Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kisah Ahmad Nasa’i, CEO Mitraku yang Pernah Dicap Gelandangan Sebelum Sukses

Anggi Septiani • Rabu, 10 September 2025 | 13:00 WIB

Kisah Ahmad Nasa’i, CEO Mitraku yang Pernah Dicap Gelandangan Sebelum Sukses
Kisah Ahmad Nasa’i, CEO Mitraku yang Pernah Dicap Gelandangan Sebelum Sukses

BLITAR-Kesuksesan tidak selalu hadir tanpa luka. Ahmad Nasa’i, CEO Mitraku asal Ciamis, pernah mengalami masa sulit hingga dicap sebagai gelandangan oleh masyarakat sekitar. Kini, ia justru menjadi pemimpin perusahaan besar yang mampu melayani hingga 800 pelanggan per hari.

Kisah hidup Ahmad penuh lika-liku. Setelah menikah, ia pernah mengalami kebangkrutan dan kesulitan ekonomi. Untuk membeli beras saja, ia mengaku harus berjuang keras. “Saya pernah dianggap seperti orang gelandangan. Untuk makan sehari-hari saja sulit,” ungkap Ahmad mengenang masa kelamnya.

Namun, dari kondisi itu ia bangkit. Ahmad membuktikan bahwa kerja keras dan konsistensi bisa mengubah nasib seseorang. Kini, Mitraku yang ia dirikan mampu membiayai operasional besar, termasuk menggaji karyawan dengan total Rp60 juta sampai Rp65 juta per bulan.

Baca Juga: Tak Perlu Lagi Bawa Map Tebal, Sertifikat Tanah Kini Bisa di HP!

Perusahaan yang berdiri sejak 2012 itu berfokus pada penyediaan bahan kue dan kemasan makanan. Ide ini muncul karena saat itu di Ciamis sulit mendapatkan packaging modern sesuai kebutuhan pelaku usaha kuliner. Kehadiran Mitraku menjawab tantangan tersebut.

Ahmad sadar, generasi milenial membutuhkan kemasan yang menarik untuk produk mereka. “Kalau dulu cukup pakai daun atau plastik biasa, sekarang anak muda ingin kemasan yang keren. Itu peluang besar,” jelasnya.

Berbekal naluri dagang sejak kecil, Ahmad menekuni bisnis ini dengan penuh dedikasi. Ia pernah berjualan mercon saat SD, majalah bekas saat SMA, hingga makanan kecil di alun-alun. Dari pengalaman itu, ia belajar berkomunikasi dengan konsumen dan memahami dunia perdagangan secara langsung.

Baca Juga: Tidak Ada Kemenangan di Atas 10 Nyawa: Aktivis Muda Refleksikan Dampak Kerusuhan

Mitraku berkembang pesat berkat inovasi dan manajemen yang terencana. Tren tahu bulat yang sempat booming juga menjadi berkah. Permintaan kemasan meningkat drastis, membuat Mitraku kebanjiran order. Hampir 60 persen pelanggan Mitraku berasal dari generasi baru yang merintis usaha kafe atau kuliner kekinian.

Di balik kesuksesan, Ahmad tetap menghadapi tantangan. Perusahaannya pernah mengalami kerugian Rp1 juta hingga Rp5 juta per bulan akibat salah transaksi atau barang hilang. Namun ia menjadikan kerugian sebagai pembelajaran. Kini, angka kerugian bisa ditekan hingga Rp800 ribu per bulan saja.

“Kami selalu belajar dari kesalahan. Kalau ada barang yang mendekati masa kadaluarsa, langsung kami promosikan. Itu bukan kerugian, tapi bentuk apresiasi ke pelanggan,” jelas Ahmad.

Baca Juga: ⁠Jalur Wlingi Blitar-Ngantang Malang Segera Alih Status Jadi Jalan Provinsi

Fokus pada pelayanan menjadi kunci lain Mitraku bertahan. Ahmad rutin menegur dan membina karyawan jika ada komplain pelanggan. Menurutnya, senyum ramah dan pelayanan sopan jauh lebih berharga dibanding promosi besar-besaran.

Kini, Mitraku tidak hanya sekadar bisnis. Ahmad ingin perusahaannya membawa manfaat bagi banyak orang. Ia rutin menyalurkan donasi ke pesantren dan membayar pajak sesuai kewajiban. Baginya, keuntungan usaha bukan hanya untuk pribadi, tapi juga untuk lingkungan sekitar.

“Orang tua dulu selalu mengajarkan untuk berbagi. Jadi kalau ada keuntungan, harus ada hak untuk karyawan, hak untuk masyarakat, dan hak sosial,” katanya.

Baca Juga: Manajemen Jawa Pos Radar Blitar Berkunjung ke Unisba, Ini Misinya

Mimpi Ahmad tidak berhenti di sini. Ia ingin Mitraku berkembang menjadi perusahaan bonafide dengan cabang di berbagai kota. Lebih dari itu, ia bercita-cita mendirikan baking center atau sekolah kue agar generasi muda bisa belajar tanpa harus jauh-jauh ke kota besar.

Kisah Ahmad Nasa’i menjadi bukti nyata bahwa stigma buruk bukanlah akhir segalanya. Dari seseorang yang pernah dianggap gelandangan, ia menjelma menjadi pemimpin bisnis sukses yang memberi dampak positif bagi banyak orang.

Semangat pantang menyerahnya bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang tengah berjuang merintis usaha.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Mitraku #kisah inspiratif