BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Budidaya ikan gurami masih menjadi salah satu peluang usaha perikanan air tawar yang menjanjikan. Tingginya permintaan pasar, harga jual yang relatif stabil, serta biaya pemeliharaan yang dinilai lebih efisien membuat banyak pembudidaya mulai melirik komoditas ini sebagai sumber penghasilan.
Selain memiliki nilai jual lebih tinggi dibanding sejumlah ikan konsumsi lainnya, gurami juga dinilai mampu dipelihara dengan kebutuhan pergantian air yang lebih sedikit. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan banyak petani beralih ke budidaya gurami di tengah kenaikan harga pakan.
Koordinator Unit Kerja Budidaya Air Tawar (UKBAT) Sendangsari, Muhammad Alam Ardina Alfian, mengatakan prospek pengembangan budidaya ikan gurami di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih sangat terbuka.
Harga Stabil dan Hemat Air Jadi Daya Tarik
Menurut Alam, harga ikan gurami cenderung stabil bahkan terus mengalami kenaikan. Saat ini harga gurami konsumsi berada di kisaran Rp40 ribu per kilogram atau lebih.
Selain faktor harga, kebutuhan air dalam budidaya gurami juga relatif lebih hemat dibanding beberapa jenis ikan air tawar lainnya.
"Ketika harga pakan naik, banyak petani mulai beralih ke gurami. Selain itu, gurami juga bisa diberi tambahan pakan berupa daun-daunan seperti daun talas maupun daun sente sehingga biaya pakan dapat ditekan," jelasnya.
Ia juga menyebut kondisi wilayah DIY yang semakin padat penduduk membuat efisiensi penggunaan air menjadi salah satu pertimbangan utama dalam memilih komoditas budidaya.
Pembenihan Menjadi Tahap Paling Menentukan
Alam menjelaskan keberhasilan budidaya gurami sangat bergantung pada kualitas pembenihan.
Indukan yang digunakan harus berasal dari induk unggul dan sebisa mungkin telah bersertifikat. Selain itu, kualitas air selama proses pendederan harus tetap stabil agar tingkat kelangsungan hidup benih tetap tinggi.
Tahap yang paling kritis terjadi saat peralihan pakan alami menuju pakan buatan.
Menurutnya, proses adaptasi tersebut harus dilakukan secara bertahap karena sangat memengaruhi tingkat kelulushidupan larva.
Analisis Usaha Pembenihan Gurami
Berdasarkan pengalaman UKBAT Sendangsari, analisis usaha pembenihan gurami masih cukup menarik.
Dalam skala 1.000 ekor, kebutuhan telur diperkirakan sekitar Rp65 per butir. Selama masa pendederan awal dibutuhkan sekitar dua liter cacing sutra sebagai pakan.
Selanjutnya benih diberi pakan pelet berbentuk pasta selama satu bulan, kemudian dilanjutkan menggunakan pelet butiran selama satu bulan berikutnya.
Total kebutuhan modal diperkirakan sekitar Rp300 ribu untuk setiap 1.000 ekor benih.
Setelah dipelihara selama sekitar 80 hingga 90 hari, benih berukuran 3–5 sentimeter dapat dipasarkan dengan tingkat kelangsungan hidup (survival rate/SR) sekitar 70 persen.
Pendapatan yang diperoleh diperkirakan mencapai Rp500 ribu sehingga terdapat margin sekitar Rp200 ribu untuk setiap 1.000 ekor benih.
Tahapan Pembenihan Gurami
Proses pembenihan diawali dengan persiapan kolam pemijahan yang dapat menggunakan kolam tanah, kolam terpal, maupun kolam permanen.
Ukuran minimal kolam sekitar 3 x 3 meter dengan kedalaman air 70–90 sentimeter. Suhu air dijaga pada kisaran 28–30 derajat Celsius dengan pH 7–8.
Kolam juga dilengkapi media ijuk sebagai bahan pembuatan sarang.
Indukan jantan dan betina dipilih berdasarkan kondisi fisik serta umur minimal dua tahun.
Bobot minimal indukan jantan sekitar 1,4 kilogram, sedangkan betina minimal 1,2 kilogram.
Setelah pemijahan berlangsung, sarang yang telah berisi telur diangkat secara hati-hati untuk dipindahkan ke tempat penetasan.
Selama proses penetasan, telur yang tidak fertil harus dipisahkan agar tidak memengaruhi kualitas air maupun telur sehat lainnya.
Larva yang telah menetas diberi pakan cacing sutra sebelum secara bertahap dikenalkan pada pakan pelet berbentuk pasta dan pelet butiran.
Budidaya Gurami Dinilai Tetap Menguntungkan
Pembudidaya asal Kulon Progo, Wagiran, menilai budidaya gurami masih memberikan keuntungan yang lebih baik dibanding beberapa komoditas lain.
Menurutnya, kenaikan harga pakan tidak terlalu membebani karena gurami tetap memiliki margin usaha yang cukup tinggi.
Ia juga menerapkan kepadatan tebar hingga 65 ekor per meter kubik pada kolam miliknya.
Namun, untuk masyarakat umum, kepadatan yang disarankan berada di kisaran 40–50 ekor per meter kubik agar pengelolaan tetap optimal.
Menurut Wagiran, penerapan kepadatan tinggi harus dibarengi disiplin dalam menjalankan standar operasional, termasuk penggunaan probiotik, vitamin, hingga fermentasi batang pisang sebagai bagian dari perawatan ikan.
Ia juga menerapkan sistem pembuangan amonia melalui saluran dasar kolam sehingga tidak perlu melakukan sifon secara manual yang berpotensi membuat ikan stres.
Akademisi UGM Soroti Pentingnya Benih Berkualitas
Akademisi Departemen Perikanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Hardaningsih, menegaskan bahwa pembenihan merupakan fondasi utama dalam budidaya gurami.
Menurutnya, kualitas benih akan menentukan kelancaran proses budidaya hingga masa panen.
Ia mengakui sektor budidaya gurami sempat terdampak penyakit pada 2017–2018 yang menyebabkan banyak indukan mati.
Namun saat ini kondisi mulai pulih dan dinilai menjadi momentum yang baik untuk kembali mengembangkan usaha gurami.
Hardaningsih juga menekankan pentingnya penggunaan induk unggul, pengelolaan kolam yang baik, serta perawatan telur hingga benih agar menghasilkan kualitas ikan yang optimal.
Menurutnya, lahan seluas 100 meter persegi sudah cukup untuk memulai usaha pembenihan dengan membagi area menjadi 10 kolam yang masing-masing diisi satu induk jantan dan tiga induk betina.
Dengan sistem tersebut, produksi benih dinilai dapat terus tersedia untuk memenuhi kebutuhan pembudidaya.
Kunci Sukses Pembenihan
Sebagai penutup, para narasumber menekankan bahwa keberhasilan budidaya ikan gurami sangat dipengaruhi oleh kualitas indukan, pengelolaan air, penanganan telur, serta proses adaptasi pakan larva.
Tahapan tersebut menjadi faktor penting untuk menghasilkan benih berkualitas tinggi sekaligus meningkatkan peluang keberhasilan usaha budidaya gurami dalam jangka panjang.
Editor : M. Helmi Nurhisam