Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kisah Sukses Petani Muda Yogyakarta, Tinggalkan Profesi Guru dan Karyawan Pabrik, Kini Raup Cuan dari Kemangi dan Sayuran Hortikultura

Muhammad Rusdian Nuzula • Kamis, 18 Juni 2026 | 16:40 WIB
Kisah sukses petani muda Yogyakarta yang tinggalkan profesi guru dan karyawan pabrik lalu sukses mengembangkan usaha hortikultura. (GEMINI AI)
Kisah sukses petani muda Yogyakarta yang tinggalkan profesi guru dan karyawan pabrik lalu sukses mengembangkan usaha hortikultura. (GEMINI AI)

BLITAR KAWENTAR - Kisah sukses petani muda dari Kabupaten Sleman, Yogyakarta, menjadi bukti bahwa sektor pertanian masih menyimpan peluang besar bagi generasi muda. Berbekal keberanian meninggalkan pekerjaan tetap dan kemauan belajar secara mandiri, pasangan suami istri Ahmad Asrori dan Noni Suci Aristiani kini berhasil mengembangkan usaha hortikultura yang memasok berbagai jenis sayuran ke pasar.

Kisah sukses petani muda ini bermula ketika Noni yang merupakan lulusan S1 Kependidikan memilih berhenti mengajar setelah sekitar tiga setengah tahun berkarier sebagai guru. Menurutnya, pendapatan yang diperoleh saat itu belum mampu memenuhi kebutuhan keluarga yang akan dibangun.

Di sisi lain, sang suami yang telah bekerja selama 10 tahun di sebuah pabrik juga memutuskan resign pada 2023. Keputusan tersebut menjadi titik awal kisah sukses petani muda yang kini banyak menginspirasi anak-anak muda untuk kembali melirik dunia pertanian.

Baca Juga: Usaha Pertanian Kemangi Cuma Modal Rp800 Ribu, Petani Ini Bisa Raup Jutaan Rupiah per Bulan dari Lahan 100 Meter Persegi

Belajar Pertanian dari YouTube dan Pengalaman Keluarga

Meski tidak memiliki modal besar dan latar belakang pendidikan pertanian, pasangan ini tidak ragu memulai usaha. Mereka mengandalkan pengalaman keluarga yang sebagian besar berprofesi sebagai petani serta memanfaatkan internet untuk menambah wawasan.

Menurut Noni, perkembangan teknologi membuat ilmu pertanian semakin mudah dipelajari. Berbagai teknik budidaya dapat dipahami melalui video edukasi di YouTube maupun diskusi langsung dengan petani yang lebih berpengalaman.

"Kalau mau belajar, sekarang ilmunya ada di mana-mana. Tinggal kemauan kita saja," ungkapnya.

Keberanian memulai usaha dari nol tersebut akhirnya membuahkan hasil. Setelah terjun ke sektor pertanian, mereka mengaku kondisi ekonomi keluarga justru mengalami peningkatan dibandingkan saat bekerja di sektor formal.

Fokus pada Tanaman Hortikultura

Dalam menjalankan usaha, pasangan ini menanam berbagai komoditas hortikultura seperti timun baby, kemangi, kacang panjang, buncis, gambas, terong hingga kacang tanah.

Salah satu komoditas yang banyak dibudidayakan adalah kemangi. Tanaman ini dinilai memiliki prospek menjanjikan karena masa panennya cepat dan dapat dipanen berkali-kali.

Kemangi biasanya mulai siap dipanen sekitar satu bulan setelah tanam. Setelah pemotongan pertama, cabang tanaman akan tumbuh lebih banyak sehingga produktivitas meningkat pada panen berikutnya.

Selain kemangi, timun baby menjadi salah satu komoditas yang pernah memberikan hasil sangat memuaskan. Pada masa panen raya, mereka mengaku mampu menghasilkan hingga 400 kilogram timun dalam sehari.

Tantangan Bertani dan Pentingnya Rotasi Tanaman

Meski menjanjikan, dunia pertanian tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi pasangan tersebut adalah kegagalan saat menanam cabai.

Curah hujan tinggi yang terjadi hampir setiap hari menyebabkan tanaman cabai terserang busuk batang. Dalam waktu kurang dari dua minggu, sebagian besar tanaman mengalami kerusakan sehingga menimbulkan kerugian.

Dari pengalaman tersebut, mereka belajar pentingnya memilih komoditas sesuai kondisi cuaca dan menerapkan rotasi tanaman secara berkala.

Menurut Ahmad Asrori, pergantian jenis tanaman terbukti membantu menjaga produktivitas lahan. Setelah panen timun misalnya, lahan tidak langsung ditanami komoditas yang sama, melainkan diganti dengan tanaman lain agar kualitas hasil tetap terjaga.

Pasar Sayuran Masih Sangat Terbuka

Baca Juga: Usaha Pertanian Kemangi Cuma Modal Rp800 Ribu, Petani Ini Bisa Raup Jutaan Rupiah per Bulan dari Lahan 100 Meter Persegi

Pasangan petani muda ini optimistis terhadap prospek pertanian karena kebutuhan pasar masih sangat besar. Selain memasok pasar tradisional, hasil panen juga dapat disalurkan melalui sistem pelelangan hasil pertanian yang menerima berbagai jenis komoditas.

Mereka bahkan mengembangkan usaha pemasaran melalui ASR Farm yang melayani kebutuhan sayuran, khususnya kemangi, untuk konsumen dan pelaku usaha kuliner di Yogyakarta.

Menurut mereka, selama masyarakat masih membutuhkan makanan dan sektor kuliner terus berkembang, kebutuhan sayuran segar akan tetap tinggi.

Ajak Generasi Muda Terjun ke Pertanian

Di akhir wawancara, pasangan tersebut mengajak anak muda untuk tidak ragu memanfaatkan lahan pertanian yang dimiliki keluarga.

Mereka menilai jumlah petani muda saat ini masih sangat sedikit, sementara sebagian besar pelaku pertanian sudah berusia lanjut. Kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi generasi muda untuk melanjutkan sektor yang menjadi penopang ketahanan pangan nasional.

Bagi mereka, pertanian bukan lagi pekerjaan yang identik dengan kesulitan, melainkan peluang usaha yang dapat memberikan penghasilan menjanjikan jika dikelola dengan ilmu dan ketekunan.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
#budidaya kemangi #kisah sukses petani muda #petani muda Yogyakarta #usaha hortikultura #pertanian modern