BLITAR-Kesuksesan Ahmad Nasa’i tidak lahir secara instan. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan dunia perdagangan. Mulai dari menjual mercon saat SD, majalah bekas saat SMA, hingga membuka usaha kecil di alun-alun, semua ia jalani sebagai bagian dari perjalanan panjang menuju mimpinya menjadi pedagang besar.
Kini, Ahmad berhasil mewujudkan impian itu. Ia adalah CEO sekaligus pendiri Mitraku, perusahaan penyedia bahan kue dan kemasan makanan di Ciamis. Perusahaan yang berdiri sejak 2012 ini mampu melayani 700 hingga 800 pelanggan setiap hari.
“Saya sudah terbiasa berdagang sejak kecil. Rasanya betah berinteraksi dengan penjual dan pembeli. Itu jadi modal besar sampai sekarang,” kata Ahmad.
Baca Juga: 5.000 Orang Begadang Politik: YouTube Gantikan Televisi Sebagai Arena Demokrasi
Latar belakang keluarga pedagang membuatnya semakin dekat dengan dunia usaha. Ayah, ibu, dan kakeknya juga pedagang. Dari mereka, ia belajar cara mengelola barang dagangan, melayani pembeli, dan memperbaiki kesalahan agar tidak terulang.
Namun jalan menuju sukses penuh rintangan. Setelah menikah, Ahmad sempat bangkrut berkali-kali. Ia bahkan kesulitan membeli beras untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak jarang ia mendapat stigma buruk dari masyarakat. “Saya pernah dicap seperti orang gelandangan. Tapi saya tidak peduli, yang penting tetap berjuang,” ujarnya.
Dari pengalaman pahit itu, Ahmad semakin menguatkan tekad. Ia melihat peluang besar di sektor kemasan makanan. Saat itu, di Ciamis sulit mencari packaging yang sesuai kebutuhan pelaku usaha kuliner. Generasi muda mulai membuka kafe dan bisnis kuliner, tapi kesulitan mendapatkan kemasan menarik.
Baca Juga: Bikin Takjub, Cuma Pakai QR Code Tanah Bisa Dicek Keasliannya!
Melihat peluang itu, ia mendirikan Mitraku. Usahanya langsung tumbuh pesat, apalagi saat tren tahu bulat booming. Permintaan kemasan meningkat tajam, membuat Mitraku kebanjiran order. Sekitar 60 persen pelanggannya berasal dari generasi baru yang butuh kemasan modern untuk usaha mereka.
Meski berkembang, tantangan tetap ada. Mitraku pernah merugi Rp1 juta hingga Rp5 juta per bulan akibat salah transaksi atau barang hilang. Ahmad menjadikannya sebagai bahan evaluasi. Kini, kerugian berhasil ditekan hingga Rp800 ribu saja per bulan.
Rahasia keberhasilan Ahmad adalah fokus pada pelayanan dan perbaikan kualitas. Ia percaya, komplain dari pelanggan bukan masalah, melainkan masukan untuk berkembang. “Kalau ada komplain, saya senang. Itu berarti ada PR yang harus diperbaiki,” jelasnya.
Baca Juga: Hemat Biaya dan Bebas Ribet? Ini Fakta di Balik Sertifikat Tanah Elektronik
Ahmad juga menaruh perhatian besar pada karyawan. Ia membina mereka agar bisa melayani pelanggan dengan sopan. Mulai dari cara tersenyum, berbicara lembut, hingga memberikan pelayanan cepat menjadi standar di Mitraku.
Selain fokus pada bisnis, Ahmad juga menyalurkan sebagian keuntungan untuk kepentingan sosial. Mitraku rutin berdonasi ke pesantren dan membayar pajak sesuai kewajiban. Ia percaya, keberhasilan perusahaan harus memberi manfaat bagi banyak orang.
“Keuntungan itu ada hak karyawan, hak masyarakat, dan hak sosial. Jadi tidak boleh hanya dinikmati sendiri,” tegas Ahmad.
Baca Juga: Hemat Biaya dan Bebas Ribet? Ini Fakta di Balik Sertifikat Tanah Elektronik
Mimpinya kini semakin besar. Ahmad ingin Mitraku membuka cabang di berbagai kota dan mendirikan baking center untuk pelatihan generasi muda. Dengan begitu, Mitraku tidak hanya menjual produk, tetapi juga berbagi ilmu dan pengalaman.
Kisah Ahmad Nasa’i membuktikan bahwa kebiasaan berdagang sejak kecil bisa menjadi fondasi kesuksesan besar. Dari menjajakan mercon di sekolah dasar, ia kini menjelma menjadi pengusaha yang memberi inspirasi banyak orang.
Editor : Anggi Septian A.P.