BLITAR-Fenomena tahu bulat yang digoreng dadakan sempat menjadi tren kuliner di berbagai kota Indonesia. Rupanya, tren unik ini membawa berkah tersendiri bagi Mitraku, perusahaan penyedia bahan kue dan kemasan makanan yang berlokasi di Baregbeg, Ciamis.
Mitraku mengalami lonjakan pesanan kemasan seiring maraknya pedagang tahu bulat. Para penjual jajanan populer ini membutuhkan kemasan praktis dan higienis agar produknya mudah dipasarkan.
“Waktu tahu bulat sedang booming, pesanan kemasan langsung melonjak tajam. Hampir setiap hari ada order baru dari pedagang keliling,” ujar Ahmad Nasa’i, CEO sekaligus pendiri Mitraku.
Baca Juga: E-Sertifikat Bikin Mafia Tanah Gigit Jari, Sengketa Bisa Tamat!
Menurut Ahmad, tren kuliner seperti tahu bulat menjadi bukti bahwa bisnis kemasan selalu mengikuti perkembangan pasar. Ia menegaskan, pengusaha harus jeli menangkap peluang meski datang dari hal yang sederhana.
“Bagi sebagian orang, tahu bulat hanya makanan ringan. Tapi bagi kami, itu peluang. Karena setiap produk butuh kemasan,” tambahnya.
Mitraku memang sejak awal dikenal fokus pada kebutuhan pelaku UMKM kuliner. Dari kafe modern hingga pedagang kaki lima, semua bisa mendapatkan bahan kue dan kemasan sesuai kebutuhan. Filosofi inilah yang membuat Mitraku bertahan lebih dari satu dekade.
Baca Juga: Realisasi PBB-P2 Kabupaten Blitar Baru Sekitar 63 Persen, Ini Faktornya
Sejak berdiri pada 2012, Mitraku telah melayani 700 hingga 800 pelanggan per hari. Sebagian besar pelanggan berasal dari kalangan muda yang berani mencoba bisnis baru. Dari sinilah perusahaan selalu mendapat tantangan untuk menyediakan inovasi produk.
Ketika tren tahu bulat meroket, Mitraku tidak hanya menjual kemasan standar. Mereka menghadirkan variasi, mulai dari kantong kertas hingga box kecil dengan desain menarik. Hal ini membuat para pedagang bisa lebih percaya diri menjajakan dagangan.
“Kalau kemasan bagus, pembeli lebih yakin. Produk juga terlihat lebih higienis. Jadi, meskipun sederhana, kemasan punya peran penting dalam penjualan,” jelas Ahmad.
Baca Juga: Perbaikan Gedung DPRD Kabupaten Blitar Dilakukan secara Bertahap, Ketua: Ruang Paripurna Diutamakan
Keberhasilan Mitraku merespons tren tahu bulat juga membuktikan fleksibilitas perusahaan. Alih-alih hanya mengandalkan pesanan rutin, Ahmad selalu menekankan kepada timnya untuk memantau apa yang sedang viral di masyarakat.
Dengan cara itu, Mitraku bisa terus relevan. Bahkan ketika tren tahu bulat mulai menurun, perusahaan tetap bertahan karena pelanggan lama sudah terbiasa berbelanja di sana.
Di balik kesuksesan itu, Ahmad tetap menekankan pentingnya pelayanan. Setiap komplain pelanggan dijadikan evaluasi. Karyawan juga diingatkan untuk melayani dengan sopan. Menurutnya, kepercayaan pelanggan jauh lebih berharga daripada keuntungan sesaat.
Baca Juga: Hemat Biaya dan Bebas Ribet? Ini Fakta di Balik Sertifikat Tanah Elektronik
“Kalau pelanggan puas, mereka akan kembali lagi. Itu yang menjaga Mitraku tetap hidup,” katanya.
Kini, Mitraku menjadi rujukan utama bagi banyak pelaku usaha kuliner di Ciamis dan sekitarnya. Dari tren jajanan dadakan seperti tahu bulat hingga kebutuhan harian kafe modern, semuanya bisa terlayani.
Ahmad juga berharap ke depan Mitraku bisa membuka cabang baru di luar Ciamis. Ia ingin mendirikan baking center agar masyarakat bisa belajar membuat kue sekaligus mengenal pentingnya kemasan dalam bisnis makanan.
Baca Juga: Terungkap! Bung Karno Pernah Menginap di Kamar Misterius Perkebunan Kopi Karanganyar Blitar
Kisah ini menjadi bukti bahwa tren kuliner bisa berdampak besar bagi sektor lain. Tahu bulat yang semula dianggap sekadar jajanan murah meriah, ternyata mampu menggerakkan roda ekonomi hingga level perusahaan penyedia kemasan.
Mitraku pun membuktikan, kesuksesan bukan hanya datang dari produk utama, melainkan dari kemampuan membaca kebutuhan pasar. Dari sebuah tren kecil, lahirlah peluang besar yang menguntungkan banyak pihak.
Editor : Anggi Septian A.P.