BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Budidaya ikan gurami dengan sistem organik dan hemat air dikembangkan di Kampung Gurami, Dusun Kergan, Kalurahan Tirtomulyo, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, DIY. Melalui metode yang mengandalkan keseimbangan alam tanpa obat kimia, para pembudidaya mampu memelihara gurami hingga siap panen meski sebagian kolam tidak mengalami pergantian air selama satu tahun.
Model budidaya tersebut telah diterapkan sejak 2008 dan kini berkembang menjadi pusat edukasi budidaya gurami. Selain menghasilkan benih dan ikan konsumsi, kampung ini juga menjadi lokasi belajar bagi masyarakat yang ingin mengembangkan usaha perikanan dengan biaya operasional lebih efisien.
Pada awalnya, kelompok budidaya hanya memiliki sekitar 15 anggota. Kini jumlahnya telah bertambah menjadi lebih dari 35 orang, bahkan masih banyak pembudidaya di luar kelompok yang ikut mengembangkan usaha gurami.
Kampung Gurami Jadi Pusat Edukasi
Pengelola Kampung Gurami, Sunarto, menjelaskan kawasan tersebut dibangun untuk memanfaatkan potensi pekarangan warga sekaligus meningkatkan produksi gurami di DIY yang selama ini masih kekurangan pasokan.
Menurutnya, hampir seluruh kolam menggunakan terpal, baik kolam tanam maupun kolam bundar berdiameter sekitar tiga meter.
Selain menjadi sentra produksi, lokasi tersebut juga dikembangkan sebagai tempat edukasi bagi masyarakat yang ingin belajar teknik budidaya gurami dengan sistem sederhana tetapi efektif.
Sunarto mengatakan konsep budidaya yang diterapkan memadukan kolam, kebun, dan kandang sehingga seluruh sumber daya di sekitar dimanfaatkan secara optimal.
Mengandalkan Alam Tanpa Obat Kimia
Salah satu keunggulan budidaya ikan gurami di lokasi ini adalah tidak menggunakan obat-obatan kimia saat ikan terserang penyakit.
Seluruh proses pemeliharaan mengandalkan sistem organik dengan memanfaatkan kondisi alam serta pengelolaan kolam yang disesuaikan dengan kebutuhan ikan.
Hampir seluruh kolam ditanami berbagai jenis tanaman sehingga lingkungan budidaya tetap teduh dan nyaman. Selain mempercantik area kolam, tanaman tersebut juga membantu menjaga kualitas air.
Sunarto menegaskan kenyamanan lingkungan menjadi faktor penting dalam pertumbuhan gurami. Ikan tidak dipelihara dalam kondisi terlalu padat sehingga tidak berebut oksigen, ruang gerak, maupun pakan.
Kolam Tak Ganti Air Hingga Satu Tahun
Metode hemat air menjadi salah satu daya tarik sistem budidaya yang diterapkan.
Beberapa kolam bahkan tidak mengalami pergantian air selama satu tahun penuh sejak benih ditebar hingga ikan siap panen.
Menurut Sunarto, hal tersebut dapat dilakukan karena pengelolaan pakan dilakukan secara terukur dan didukung tanaman air seperti eceng gondok yang berfungsi menyerap amonia.
Eceng gondok juga menjadi tempat berlindung ikan saat cuaca panas sekaligus menyediakan sumber pakan alami dari akar maupun bagian tanamannya.
Jika akar eceng gondok mulai habis atau daunnya menguning, kondisi tersebut menjadi indikator bahwa kebutuhan hijauan untuk gurami perlu ditambah.
Pakan Alami Tekan Biaya Produksi
Untuk menekan biaya budidaya, pakan gurami tidak sepenuhnya menggunakan pelet.
Sunarto menerapkan komposisi sekitar 50 persen pelet berprotein tinggi dan 50 persen berasal dari dedaunan yang mudah ditemukan di sekitar lokasi.
Berbagai jenis daun hijau seperti daun pepaya, daun jati muda, maupun tanaman lain yang tidak beracun dimanfaatkan sebagai pakan tambahan.
Strategi tersebut membuat biaya operasional lebih ringan sekaligus tetap menjaga kualitas pertumbuhan ikan.
Kepadatan Kolam Diatur Agar Ikan Nyaman
Dalam sistem budidaya ini, kepadatan tebar juga diperhatikan.
Idealnya, satu meter kubik kolam hanya diisi sekitar 10 hingga 12 ekor gurami dengan kedalaman air minimal 80 sentimeter.
Untuk kolam yang berada di area terbuka dan terpapar sinar matahari sepanjang hari, keberadaan tanaman air menjadi syarat penting agar suhu kolam tetap stabil.
Dengan kondisi tersebut, gurami dapat tumbuh sehat hingga mencapai ukuran konsumsi sekitar 500 gram per ekor.
Sunarto menyebut waktu pemeliharaan rata-rata sekitar satu tahun. Namun bagi pembudidaya yang telah berpengalaman, panen dapat dilakukan dalam waktu delapan hingga sepuluh bulan.
Didampingi Dinas dan UGM
Pengembangan Kampung Gurami tidak dilakukan sendiri.
Kelompok pembudidaya mendapat pendampingan dari Dinas Perikanan Kabupaten Bantul serta Fakultas Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM).
Melalui pendampingan tersebut, berbagai inovasi budidaya terus dikembangkan, termasuk sistem organik yang ramah lingkungan.
Sunarto berharap semakin banyak masyarakat memanfaatkan lahan pekarangan untuk membudidayakan gurami karena peluang pasarnya masih terbuka lebar, terutama di wilayah DIY.
Menurutnya, masyarakat tidak harus memulai dengan skala besar. Budidaya dapat dimulai dari jumlah benih yang sedikit sambil mempelajari teknik pemeliharaan hingga benar-benar menguasainya.
Ia juga mengingatkan pentingnya membangun relasi dengan sesama pembudidaya maupun calon pembeli agar pemasaran hasil panen lebih mudah.
Selain memproduksi benih dan ikan konsumsi, Kampung Gurami juga membuka layanan konsultasi serta edukasi bagi masyarakat yang ingin belajar budidaya ikan gurami secara langsung.
Editor : M. Helmi Nurhisam