup seseorang. Tumbuh dari keluarga sederhana, Eko pernah menjadi pengamen jalanan, pekerja lepas di dunia advertising, hingga akhirnya kembali ke desa dengan semangat memajukan kampung halaman. PecahTelur merekam kisahnya dengan pendekatan human interest yang menyentuh.
Eko Ariyadi bukan terlahir dengan fasilitas memadai. Ia pernah mengais rezeki di jalanan, bernyanyi dari satu tempat ke tempat lain untuk membantu keluarga. Dalam wawancara PecahTelur, ia mengenang masa itu sebagai “sekolah kehidupan” yang mengajarkan kegigihan dan empati.
Pekerjaan di bidang advertising kemudian memperkenalkannya pada dunia kreatif. Meski pekerjaan itu membawanya jauh dari desa, ia justru merasa panggilan hidupnya ada di kampung halaman. “Saya belajar banyak, tapi hati saya selalu tertinggal di Minggirsari,” ujarnya.
Titik balik terjadi ketika ia memutuskan pulang. Melihat potensi sungai dan semangat warga, Eko menginisiasi rafting Papringan dan pasar desa. Ia sadar bahwa untuk maju, desa harus punya identitas unik. Dalam video PecahTelur, terlihat ia tak segan ikut turun tangan membersihkan sungai, memimpin rapat warga, hingga mempromosikan destinasi lewat media sosial.
Hasilnya, Wisata Desa Kalibrantas kini dikenal luas sebagai ikon baru Blitar. Dari rafting di sungai yang asri, hingga pasar wisata yang menjual kuliner dan kerajinan lokal, semua lahir dari tangan warga yang dipimpin kepala desa visioner.
Bagi Eko, Wisata Desa bukan sekadar destinasi. Ia menyebutnya sebagai cara mengembalikan martabat desa. “Kalau kita mau maju, jangan tunggu bantuan. Mulai dari apa yang ada,” tegasnya dalam video PecahTelur. Filosofi ini juga tampak dalam setiap sudut wisata: papan petunjuk yang edukatif, spot foto dengan pesan lingkungan, hingga aktivitas seperti menanam bambu di bantaran sungai.
Keberanian melawan arus menjadi daya tarik tersendiri. PecahTelur menyoroti bagaimana Eko memilih istilah lokal seperti “ngeliban” untuk tubing dan rafting, sebagai cara melestarikan bahasa sekaligus branding yang khas.
Kini, Wisata Desa Minggirsari tak hanya jadi kebanggaan lokal, tapi juga sumber ekonomi baru. Pemuda kembali ke desa untuk menjadi pemandu, ibu-ibu membuka warung, dan UMKM tumbuh subur. Video PecahTelur menunjukkan geliat pasar setiap akhir pekan, dengan pengunjung dari Blitar dan luar kota.
Pendapatan dari wisata digunakan untuk pengembangan fasilitas, beasiswa, hingga kegiatan sosial. Semua itu, kata Eko, tidak akan terjadi tanpa kebersamaan. “Ini kerja kolektif. Saya hanya memulai,” ungkapnya.
Kisah Eko Ariyadi menjadi contoh bahwa kepemimpinan yang berangkat dari pengalaman hidup bisa membawa perubahan besar. Dari pengamen hingga kepala desa, dari jalanan kota hingga arus sungai desa, perjalanan itu memberi bukti bahwa mimpi bisa tumbuh di tanah sendiri.
PecahTelur menutup liputannya dengan pesan sederhana dari Eko: “Jangan malu pulang ke desa. Justru di desa, kita bisa jadi diri sendiri dan bermanfaat untuk banyak orang.”
Cerita perjuangan Eko Ariyadi mengajarkan bahwa destinasi wisata hebat lahir dari niat tulus dan keberanian memulai. Lewat rafting Papringan dan pasar Kalibrantas, ia menjadikan Wisata Desa bukan hanya soal rekreasi, tapi juga tentang menghargai perjalanan hidup.
Editor : Anggi Septian A.P.