BLITAR KAWENTAR - Kisah sukses petani muda asal Tulungagung ini menjadi bukti bahwa keterbatasan hidup bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan. Di usia yang baru menginjak 22 tahun, Hebi Rizki Susanto mampu membangun usaha pertanian cabai yang menghasilkan pendapatan ratusan juta rupiah per tahun.
Kisah sukses petani muda tersebut berawal dari masa kecil yang tidak mudah. Hebi mengaku tumbuh dalam keluarga broken home dan sejak kecil diasuh oleh kakek, nenek, serta pamannya. Meski menghadapi berbagai tantangan hidup, ia memilih fokus bekerja dan membangun masa depan melalui dunia pertanian.
Kini, kisah sukses petani muda itu menjadi inspirasi banyak generasi muda. Di tengah anggapan bahwa bertani kurang menjanjikan, Hebi justru membuktikan bahwa sektor pertanian mampu menjadi sumber penghasilan yang besar jika ditekuni dengan serius.
Tumbuh Bersama Dunia Pertanian
Pria asal Desa Pulotondo, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung itu mengaku sudah akrab dengan pertanian sejak kecil. Sepulang sekolah, ia terbiasa mencari pakan ternak sebelum bermain bersama teman-temannya.
Kebiasaan tersebut secara perlahan membentuk karakter pekerja keras dan kecintaannya terhadap dunia pertanian. Hingga saat ini, selain bertani cabai, Hebi juga masih memelihara ternak sebagai usaha pendukung.
Menurutnya, pekerjaan sebagai petani memberikan kebebasan dalam mengatur waktu. Namun di balik fleksibilitas tersebut, petani juga harus siap menghadapi masa-masa sulit ketika belum panen dan tidak memiliki pemasukan selama berbulan-bulan.
Fokus pada Budidaya Cabai Keriting
Saat ini Hebi lebih banyak menanam cabai keriting karena dinilai memiliki produktivitas yang baik untuk wilayah dataran rendah seperti daerahnya.
Ia mengelola lahan sekitar 1,5 hektare yang tersebar di beberapa lokasi. Sistem tanam dilakukan secara bertahap agar panen dapat berlangsung berkelanjutan dan arus kas usaha tetap berjalan.
Menurut Hebi, keberhasilan budidaya cabai sangat ditentukan oleh pengolahan lahan sejak awal. Ia menekankan pentingnya pemberian pupuk dasar, kompos fermentasi, penggunaan mulsa, hingga pengaturan jadwal pemupukan dan penyemprotan secara rutin.
Belajar dari Kegagalan
Perjalanan menjadi petani sukses tentu tidak selalu berjalan mulus. Hebi mengaku pernah mengalami berbagai masalah mulai dari serangan penyakit patek, busuk batang, hingga gagal panen akibat cuaca dan hama.
Namun pengalaman tersebut justru menjadi modal berharga untuk meningkatkan kemampuan budidaya. Ia percaya bahwa teori saja tidak cukup. Seorang petani harus terjun langsung ke lapangan agar memahami kondisi sebenarnya.
"Kalau hanya belajar teori, rasanya mustahil bisa sukses. Harus praktik dan mengalami sendiri," ujarnya.
Penghasilan Bisa Tembus Ratusan Juta
Salah satu pencapaian terbaiknya terjadi ketika harga cabai sedang tinggi pada periode 2023. Saat itu harga cabai keriting sempat mencapai Rp67 ribu per kilogram.
Dalam satu musim tanam, hasil yang diperoleh dari lahannya mampu mencapai lebih dari Rp150 juta. Sementara dalam satu tahun, pendapatannya bisa menembus angka ratusan juta rupiah dari beberapa siklus tanam.
Meski demikian, Hebi mengingatkan bahwa dunia pertanian tetap memiliki risiko tinggi. Harga komoditas yang fluktuatif sering kali membuat hasil panen tidak sesuai harapan.
Berdamai dengan Masa Lalu
Di balik kesuksesan yang diraih, terdapat kisah kehidupan yang mengharukan. Hebi mengaku sempat menyimpan rasa kecewa karena harus tumbuh tanpa kehadiran ayah yang pergi selama bertahun-tahun.
Namun seiring waktu, ia memilih berdamai dengan keadaan. Prinsip hidup yang selalu dipegangnya adalah bahwa setiap kesulitan pasti akan berlalu.
"Badai pasti berlalu. Sesulit apa pun hari ini pasti akan berlalu, dan sesenang apa pun hari ini juga akan berlalu," katanya.
Melalui media sosial yang aktif ia kelola, Hebi kini mengajak generasi muda untuk tidak malu menjadi petani. Menurutnya, pertanian masih memiliki masa depan cerah dan mampu menjadi jalan menuju kesuksesan.