BLITAR-Kerugian dalam bisnis adalah hal yang lumrah. Namun, tidak semua pengusaha mampu mengubah kerugian besar menjadi peluang perbaikan. Mitraku, perusahaan penyedia bahan kue dan kemasan makanan di Ciamis, berhasil melakukannya. Dari yang dulu merugi Rp5 juta per bulan, kini kerugian bisa ditekan hingga Rp800 ribu saja.
Perubahan signifikan itu terjadi berkat strategi jitu dari Ahmad Nasa’i, CEO sekaligus pendiri Mitraku. Ia mengakui, di awal perjalanan bisnis, banyak masalah muncul. “Kadang salah transaksi, kadang barang hilang. Dulu rugi bisa sampai Rp5 juta per bulan,” ujarnya.
Kondisi itu tentu membuat pusing. Apalagi usaha yang ia rintis dari nol harus menanggung beban operasional besar, termasuk gaji karyawan yang mencapai Rp60 juta per bulan. Namun Ahmad tidak menyerah. Ia justru menjadikan kerugian sebagai bahan evaluasi.
Baca Juga: 5.000 Orang Begadang Politik: YouTube Gantikan Televisi Sebagai Arena Demokrasi
Langkah pertama yang ia lakukan adalah memperketat pengawasan barang. Setiap produk yang hampir mendekati masa kadaluarsa langsung dipromosikan. Dengan begitu, barang tidak terbuang sia-sia. “Kalau dipromosikan, bukan dianggap rugi. Itu bagian dari pelayanan untuk pelanggan,” jelas Ahmad.
Strategi kedua adalah membangun sistem pencatatan yang lebih teliti. Nota transaksi harus selalu dicocokkan dengan barang yang diterima pelanggan. Jika ada selisih, segera diperbaiki agar tidak menimbulkan masalah berulang.
Selain itu, Ahmad juga membangun kedekatan dengan supplier. Barang yang masa edarnya mendekati habis bisa ditarik kembali. Hubungan baik ini membuat risiko kerugian semakin berkurang.
Baca Juga: Perbaikan Gedung DPRD Kabupaten Blitar Dilakukan secara Bertahap, Ketua: Ruang Paripurna Diutamakan
Kini, berkat perbaikan manajemen, angka kerugian bisa ditekan drastis. Dari Rp5 juta per bulan, turun menjadi hanya Rp800 ribu. Bahkan, angka itu tertutupi oleh keuntungan yang terus meningkat.
“Bagi saya, rugi kecil itu wajar. Yang penting bisa dikendalikan dan tidak mengganggu operasional besar,” kata Ahmad.
Perusahaan yang berdiri sejak 2012 ini terus berkembang pesat. Dengan rata-rata 700 hingga 800 pelanggan per hari, Mitraku menjadi salah satu pusat kebutuhan bahan kue dan kemasan makanan di Ciamis. Sebagian besar pelanggannya adalah generasi muda yang merintis usaha kafe atau kuliner modern.
Baca Juga: Hemat Biaya dan Bebas Ribet? Ini Fakta di Balik Sertifikat Tanah Elektronik
Bagi Ahmad, keberhasilan bukan hanya soal keuntungan. Fokus pada pelayanan menjadi kunci. Ia selalu menekankan kepada karyawan untuk melayani dengan ramah dan sopan. Setiap ada komplain, ia jadikan bahan evaluasi.
“Kalau ada pelanggan komplain, saya justru senang. Itu berarti ada PR yang harus diperbaiki. Dari situ kami belajar banyak,” tambahnya.
Tidak hanya itu, Mitraku juga berkomitmen pada tanggung jawab sosial. Sebagian keuntungan disalurkan untuk membantu pesantren dan kegiatan sosial lainnya. Ahmad percaya, keberhasilan perusahaan harus membawa manfaat bagi banyak orang.
Baca Juga: Kasus Anak Terlibat Anarkisme, Pemkot Blitar Siapkan 3 Psikolog Dampingi Anak-Anak
Langkah-langkah sederhana inilah yang membuat Mitraku bisa bertahan hingga 11 tahun lebih. Dari perusahaan kecil yang sering merugi, kini Mitraku bertransformasi menjadi usaha bonafide dengan manajemen yang semakin rapi.
Harapan Ahmad ke depan adalah membawa Mitraku membuka cabang di berbagai kota. Ia juga bercita-cita mendirikan baking center agar masyarakat bisa belajar tentang dunia kue tanpa harus ke luar daerah.
Kisah Mitraku membuktikan, kerugian bukan akhir dari perjalanan bisnis. Dengan strategi tepat, masalah bisa menjadi peluang untuk tumbuh. Dari rugi jutaan rupiah per bulan, kini tinggal ratusan ribu, dan justru semakin memperkuat fondasi usaha.
Editor : Anggi Septian A.P.