BLITAR - Kampung Coklat Blitar menjadi salah satu destinasi wisata edukasi yang tidak hanya menawarkan rekreasi, tetapi juga menyimpan kisah inspiratif tentang perjalanan sebuah usaha berbasis kakao. Berlokasi di Kabupaten Blitar, tempat ini berkembang dari kebun kakao sederhana menjadi kawasan wisata edukasi sekaligus pusat pengolahan cokelat yang dikenal luas.
Perjalanan Kampung Coklat Blitar bermula ketika pemilik usaha, Haji Cholid Mustofa, mengalami keterpurukan setelah bisnis peternakan ayam petelur yang dijalankannya mengalami kolaps. Kondisi tersebut justru menjadi titik awal untuk mengembangkan kebun kakao peninggalan keluarga hingga akhirnya melahirkan ekosistem bisnis yang kini meliputi perdagangan biji kakao, industri pengolahan cokelat, dan sektor wisata edukasi.
Kini, Kampung Coklat Blitar tidak hanya menjadi tujuan wisata keluarga, tetapi juga pusat edukasi mengenai budidaya kakao, proses produksi cokelat, hingga pemberdayaan masyarakat. Konsep tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat destinasi ini terus berkembang dan menarik minat wisatawan dari berbagai daerah.
Berawal dari Kebun Kakao hingga Membangun Industri Cokelat
Direktur Pengembangan Bisnis PT Kampung Coklat Blitar, Aksen Al Fatah, menjelaskan bahwa perjalanan usaha dimulai dari kebun kakao yang sebelumnya tidak dikelola secara maksimal.
Saat hasil panen mulai dipasarkan, harga biji kakao yang diterima petani dinilai masih rendah. Setelah mencari informasi secara langsung ke Surabaya, diketahui bahwa harga jual sebenarnya jauh lebih tinggi dibandingkan harga yang diterima melalui pengepul.
Temuan tersebut mendorong Kampung Coklat mulai menjadi pusat perdagangan biji kakao. Seiring waktu, semakin banyak petani dari berbagai daerah yang memasok hasil panennya ke Blitar.
Tidak hanya berasal dari Blitar, pasokan kakao juga datang dari Madiun, Ponorogo, Gunungkidul, Batang, Pekalongan, hingga wilayah lainnya. Saat ini, volume perdagangan biji kakao yang dikelola mencapai belasan ton setiap hari untuk memenuhi kebutuhan industri dalam negeri maupun ekspor.
Wisata Edukasi Jadi Strategi Memperkenalkan Produk Lokal
Perkembangan berikutnya terjadi ketika perusahaan membangun pabrik pengolahan cokelat pada 2013. Setahun kemudian, kawasan tersebut dikembangkan menjadi wisata edukasi dengan nama Kampung Coklat.
Langkah tersebut terbukti berhasil menarik perhatian masyarakat. Dari lahan yang awalnya hanya sekitar 250 meter persegi, kini kawasan Kampung Coklat berkembang menjadi lebih dari lima hektare.
Konsep wisata dipilih bukan sekadar sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai media edukasi mengenai proses budidaya kakao, pengolahan cokelat, hingga pentingnya meningkatkan nilai tambah hasil pertanian Indonesia.
Melalui galeri edukasi, area perkebunan, hingga demonstrasi pengolahan cokelat, pengunjung diajak memahami perjalanan kakao sejak ditanam hingga menjadi produk siap konsumsi.
Mendorong Produk Lokal Bernilai Tambah
Selain menghasilkan berbagai jenis cokelat, Kampung Coklat juga mengembangkan beragam produk olahan berbasis kakao yang dikombinasikan dengan makanan tradisional.
Produk seperti jenang cokelat, dodol cokelat, keripik pisang cokelat, hingga berbagai camilan lainnya menjadi bagian dari strategi meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal.
Model bisnis tersebut juga membuka peluang bagi masyarakat sekitar untuk menjadi pemasok berbagai produk yang dipasarkan di kawasan wisata.
Menariknya, sejumlah karyawan tidak hanya bekerja sebagai pegawai, tetapi juga menjalankan usaha sendiri dengan memasok produk ke Kampung Coklat. Konsep ini diharapkan mampu mendorong lahirnya lebih banyak pelaku usaha baru di lingkungan sekitar.
Bertahan Saat Pandemi Berkat Inovasi
Salah satu tantangan terbesar yang pernah dihadapi adalah ketika sektor pariwisata mengalami penurunan akibat pandemi.
Meski demikian, manajemen memilih mempertahankan seluruh tenaga kerja dan tidak melakukan pemutusan hubungan kerja. Saat itu sekitar 250 karyawan tetap bekerja, bahkan jumlahnya kini terus bertambah.
Di masa tersebut, Kampung Coklat justru menghadirkan inovasi berupa Tani Modern, sebuah area yang menjual bibit tanaman, bunga, sayuran, dan buah hasil budidaya para karyawan.
Konsep tersebut lahir sebagai respons terhadap meningkatnya minat masyarakat pada kegiatan berkebun di rumah sekaligus menjadi sumber pendapatan tambahan bagi para pekerja.
Mengutamakan Manfaat bagi Masyarakat
Selain berfokus pada pengembangan bisnis, Kampung Coklat juga mengedepankan nilai pemberdayaan masyarakat dan pendidikan.
Setiap pekan rutin diselenggarakan kegiatan pengajian yang diikuti ribuan peserta dari berbagai kalangan. Menurut manajemen, keseimbangan antara pengelolaan usaha dan pembinaan spiritual menjadi bagian penting dalam membangun budaya perusahaan.
Di sisi lain, wisata edukasi terus dimanfaatkan sebagai sarana mengenalkan potensi kakao Indonesia kepada pelajar, mahasiswa, kelompok tani, hingga masyarakat umum.
Pengunjung diajak memahami bahwa Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kakao terbesar di dunia sehingga memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri cokelat bernilai tambah.
Dengan menggabungkan sektor perdagangan kakao, industri pengolahan, wisata edukasi, serta pemberdayaan masyarakat, Kampung Coklat Blitar berkembang menjadi contoh bagaimana potensi pertanian lokal dapat diolah menjadi ekosistem usaha yang berkelanjutan. Model tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa inovasi, kolaborasi, dan komitmen terhadap masyarakat dapat berjalan beriringan dalam membangun sebuah destinasi wisata edukasi yang terus berkembang.
Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : PecahTelur