BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Budidaya ikan nila di kolam beton menjadi salah satu pilihan yang banyak diterapkan pembudidaya karena dinilai lebih awet, mudah dikelola, dan mampu menghasilkan produktivitas tinggi. Dengan persiapan kolam, pemilihan benih, serta manajemen pakan yang tepat, ikan nila dapat dipanen dalam waktu sekitar empat hingga enam bulan, bahkan lebih cepat jika menggunakan benih berukuran lebih besar.
Permintaan ikan nila untuk pasar domestik maupun luar negeri terus meningkat. Kondisi tersebut membuat usaha budidaya ikan nila memiliki prospek yang menjanjikan, terutama karena ikan ini memiliki pertumbuhan cepat, produktivitas tinggi, dan mampu dibudidayakan di berbagai jenis kolam.
Selain kolam beton, ikan nila juga dapat dipelihara di kolam tanah, kolam terpal, maupun keramba. Ikan ini dikenal memiliki daya adaptasi yang baik terhadap perubahan lingkungan, terutama saat masih berukuran kecil.
Kolam Beton Jadi Pilihan Budidaya
Kolam beton menjadi solusi bagi pembudidaya yang memiliki lahan dengan kondisi tanah kurang mendukung untuk dibuat kolam tanah.
Baca Juga: Bangun TPA Terpadu Ngadipuro, Pemkab Blitar Siapkan Lahan 10 Hektare Berkonsep Green dan Regional
Selain bersifat permanen dan lebih awet, kolam beton juga banyak dipilih oleh pembudidaya yang telah mengembangkan usahanya.
Ukuran kolam dapat disesuaikan dengan luas lahan. Untuk lahan yang luas, kolam berukuran 20 meter x 10 meter dengan kedalaman sekitar 1,5 meter dapat digunakan.
Sementara untuk lahan terbatas, ukuran 6 meter x 4 meter dengan kedalaman sekitar 75 sentimeter dinilai sudah memadai.
Kepadatan Tebar Benih Harus Disesuaikan
Volume kolam menentukan jumlah benih yang dapat ditebar.
Pada kolam beton, kepadatan tebar berkisar antara 30 hingga 50 ekor per meter kubik, tergantung ukuran benih.
Sebagai contoh, kolam berukuran 20 meter x 10 meter x 1,5 meter memiliki volume sekitar 300 meter kubik sehingga mampu menampung hingga 15.000 ekor ikan nila.
Namun, agar pertumbuhan ikan lebih optimal, jumlah benih yang disarankan sekitar 10.000 ekor. Kepadatan tersebut masih dapat ditingkatkan apabila menggunakan sistem bioflok.
Persiapan Kolam Sebelum Penebaran Benih
Kolam yang akan digunakan harus dibersihkan dari lumpur maupun kotoran.
Untuk kolam baru, bau semen perlu dihilangkan terlebih dahulu, salah satunya dengan menggosok permukaan menggunakan batang pohon pisang, kemudian merendam kolam dengan air.
Setelah dibersihkan, kolam dikeringkan sekitar dua hari sesuai kondisi cuaca.
Apabila tingkat keasaman kolam rendah atau memiliki pH di bawah enam, dilakukan pengapuran menggunakan dolomit atau kapur pertanian hingga mencapai pH ideal sekitar 7 hingga 8.
Selanjutnya kolam diisi air bersih dan diberikan pupuk kompos atau pupuk kandang. Jika diperlukan, dapat ditambahkan pupuk urea dan TSP untuk merangsang pertumbuhan organisme alami sebagai pakan ikan.
Cara Menebar Benih Ikan Nila
Benih yang digunakan memiliki bobot sekitar 10 hingga 20 gram per ekor dengan kepadatan 15 hingga 30 ekor per meter kubik.
Sebelum ditebar, benih perlu melalui proses aklimatisasi agar mampu menyesuaikan diri dengan kondisi air kolam.
Caranya dengan memasukkan wadah berisi benih ke dalam kolam selama beberapa saat, kemudian memiringkan wadah hingga ikan keluar dengan sendirinya.
Perawatan Menentukan Keberhasilan Budidaya
Keberhasilan budidaya ikan nila sangat dipengaruhi oleh kualitas air, pemberian pakan, dan pengendalian penyakit.
Apabila air kolam mulai berbau, pembudidaya disarankan mengganti sekitar sepertiga volume air agar kualitas air tetap terjaga.
Pakan juga menjadi komponen biaya terbesar dalam budidaya. Ikan nila diberikan pelet dengan kandungan protein sekitar 20 hingga 30 persen.
Jumlah pakan yang diberikan sekitar tiga persen dari bobot ikan setiap hari dan dibagi dalam dua kali pemberian, yakni pagi dan sore.
Setiap dua minggu sekali, pembudidaya disarankan mengambil sampel ikan untuk ditimbang sehingga kebutuhan pakan dapat disesuaikan dengan pertumbuhan ikan.
Waspadai Penyakit dan Tentukan Waktu Panen
Meskipun dikenal tahan terhadap perubahan lingkungan, ikan nila tetap berisiko terserang penyakit, terutama penyakit infeksi yang dapat menyebar melalui air.
Karena itu, ikan yang terlihat lemas, tidak aktif, atau sering berada di permukaan air sebaiknya segera dipisahkan agar tidak menular ke ikan lain.
Panen umumnya dilakukan ketika bobot ikan mencapai 300 hingga 500 gram per ekor sesuai kebutuhan pasar.
Dari benih berukuran 10 hingga 20 gram, waktu pemeliharaan hingga panen berkisar empat hingga enam bulan.
Namun apabila menggunakan benih berukuran 5 hingga 7 sentimeter, masa panen dapat dipercepat menjadi sekitar tiga bulan. Strategi tersebut kerap diterapkan agar panen bertepatan dengan kondisi harga ikan yang sedang tinggi sehingga keuntungan yang diperoleh menjadi lebih optimal.
Editor : M. Helmi Nurhisam