BLITAR KAWENTAR – Mitos Nyi Roro Kidul kembali menjadi perbincangan karena hingga kini masih hidup di tengah masyarakat, khususnya di kawasan pesisir selatan Pulau Jawa. Sosok yang dikenal sebagai Ratu Pantai Selatan tersebut tidak hanya hadir dalam cerita rakyat, tetapi juga dikaitkan dengan tradisi, budaya, hingga ritual yang masih dijalankan di sejumlah daerah.
Mitos Nyi Roro Kidul berkembang dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara. Meski belum pernah terbukti secara ilmiah, kisah mengenai kerajaan gaib di Laut Selatan tetap menarik perhatian karena berpadu dengan sejarah, kepercayaan masyarakat, dan nilai filosofis yang diwariskan selama ratusan tahun.
Pantai Selatan Jawa sendiri membentang sekitar 1.200 kilometer melewati Provinsi Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, hingga Jawa Timur. Sejumlah pantai terkenal seperti Pelabuhan Ratu, Parangtritis, Pangandaran, Carita, dan Anyer kerap dikaitkan dengan berbagai cerita mistis yang memperkuat mitos Nyi Roro Kidul sebagai penguasa Samudra Hindia.
Baca Juga: Klasemen Moto3 2026 Berubah Usai GP Ceko, Veda Ega Pratama Dekati Lima Besar setelah Finis Kelima
Legenda Nyi Roro Kidul
Dalam salah satu versi legenda yang paling populer, Nyi Roro Kidul diceritakan sebagai seorang putri kerajaan Sunda yang merupakan keturunan Prabu Siliwangi. Ia mengalami penderitaan akibat kutukan atau penyakit yang membuat wajahnya berubah sehingga diasingkan dari kerajaan.
Merasa kehilangan segalanya, sang putri kemudian menuju laut dan membasuh wajahnya dengan air samudra. Konon, kecantikannya kembali setelah memasuki lautan. Sejak saat itulah ia dipercaya memperoleh kekuatan gaib dan diangkat menjadi penguasa kerajaan bawah laut di Pantai Selatan.
Cerita tersebut berkembang luas di masyarakat dan melahirkan keyakinan bahwa Nyi Roro Kidul memiliki ribuan prajurit gaib yang mampu mengendalikan ombak, angin, hingga cuaca di kawasan Samudra Hindia.
Meski demikian, sebagian budayawan membedakan sosok Nyi Roro Kidul dengan Kanjeng Ratu Kidul. Dalam beberapa kepercayaan Jawa, Kanjeng Ratu Kidul dianggap sebagai sosok spiritual yang memiliki kedudukan lebih tinggi, sedangkan Nyi Roro Kidul merupakan tokoh yang berasal dari kisah manusia sebelum menjadi penguasa laut.
Pantai Selatan dan Garis Filosofi Jawa
Selain dikenal karena kisah mistisnya, Pantai Parangtritis juga memiliki makna filosofis yang penting dalam budaya Jawa. Pantai tersebut menjadi bagian dari garis imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Laut Selatan.
Konsep tersebut melambangkan keseimbangan hubungan antara manusia, alam, dan dunia spiritual. Karena itulah kawasan Pantai Selatan dipandang sebagai wilayah yang sakral oleh sebagian masyarakat Jawa.
Kepercayaan tersebut membuat sejumlah lokasi di sekitar pantai menjadi tempat untuk berdoa, bertapa, maupun melakukan ritual spiritual yang diyakini mampu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Larangan Mengenakan Warna Hijau
Salah satu mitos yang paling terkenal adalah larangan mengenakan pakaian berwarna hijau saat berada di Pantai Selatan. Warna tersebut dipercaya sebagai warna kesukaan Nyi Roro Kidul sehingga orang yang mengenakannya diyakini dapat menarik perhatian sang ratu.
Walaupun demikian, banyak pihak menilai larangan tersebut juga memiliki tujuan keselamatan. Warna hijau mudah menyatu dengan warna ombak sehingga menyulitkan proses pencarian apabila terjadi kecelakaan laut.
Selain itu, masyarakat juga mengingatkan wisatawan agar tidak bersikap sombong, menantang laut, maupun mengabaikan peringatan keselamatan karena ombak di pesisir selatan terkenal besar dan memiliki arus balik yang berbahaya.
Kisah yang Dikaitkan dengan Soekarno
Mitos Nyi Roro Kidul juga kerap dihubungkan dengan Presiden pertama Indonesia, Soekarno. Beredar cerita mengenai hubungan spiritual antara keduanya, termasuk isu pernikahan gaib yang hingga kini masih menjadi perdebatan.
Beberapa pidato Soekarno memang pernah menyinggung sosok Ratu Pantai Selatan. Namun banyak kalangan menilai pernyataan tersebut lebih bersifat simbolis, yakni menggambarkan pentingnya kekuatan maritim bagi Indonesia sebagai negara kepulauan.
Legenda lain menyebut adanya sebuah kamar khusus bernomor 308 di sebuah hotel kawasan Pelabuhan Ratu yang dipercaya dipersembahkan untuk Nyi Roro Kidul. Kamar tersebut dikenal luas karena berbagai kisah mistis yang berkembang di masyarakat, meski tidak pernah dapat dibuktikan secara ilmiah.
Ritual yang Masih Dilestarikan
Baca Juga: Klasemen Moto3 2026 Berubah Usai GP Ceko, Veda Ega Pratama Dekati Lima Besar setelah Finis Kelima
Kepercayaan terhadap penguasa Pantai Selatan turut melahirkan sejumlah tradisi budaya yang masih dilaksanakan hingga sekarang. Salah satunya adalah ritual Labuhan yang dilakukan Keraton Yogyakarta dengan melarungkan sesaji ke laut sebagai simbol rasa syukur dan permohonan keselamatan.
Selain Labuhan, malam Satu Suro juga menjadi momen penting bagi sebagian masyarakat Jawa untuk melakukan doa bersama, tirakat, hingga membersihkan benda pusaka di kawasan Pantai Selatan.
Bagi masyarakat pendukung tradisi tersebut, ritual bukan sekadar bentuk penghormatan kepada sosok gaib, melainkan bagian dari pelestarian budaya, penghargaan terhadap alam, serta pengingat agar manusia hidup selaras dengan lingkungan.
Terlepas dari benar atau tidaknya keberadaan kerajaan gaib di Laut Selatan, mitos Nyi Roro Kidul tetap menjadi salah satu legenda paling terkenal di Indonesia. Cerita tersebut bukan hanya menghadirkan nuansa misteri, tetapi juga mencerminkan nilai sejarah, budaya, filosofi, serta tradisi yang masih dijaga oleh masyarakat hingga kini.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula