Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Budidaya Lele Modal Bibit Rp170 Ribu per 1.000 Ekor, Peternak Tuban Raup Untung Rp16 Juta Berkat Sistem Ini

M. Helmi Nurhisam • Selasa, 14 Juli 2026 | 14:20 WIB
Budidaya lele sistem full kocor di Tuban menghasilkan untung hingga Rp16 juta per siklus. Simak modal, strategi, dan kunci suksesnya.(pinterest)
Budidaya lele sistem full kocor di Tuban menghasilkan untung hingga Rp16 juta per siklus. Simak modal, strategi, dan kunci suksesnya.(pinterest)

BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Budidaya lele masih menjadi peluang usaha yang menjanjikan di tengah tingginya permintaan ikan konsumsi. Hal itu dirasakan Seful Anam, peternak lele asal Kabupaten Tuban, Jawa Timur, yang mengaku mampu meraih keuntungan bersih hingga sekitar Rp16 juta setiap siklus panen dengan menerapkan sistem budidaya full kocor.

Pria berusia 26 tahun tersebut mengawali usahanya setelah melihat masih minimnya pembudidaya lele di Kabupaten Tuban. Berdasarkan hasil riset yang dilakukannya, lele menjadi komoditas ikan yang dinilai paling produktif dan memiliki pasar yang masih terbuka lebar.

Menurut Seful, tingginya kebutuhan pasar membuatnya mantap meninggalkan aktivitas sebagai petani dan fokus mengembangkan budidaya lele sebagai sumber penghasilan utama.

Memulai dari Tiga Kolam Diameter

Seful mengawali usaha dengan skala kecil menggunakan tiga kolam diameter.

Baca Juga: PJU Mati Dominasi Laporan Kerusakan di Kabupaten Blitar, Dishub Tangani 451 Aduan Selama Semester I 2026

Setiap kolam diisi sekitar 2.000 hingga 3.000 ekor bibit lele. Setelah memperoleh pengalaman dan memahami teknik budidaya, ia mulai menambah empat kolam beton untuk memperbesar kapasitas produksi.

Saat itu, biaya pembuatan satu kolam diameter lengkap mencapai sekitar Rp1,15 juta. Dengan tiga kolam, modal awal yang dikeluarkan sekitar Rp3 juta.

Beralih ke Sistem Full Kocor

Pada awal usaha, Seful menggunakan sistem semi kocor dengan memanfaatkan air PDAM.

Baca Juga: PJU Mati Dominasi Laporan Kerusakan di Kabupaten Blitar, Dishub Tangani 451 Aduan Selama Semester I 2026

Namun, setelah mengalami kendala pasokan air, ia memutuskan membuat sumur bor dan beralih menggunakan sistem full kocor.

Melalui sistem tersebut, air kolam terus mengalir dari pagi hingga malam sehingga kualitas air tetap terjaga.

Menurutnya, metode ini membuat pertumbuhan lele lebih cepat, kepadatan tebar dapat ditingkatkan, serta kondisi air tidak mudah rusak.

Pilih Bibit Sangkuriang dan Full Pelet Pabrik

Untuk bibit, Seful memilih lele jenis Sangkuriang berukuran 5 hingga 7 sentimeter.

Bibit tersebut dipelihara sekitar tiga bulan hingga mencapai ukuran konsumsi, yakni sekitar satu kilogram berisi tujuh hingga 12 ekor.

Dalam pemberian pakan, ia mengaku hanya menggunakan pelet pabrik.

Keputusan tersebut diambil untuk menjaga kualitas daging sekaligus mempertahankan cita rasa lele yang dihasilkan.

Menurutnya, penggunaan pakan alternatif berpotensi memengaruhi kualitas hasil panen.

Pernah Gagal Panen Akibat Air

Perjalanan usahanya tidak selalu berjalan mulus.

Seful pernah mengalami gagal panen ketika satu kolam berisi sekitar 4.000 ekor lele mati dua pekan sebelum masa panen.

Ia menyebut penyebabnya berasal dari kualitas air PDAM yang tidak dapat diganti saat kondisi air kolam memburuk.

Akibat kejadian tersebut, kerugian yang dialami mencapai sekitar Rp8 juta.

Pengalaman itu menjadi alasan utama dirinya berinvestasi membuat sumur bor agar pasokan air lebih terjamin.

Air Menjadi Faktor Penentu Keberhasilan

Menurut Seful, kualitas air merupakan faktor paling penting dalam budidaya lele.

Ia meyakini lele tidak mudah terserang penyakit maupun mengalami kematian massal apabila air selalu bersih dan rutin diganti.

Karena itu, fokus utama perawatan dilakukan pada pergantian air dan menjaga kejernihan kolam.

Untuk pencegahan penyakit, ia tetap menggunakan obat sesuai kebutuhan. Namun, ia mengaku tidak memakai vitamin maupun probiotik tambahan demi menekan biaya operasional.

Pasar Sudah Disiapkan Sebelum Panen

Dalam memasarkan hasil panen, Seful mengaku mendatangi berbagai pasar di Kabupaten Tuban untuk mencari relasi dengan pengepul.

Kini, sebagian besar hasil panennya langsung diambil pengepul setelah sebelumnya dilakukan kesepakatan waktu panen.

Selain pengepul, pembeli dari rumah makan penyetan maupun pasar tradisional juga dapat membeli langsung ke lokasi budidaya.

Ia memilih menjual lele berdasarkan ukuran tertentu agar bobot panen lebih optimal dibanding menjual seluruh isi kolam tanpa sortir.

Modal dan Potensi Keuntungan

Seful menjelaskan harga bibit sekitar Rp170 ribu per 1.000 ekor.

Sementara biaya terbesar selama budidaya berasal dari pembelian pakan yang mencapai sekitar Rp50 juta dalam satu siklus produksi.

Saat ini, tujuh kolam yang dimilikinya menampung sekitar 50 ribu ekor lele dengan sistem tebar padat.

Tingkat kematian selama pemeliharaan relatif rendah, berkisar 100 hingga 200 ekor per kolam berisi sekitar 5.000 ekor bibit.

Menurut perhitungannya, setiap 1.000 ekor lele idealnya mampu menghasilkan sekitar 90 kilogram panen.

Dengan kondisi tersebut, keuntungan bersih diperkirakan mencapai Rp350 ribu hingga Rp400 ribu per 1.000 ekor, atau sekitar Rp16 juta dalam satu siklus produksi.

Berencana Menambah Kapasitas Produksi

Melihat permintaan pasar yang masih stabil, Seful berencana menambah sekitar 10 kolam baru.

Setiap kolam nantinya ditargetkan mampu menampung sekitar 10 ribu ekor bibit sehingga total populasi budidayanya meningkat hingga sekitar 150 ribu ekor.

Ia juga mendorong generasi muda agar tidak ragu memulai usaha budidaya lele.

Menurutnya, usaha dapat dimulai dari skala kecil menggunakan galon bekas maupun ember sebelum berkembang ke kolam yang lebih besar, asalkan mampu menjaga kualitas air dan membangun jaringan pemasaran.

Editor : M. Helmi Nurhisam
budidaya lele budidaya lele pemula sistem full kocor lele keuntungan budidaya lele bisnis lele Tuban