Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Misteri Gaun Hijau Samudra Selatan: Kisah Tragis Putri Kandita dan Legenda Nyi Roro Kidul yang Melegenda

Muhammad Rusdian Nuzula • Senin, 22 Juni 2026 | 21:34 WIB
Temukan kisah tragis Putri Kandita di balik legenda Nyi Roro Kidul, penguasa mistis laut selatan yang lahir dari kutukan dan pengkhianatan. (PINTEREST)
Temukan kisah tragis Putri Kandita di balik legenda Nyi Roro Kidul, penguasa mistis laut selatan yang lahir dari kutukan dan pengkhianatan. (PINTEREST)

BLITAR KAWENTAR - Kisah tentang penguasa ombak selatan selalu menyimpan daya tarik yang tak pernah pudar bagi masyarakat Jawa. Di balik berbagai pantangan yang beredar di kalangan wisatawan, salah satu misteri yang paling banyak menyita perhatian adalah larangan mengenakan pakaian berwarna hijau saat berkunjung ke pantai selatan. Usut punya usut, mitos turun-temurun ini ternyata berakar kuat pada sebuah kisah kuno yang bersumber dari wilayah barat Pulau Jawa, yang kemudian melahirkan legenda Nyi Roro Kidul sebagai sang ratu penguasa jagat supranatural samudra.

Kisah kelam ini bermula dari kemegahan Kerajaan Pajajaran yang dipimpin oleh seorang raja yang bijaksana dan sangat dihormati, Prabu Siliwangi. Sang Prabu dianugerahi seorang putri tunggal dari permaisurinya yang memiliki kecantikan luar biasa tiada tara bernama Putri Kandita. Namun, kebahagiaan istana runtuh ketika intrik politik dan dengki mulai menyelimuti dinding-dinding keraton, sebuah awal mula penderitaan panjang yang kelak memicu lahirnya legenda Nyi Roro Kidul yang menguasai lautan dalam spiritual masyarakat Jawa hingga saat ini.

Kehadiran Putri Kandita yang cerdas dan dipersiapkan sebagai penerus takhta membuat para selir istana, yang dipimpin oleh Dewi Mutiara, merasa terancam. Dibakar oleh api cemburu dan ambisi hitam agar anak-anak mereka dapat mewarisi kekuasaan, para selir melancarkan persekongkolan licik dengan bantuan seorang penyihir hitam dari lereng gunung terpencil. Melalui ritual gaib di tengah malam, sebuah kutukan mengerikan dikirimkan hingga mengubah paras elok sang putri menjadi bengkak dan dipenuhi bintik merah bernanah yang mengeluarkan bau busuk dalam semalam, sebuah peristiwa tragis yang menjadi tonggak penting dalam runtuhnya kedamaian Pajajaran dan awal terbentuknya legenda Nyi Roro Kidul.

Baca Juga: Veda Ega Pratama Bungkam Kritik, Finis Lima Besar di Moto3 Ceko 2026 Meski Start dari Posisi 20

Persekongkolan Licik dan Pengasingan Sang Putri

Melihat kondisi putri kesayangannya hancur, Prabu Siliwangi merasa dunianya runtuh. Seluruh tabib terbaik dari berbagai penjuru negeri didatangkan, namun tak ada satu pun ramuan atau upacara penyembuhan yang mampu menangkal kekuatan ilmu hitam tersebut. Penyakit misterius itu justru semakin menggerogoti tubuh Putri Kandita dari hari ke hari.

Dalam situasi pelik tersebut, para penasihat kerajaan yang telah termakan hasutan para selir mulai menekan Sang Prabu. Mereka berbisik bahwa penyakit sang putri adalah pertanda buruk, aib menular, dan kutukan dari para dewa yang dapat membawa malapetaka bagi keselamatan seluruh negeri Pajajaran. Berada di posisi yang sangat dilematis antara naluri seorang ayah dan tanggung jawab sebagai raja, Prabu Siliwangi akhirnya menyerah pada tekanan politik dan mengambil keputusan paling menyakitkan: mengasingkan Putri Kandita dari istana.

Dengan hati yang hancur namun penuh ketegaran, sang putri berjalan meninggalkan gerbang istana seorang diri tanpa perbekalan dan pengawalan. Tatapan kagum dari rakyat yang dulu selalu menerpanya kini berubah menjadi pandangan jijik dan ketakutan. Putri Kandita terus berjalan ke arah selatan menembus lebatnya hutan belantara, menahan rasa perih fisik dan batin selama tujuh hari tujuh malam.

Panggilan Gaib dari Samudra Selatan

Setelah menembus rimbunnya hutan, langkah kaki Putri Kandita yang kelelahan akhirnya terhenti di tepi sebuah tebing karang yang tinggi. Di hadapannya, terhampar lautan luas dengan ombak yang bergulung-gulung dahsyat. Tempat tersebut tidak lain adalah Samudra Selatan, sebuah wilayah perairan yang dikenal memiliki energi purba yang sangat kuat dan misterius.

Saat malam tiba dan rembulan bersinar terang, sang putri yang terlelap di atas batu karang mendengar sebuah suara gaib yang bergema dari kedalaman samudra. Suara tersebut menawarkan kesembuhan, keabadian, dan kekuatan besar, dengan syarat sang putri harus menceburkan diri dan menyatu dengan lautan. Terdorong oleh rasa putus asa terhadap dunia manusia yang penuh pengkhianatan, Putri Kandita membulatkan tekad untuk menerima takdir barunya.

Dengan keberanian seorang bangsawan sejati, ia melompat dari puncak tebing menuju gulungan ombak raksasa. Seketika itu juga, pancaran cahaya hijau terang menyelimuti tubuhnya di dalam air. Sebuah keajaiban terjadi; seluruh penyakit kulit yang menjijikan itu luruh, digantikan dengan kulit mulus bercahaya dan rambut panjang seindah zamrud. Putri Kandita terlahir kembali bukan sebagai manusia, melainkan sebagai sosok dewi abadi yang kini dikenal luas dalam narasi sejarah sebagai Nyi Roro Kidul.

Pembalasan Sang Ratu dan Penegakan Keadilan

Baca Juga: Veda Ega Pratama Bungkam Kritik, Finis Lima Besar di Moto3 Ceko 2026 Meski Start dari Posisi 20

Sebagai penguasa baru di kerajaan bawah laut, Sang Ratu membangun istana megah yang terbuat dari emas dan koral, serta memimpin jutaan bangsa jin dan makhluk halus. Ia mengenakan gaun sutra laut berwarna hijau zamrud yang anggun—warna yang kelak menjadi alasan mengapa manusia dilarang memakai baju hijau di wilayah kekuasaannya agar tidak menyinggung wibawa sang ratu.

Meski telah menjadi penguasa samudra, ingatan akan pengkhianatan di masa lalu memicu kemurkaan yang bermanifestasi menjadi bencana gelombang pasang dan badai dahsyat di pesisir Pajajaran. Menggunakan kekuatan gaibnya, Nyi Roro Kidul menegakkan pengadilan lautan. Penyihir jahat yang dulu mengutuknya diseret oleh ombak raksasa dan ditenggelamkan tanpa sisa ke dasar laut.

Teror mistis kemudian berpindah ke dalam istana Pajajaran, menghancurkan mental Dewi Mutiara hingga ia menjadi gila. Di tengah balairung keraton, Dewi Mutiara yang histeris akhirnya membongkar semua persekongkolan jahatnya di depan para penggawa istana. Mendengar pengakuan mengejutkan tersebut, Prabu Siliwangi yang murka segera menjatuhkan hukuman berat dengan mencopot seluruh gelar kebangsawanan para selir yang terlibat, merampas harta mereka, dan mengasingkan mereka ke pulau terpencil yang tandus. Begitu keadilan ditegakkan, badai yang melanda negeri seketika mereda, menyisakan legenda abadi tentang sang ratu laut selatan yang terus hidup melintasi zaman.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
#Putri Kandita #Kerajaan Pajajaran #Mitos baju hijau #Penguasa laut selatan #prabu siliwangi