Rambut Monte Blitar Simpan Legenda Ikan Dewa dan Mbah Monte yang Terus Hidup di Tengah Masyarakat

Muhammad Rusdian Nuzula • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 18:21 WIB
Rambut Monte Blitar menyimpan legenda Mbah Monte, ikan dewa, dan naga penjaga telaga yang diwariskan turun-temurun. Simak kisah lengkap serta pesan moralnya. (PINTEREST)
Rambut Monte Blitar menyimpan legenda Mbah Monte, ikan dewa, dan naga penjaga telaga yang diwariskan turun-temurun. Simak kisah lengkap serta pesan moralnya. (PINTEREST)

BLITAR - Rambut Monte Blitar dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam yang menyimpan keindahan sekaligus cerita rakyat yang diwariskan secara turun-temurun. Berada di kawasan lereng Gunung Kawi, telaga ini memiliki air yang jernih berwarna biru kehijauan dan menjadi habitat ikan dewa yang hingga kini masih dihormati oleh masyarakat sekitar.

Tak hanya menawarkan panorama alam yang menenangkan, Rambut Monte Blitar juga lekat dengan legenda tentang Mbah Monte, seorang pertapa bijaksana yang dipercaya menjaga kesucian telaga. Kisah tersebut terus diceritakan sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal sekaligus pengingat pentingnya menjaga kelestarian alam.

Legenda Rambut Monte Blitar mengisahkan hubungan harmonis antara manusia dan alam yang kemudian terusik oleh keserakahan. Meski merupakan cerita rakyat yang berkembang di masyarakat, nilai moral yang terkandung di dalamnya masih relevan hingga sekarang.

Baca Juga: Legenda Gunung Kelud dan Candi Penataran Terungkap, Konon Dibangun untuk Meredakan Amarah Gunung Berapi

Telaga Jernih yang Menjadi Sumber Kehidupan

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, telaga Rambut Monte berada di sebuah lembah subur di lereng Gunung Kawi. Airnya yang sangat jernih mengalir dari sumber mata air alami dan membentuk telaga berwarna biru kehijauan yang memancarkan suasana damai.

Masyarakat sekitar sejak dahulu meyakini telaga tersebut sebagai kawasan yang suci. Airnya menjadi sumber kehidupan yang menghidupi lahan pertanian sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari warga.

Di dalam telaga hidup ikan-ikan berukuran cukup besar yang dikenal sebagai ikan sengkaring atau lebih populer disebut ikan dewa. Keberadaan ikan tersebut dipercaya sebagai simbol keseimbangan alam sehingga tidak seorang pun berani menangkap ataupun mengganggunya.

Tradisi menghormati telaga juga diwujudkan melalui berbagai kebiasaan masyarakat, seperti menjaga kebersihan kawasan, mengambil air dengan penuh rasa hormat, hingga menggelar sedekah bumi sebagai ungkapan syukur atas limpahan hasil panen.

Kabut tipis yang sering menyelimuti telaga pada pagi hari serta suara gemericik air menjadikan kawasan ini memiliki suasana yang tenang. Karena itulah Rambut Monte bukan sekadar sumber air, tetapi juga menjadi bagian penting dari kehidupan spiritual masyarakat setempat.

Sosok Mbah Monte sebagai Penjaga Telaga

Legenda kemudian memperkenalkan sosok Mbah Monte, seorang pertapa tua yang tinggal di sebuah gua di sekitar telaga.

Mbah Monte digambarkan sebagai tokoh yang bijaksana, sederhana, dan dihormati masyarakat. Ia mengabdikan hidupnya untuk menjaga kelestarian alam, khususnya Telaga Rambut Monte beserta ikan dewa yang hidup di dalamnya.

Dalam cerita rakyat tersebut, Mbah Monte selalu mengajarkan pentingnya hidup selaras dengan alam, menjauhi sifat tamak, serta menghormati seluruh makhluk ciptaan Tuhan.

Ia juga dikenal membawa sebuah tongkat kayu sederhana yang dipercaya memiliki kekuatan spiritual. Namun, kesaktiannya tidak pernah digunakan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk menjaga keseimbangan alam.

Penduduk desa kerap meminta nasihat kepada Mbah Monte mengenai berbagai persoalan kehidupan. Petuah-petuahnya menjadi pedoman masyarakat dalam menjaga hubungan harmonis dengan lingkungan sekitar.

Keserakahan Jatasura Memicu Konflik

Kedamaian Telaga Rambut Monte mulai terusik ketika datang seorang saudagar kaya bernama Jatasura.

Dalam legenda tersebut, Jatasura digambarkan sebagai sosok yang tamak dan hanya memandang ikan dewa sebagai komoditas bernilai tinggi. Ia tidak mempercayai cerita mengenai kesucian telaga maupun berbagai pantangan yang berlaku.

Jatasura kemudian merencanakan untuk menguras seluruh air telaga agar ikan-ikan dewa lebih mudah ditangkap. Bersama para pekerjanya, ia mulai membuat saluran besar yang dapat mengalirkan air telaga ke daerah yang lebih rendah.

Tindakan tersebut membuat masyarakat resah karena khawatir sumber kehidupan mereka akan rusak. Namun, mereka tidak mampu menghentikan rencana itu dan hanya berharap ada jalan keluar.

Pertemuan Mbah Monte dan Jatasura

Baca Juga: Legenda Gunung Kelud dan Candi Penataran Terungkap, Konon Dibangun untuk Meredakan Amarah Gunung Berapi

Mendengar kabar tersebut, Mbah Monte mendatangi telaga dan meminta Jatasura menghentikan perbuatannya.

Ia mengingatkan bahwa telaga merupakan anugerah yang harus dijaga, sedangkan ikan dewa bukanlah benda yang dapat diperjualbelikan. Namun, Jatasura menolak nasihat tersebut dan tetap melanjutkan rencananya.

Legenda kemudian menceritakan bahwa Mbah Monte menancapkan tongkatnya ke tanah sebagai batas agar tidak ada yang melanjutkan tindakan merusak telaga.

Saat Jatasura mencabut tongkat itu dengan penuh kesombongan, dari bekas tancapannya muncul semburan air yang sangat deras. Air tersebut digambarkan menghanyutkan Jatasura beserta para pengikutnya hingga akhirnya mereka lenyap ditelan bumi.

Dalam kisah itu pula, tongkat Mbah Monte berubah menjadi seekor naga besar yang kemudian menjadi penjaga abadi Telaga Rambut Monte.

Menjadi Warisan Budaya dan Pengingat Kelestarian Alam

Setelah peristiwa tersebut, legenda menyebut Mbah Monte kembali menjalani pertapaan hingga akhirnya moksa atau menghilang tanpa jejak.

Sementara itu, naga penjaga dipercaya terus menjaga telaga beserta ikan dewa sehingga keberadaannya tetap lestari. Cerita inilah yang membuat masyarakat terus menghormati kawasan Rambut Monte hingga sekarang.

Saat ini Telaga Rambut Monte menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Blitar yang terkenal dengan kejernihan air dan ikan dewanya. Pengunjung datang untuk menikmati keindahan alam sekaligus mengenal cerita rakyat yang berkembang di kawasan tersebut.

Terlepas dari unsur legenda yang menjadi bagian dari tradisi lisan masyarakat, kisah Mbah Monte menyampaikan pesan universal tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam, menghormati sumber kehidupan, serta menghindari sikap serakah yang dapat membawa kerusakan bagi lingkungan.

 

Editor : Muhammad Rusdian Nuzula
Sumber : Top Histori
Rambut Monte Blitar Legenda Rambut Monte Mbah Monte telaga rambut monte Ikan Dewa