Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Petani Kemangi Blitar Ini Bikin Kaget, Dulu Buruh Pengupas Kelapa Bergaji Rp85 Ribu Sehari, Kini Raup Jutaan Rupiah dari Lahan

Muhammad Rusdian Nuzula • Kamis, 18 Juni 2026 | 15:15 WIB
Petani kemangi Blitar bernama Azis sukses beralih dari buruh kelapa menjadi petani dengan penghasilan jutaan rupiah. (PINTEREST)
Petani kemangi Blitar bernama Azis sukses beralih dari buruh kelapa menjadi petani dengan penghasilan jutaan rupiah. (PINTEREST)

BLITAR KAWENTAR - Kisah sukses petani kemangi Blitar kembali menjadi inspirasi bagi generasi muda yang sedang mencari peluang usaha menjanjikan. Berawal dari seorang buruh pengupas kelapa dengan penghasilan terbatas, Azis Subasri kini berhasil membangun masa depan yang lebih baik melalui sektor pertanian.

Perjalanan petani kemangi Blitar asal Desa Keras, Kabupaten Blitar, ini menunjukkan bahwa keberanian keluar dari zona nyaman dapat membuka peluang ekonomi yang lebih besar. Keputusan yang awalnya penuh keraguan justru menjadi titik balik dalam hidupnya.

Di tengah semakin berkembangnya teknologi dan modernisasi industri, kisah petani kemangi Blitar seperti Azis menjadi bukti bahwa sektor pertanian masih menyimpan potensi besar jika dikelola dengan serius dan penuh ketekunan.

Baca Juga: BBM B50 Resmi Meluncur 1 Juli 2026, Uji Coba Tembus 90 Persen dan Diklaim Hemat Devisa Rp157 Triliun, Berapa Harga Jualnya?

Dari Buruh Kelapa Menjadi Pekerja Terdampak Modernisasi

Sebelum menekuni dunia pertanian, Azis bekerja sebagai buruh borongan di sebuah pabrik pengolahan kelapa. Selama hampir dua tahun, ia mengandalkan tenaga untuk mengupas ratusan hingga ribuan butir kelapa setiap hari.

Pada masa itu, Azis mampu mengupas hingga seribu butir kelapa dalam sehari. Pekerjaan tersebut menjadi sumber penghasilan utama yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Namun keadaan berubah ketika perusahaan mulai menggunakan mesin pengupas kelapa modern. Kehadiran teknologi tersebut membuat kebutuhan tenaga kerja manual berkurang secara signifikan.

Akibatnya, pendapatan yang sebelumnya cukup stabil mulai menurun. Dalam sehari, Azis hanya mampu memperoleh penghasilan sekitar Rp85 ribu karena jumlah kelapa yang dikupas semakin sedikit.

Menurutnya, nominal tersebut mungkin cukup untuk kebutuhan pribadi. Namun ia mulai memikirkan masa depan, terutama jika harus membiayai keluarga, kebutuhan rumah tangga, hingga pendidikan anak kelak.

Tawaran yang Mengubah Jalan Hidup

Saat sedang mencari arah baru, kesempatan datang dari calon mertuanya. Azis ditawari untuk mengelola lahan kosong di kawasan Padangan Balong dan mencoba usaha pertanian.

Awalnya, tawaran itu tidak langsung diterima. Ia mengaku sama sekali tidak memiliki pengalaman bertani. Bahkan memegang cangkul pun belum pernah dilakukan sepanjang hidupnya.

Selain minim pengalaman, Azis juga memiliki anggapan bahwa bekerja di sawah identik dengan panas matahari dan pekerjaan berat. Namun sebuah kalimat sederhana dari calon mertuanya perlahan mengubah pola pikirnya.

“Masak kamu mau ikut kerja sama orang terus sampai tua?”

Kalimat tersebut menjadi motivasi besar yang mendorongnya berani mengambil langkah baru dan belajar dari nol.

Belajar Bertani Kemangi dari Nol

Dengan bimbingan sang mertua, Azis mulai memahami berbagai teknik dasar pertanian. Ia belajar mengolah tanah, memasang mulsa plastik, menanam bibit, hingga melakukan pemupukan dan perawatan tanaman.

Proses tersebut tidak berlangsung instan. Banyak hal baru yang harus dipelajari dan dipraktikkan secara langsung di lapangan. Namun ketekunan dan semangat belajar membuatnya terus berkembang.

Komoditas pertama yang dipilih adalah kemangi. Tanaman lalapan yang banyak dikonsumsi masyarakat itu ternyata memiliki prospek pasar yang cukup baik serta permintaan yang relatif stabil.

Panen Perdana Berbuah Manis

Baca Juga: BBM B50 Resmi Meluncur 1 Juli 2026, Uji Coba Tembus 90 Persen dan Diklaim Hemat Devisa Rp157 Triliun, Berapa Harga Jualnya?

Kerja keras Azis mulai menunjukkan hasil ketika memasuki masa panen pertama. Dari lahan sekitar 40 ru yang dikelolanya, ia mampu memperoleh pendapatan hingga Rp2 juta dalam satu minggu panen.

Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan penghasilannya saat masih bekerja sebagai buruh pengupas kelapa. Keberhasilan itu sekaligus membuktikan bahwa sektor pertanian dapat menjadi sumber penghasilan yang kompetitif.

Kini Azis semakin yakin bahwa pertanian bukan pekerjaan yang identik dengan keterbatasan. Sebaliknya, sektor ini dapat menjadi peluang usaha yang memberikan kemandirian ekonomi bagi masyarakat desa.

Perjalanan hidupnya menjadi bukti bahwa keberanian mencoba hal baru mampu menghasilkan perubahan besar. Dari seorang buruh yang terdampak modernisasi mesin, Azis berhasil bertransformasi menjadi petani muda yang menikmati hasil dari kerja kerasnya sendiri.

Bagi Azis, bertani bukan sekadar pekerjaan. Pertanian telah menjadi jalan untuk membangun masa depan yang lebih baik sekaligus membuktikan bahwa anak muda bisa sukses dari sawah jika memiliki kemauan belajar, keberanian mencoba, dan konsistensi dalam bekerja.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
#petani kemangi Blitar #kemangi Blitar #budidaya tanaman kemangi #ekonomi pedesaan #hasil panen kemangi