MALANG - Gunung Kawi Malang menyimpan berbagai tradisi, situs bersejarah, dan tempat ibadah yang digunakan sejumlah kepercayaan. Dalam penelusuran terbaru, kawasan ini memperlihatkan sesaji, dupa, buku tamu, makam, hingga bangunan keagamaan yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di kawasan Gunung Kawi.
Keraton Gunung Kawi Penuh Dupa dan Sesaji
Gunung Kawi Malang kembali ditelusuri untuk melihat lebih jauh aktivitas dan tradisi yang berlangsung di dalam kawasan keraton. Dalam video tersebut, terlihat sejumlah dupa, bunga, kopi, serta perlengkapan lain yang ditempatkan di beberapa titik.
Penelusuran juga memperlihatkan patung Hanoman dan beberapa makam yang disebut berkaitan dengan tokoh yang dihormati masyarakat setempat. Juru kunci menjelaskan bahwa kawasan tersebut memiliki tradisi yang berkaitan dengan kejawen.
Salah satu bagian yang menarik perhatian adalah buku tamu di dalam ruangan keraton. Buku tersebut berisi nama dan berbagai tujuan pengunjung, mulai dari usaha, kelancaran rezeki, hingga keinginan melunasi utang.
Dalam rekaman, terdapat pula catatan pengunjung yang menuliskan harapan agar usaha lancar, rezeki membaik, dan utang dapat dilunasi. Keberadaan buku tersebut menjadi salah satu bagian yang ditunjukkan saat penelusuran kawasan keraton.
Juru kunci juga menjelaskan bahwa pada hari-hari tertentu terdapat tradisi penyediaan sesaji. Pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, misalnya, perlengkapan yang disebut antara lain kopi pahit, teh manis, rokok kretek tanpa filter, nasi putih, bunga, serta dupa.
Tradisi Sesaji dan Bunga Layon di Gunung Kawi
Menurut juru kunci, perlengkapan tersebut disiapkan oleh tamu dan kemudian diserahkan kepada pihak yang mengelola kawasan. Dupa atau menyan digunakan ketika menyampaikan hajat pengunjung.
Selain sesaji, terdapat pula bunga kering yang disebut bunga layon. Bunga tersebut berasal dari bunga bekas sesaji yang dikeringkan dan kemudian dapat dibawa pulang oleh pengunjung.
Juru kunci mengatakan bunga layon terkadang disimpan di dompet atau laci uang. Dalam kepercayaan yang berkembang di kawasan tersebut, bunga itu dipercaya berkaitan dengan keberuntungan.
Tradisi lainnya terlihat di area makam Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggulwati. Juru kunci menyebut kedua tokoh tersebut berkaitan dengan sejarah dan kepercayaan kejawen di kawasan Gunung Kawi.
Di lokasi itu terdapat pula Sanggar Pamujan yang disebut sebagai tempat pertapaan pada masa lalu. Pengunjung dapat datang untuk berdoa sesuai keyakinannya masing-masing.
Baca Juga: Keluarga Pelaku Perundungan di Blitar Pilih Mundur dari Sekolah, Ini Respon SMPN 1 Doko
Gunung Kawi Jadi Ruang Budaya dan Lintas Kepercayaan
Selain situs yang berkaitan dengan kejawen, Gunung Kawi Malang juga memiliki tempat ibadah dari kepercayaan lain. Salah satunya Pura Giri Kawijayan yang masih digunakan umat Hindu pada hari-hari besar seperti Galungan, Kuningan, dan Saraswati.
Dalam penelusuran, terdapat pula bangunan yang disebut vihara, lengkap dengan tempat dupa, lilin, lonceng, dan sejumlah patung. Kreator memilih tidak masuk ke beberapa area ibadah untuk menjaga sikap saling menghormati terhadap keyakinan yang berbeda.
Kawasan Gunung Kawi juga memiliki pohon besar yang diberi kain hitam-putih. Menurut penjelasan juru kunci, kain tersebut memiliki filosofi tersendiri dalam kepercayaan masyarakat setempat dan berkaitan dengan simbol untuk menjaga manusia dari gangguan roh.
Penelusuran kemudian berlanjut hingga area yang mengarah ke puncak. Namun, perjalanan terhenti karena kawasan tersebut sudah memasuki area hutan dan kondisi semakin berkabut.
Di akhir video, kreator menekankan bahwa Gunung Kawi dapat dikunjungi untuk mempelajari sejarah dan budaya. Ia menyarankan pengunjung memahami berbagai tradisi yang ada tanpa harus mengikuti ritual yang bertentangan dengan keyakinan pribadi.
Dengan beragam situs, makam, tempat ibadah, tradisi sesaji, serta cerita yang berkembang di masyarakat, Gunung Kawi Malang menunjukkan sisi budaya yang jauh lebih luas daripada sekadar cerita pesugihan. Kawasan ini juga menjadi ruang pertemuan berbagai tradisi dan kepercayaan yang hidup di tengah masyarakat.
Source: Youtube/@MarcelRadhival
Editor : Arsya Aulia Velinka Putri