Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik Sport

Budidaya Ikan Nila Sistem Bioflok Diklaim Hemat Pakan hingga 30 Persen, Panen Lebih Cepat

M. Helmi Nurhisam • Selasa, 14 Juli 2026 | 14:40 WIB
Budidaya ikan nila sistem bioflok di Magelang mampu menghemat pakan hingga 30 persen, mempercepat panen, dan menghasilkan ikan berkualitas.(pinterest)
Budidaya ikan nila sistem bioflok di Magelang mampu menghemat pakan hingga 30 persen, mempercepat panen, dan menghasilkan ikan berkualitas.(pinterest)

BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Budidaya ikan nila sistem bioflok menjadi pilihan kelompok pembudidaya di Desa Bojong, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, karena dinilai mampu meningkatkan efisiensi pakan hingga 30 persen, mempercepat masa panen, sekaligus menghasilkan ikan yang lebih sehat. Sistem ini diterapkan melalui rekayasa kualitas air sehingga biaya produksi dapat ditekan tanpa mengurangi hasil panen.

Didik Heriantoro, pengelola budidaya ikan di wilayah tersebut, mengatakan usaha pembesaran ikan nila dengan sistem bioflok berangkat dari kebutuhan menyediakan sumber pangan yang lebih terjangkau bagi masyarakat.

Menurutnya, harga ikan yang relatif mahal selama ini dipengaruhi tingginya biaya pakan. Karena itu, kelompok budidaya yang dibangunnya memilih menerapkan sistem bioflok sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi usaha.

Bioflok Tekan Biaya Pakan hingga 30 Persen

Didik menjelaskan biaya pakan menjadi persoalan utama dalam budidaya ikan. Melalui sistem bioflok, kebutuhan pakan dapat ditekan hingga sekitar 30 persen.

Baca Juga: Bingung Pilih Substrat dan Hardscape untuk Aquascape? Ini Rahasia Racikan Aman Bebas Zat Asam ala Hobi Ombing!

Hal itu dilakukan dengan merekayasa kualitas air dan lingkungan kolam sehingga terbentuk sumber pakan alami bagi ikan.

Ia mengatakan sistem tersebut diawali dari skala kecil dengan lima kolam. Setelah dinilai berhasil, jumlah kolam terus ditambah hingga mencapai lebih dari 60 kolam.

Fokus Kembangkan Kampung Budidaya Nila

Desa Bojong telah ditetapkan sebagai Kampung Budidaya Nila oleh pemerintah.

Baca Juga: Peluang Bisnis Rumahan: Cara Budidaya Ikan Cupang Hias Modal Minim, Omzet Tembus Puluhan Juta!

Karena itu, mayoritas kegiatan budidaya di kawasan tersebut difokuskan pada pembesaran ikan nila sekaligus menjadi pusat edukasi bagi masyarakat maupun sekolah.

Selain nila, kelompok tersebut juga mengembangkan budidaya lele bertebar padat dan ikan koi menggunakan sistem bioflok.

Untuk lele, satu kolam berdiameter empat meter diisi hingga 8.000 ekor. Sementara pada ikan koi, sistem bioflok disebut mampu mempercepat pertumbuhan sekaligus meningkatkan kualitas warna ikan.

Kunci Budidaya Berada pada Kualitas Air

Menurut Didik, bioflok merupakan sistem budidaya modern yang mengandalkan rekayasa air, bukan metode konvensional.

Air kolam berasal dari air sumur yang terlebih dahulu disterilkan agar bebas dari sampah maupun polusi.

Selanjutnya air diberi probiotik dan molase dengan dosis terukur sebelum benih berkualitas ditebar ke kolam.

Selain itu, penggunaan aerator menjadi komponen penting karena berfungsi menambah pasokan oksigen sekaligus mendukung pertumbuhan bakteri baik yang menghasilkan pakan alami.

Panen Lebih Cepat dan Rasa Ikan Lebih Baik

Dengan sistem bioflok, pembesaran ikan nila diklaim hanya membutuhkan waktu sekitar 3,5 hingga maksimal empat bulan.

Benih berukuran sekitar delapan sentimeter dapat dipanen hingga mencapai ukuran satu kilogram berisi empat hingga lima ekor.

Didik juga menyebut proses panen lebih praktis karena cukup membuka saluran pembuangan air sehingga ikan lebih mudah diambil tanpa membutuhkan banyak tenaga.

Selain itu, ikan hasil budidaya bioflok disebut memiliki daging yang lebih tebal, rasa lebih gurih, dan tidak berbau tanah.

Bangun Pasar Sendiri agar Harga Lebih Menguntungkan

Produksi ikan yang terus meningkat sempat menjadi tantangan karena hasil panen sulit dipasarkan dengan harga yang menguntungkan.

Awalnya hasil panen dijual kepada tengkulak, namun harga dinilai terlalu rendah.

Kelompok budidaya kemudian menerapkan sistem tebar benih setiap dua minggu sehingga panen berlangsung bergilir sekitar 500 kilogram atau lima kuintal setiap dua pekan.

Mereka juga mulai mengolah hasil panen menjadi produk berbumbu dan marinasi yang dikemas sebelum dipasarkan langsung kepada konsumen.

Selain itu, kelompok membuka rumah makan berbahan dasar ikan serta memasok produk ke sejumlah restoran.

Ke depan, kelompok tersebut berencana membangun pasar sendiri agar petani dapat menjual ikan langsung kepada konsumen tanpa bergantung kepada tengkulak.

Telah Kantongi Sertifikat CBIB

Penyuluh Perikanan Kabupaten Magelang, Wahyu Hidayat Furqon, mengatakan kelompok Mina Aena merupakan salah satu pelopor budidaya ikan nila bioflok di daerahnya.

Kelompok tersebut juga telah mengantongi sertifikat Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), yang diperoleh melalui proses audit dan pengawasan.

Menurut Wahyu, sertifikat tersebut menjadi nilai tambah karena memungkinkan hasil budidaya dipasarkan ke salah satu jaringan supermarket nasional.

Ia juga menyebut Mina Aena masuk dalam 10 besar kampung perikanan budidaya terbaik dari sekitar 200 kampung budidaya di Indonesia.

Melalui pencapaian tersebut, Mina Aena diharapkan terus berkembang sebagai pusat edukasi budidaya ikan nila sistem bioflok bagi masyarakat, baik pemula maupun pelaku usaha profesional.

Editor : M. Helmi Nurhisam
budidaya ikan nila sistem bioflok cara budidaya ikan nila bioflok pembesaran ikan nila efisiensi pakan ikan nila kampung budidaya nila Magelang