Jamasan Kiai Bonto di Blitar, Tradisi Leluhur yang Terus Dilestarikan Warga Desa Kebonsari

Agus Muhaimin • Dipublikasikan Kamis, 27 Agustus 2026 | 17:21 WIB
Agus muhaimin/radar blitar
BERBURU BERKAH: Warga tampak antusias menangkap air sisa jamasan kiai bonto dari panggung.
Agus muhaimin/radar blitar
TRADISI: Juru Kunci Kiai Bonto dan para tokoh di Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan mengikuti jamasan, Kamis (27/8). 

BLITAR KAWENTAR – Sejak pagi  ratusan warga tampak berduyun-duyun menuju sebuah area perbukitan di Dusun Pakel, Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Mereka datang untuk menyaksikan sekaligus mengikuti salah satu tradisi yang selalu dinanti setiap tahun, Jamasan Kiai Bonto.

Meski lokasi jamasan berada di kawasan perbukitan dengan akses yang tidak terlalu mudah, hal itu tidak menyurutkan antusiasme masyarakat.

Menjelang pukul 10.00, warga sudah memenuhi area jamasan. Jamasan Kiai Bonto bukan sekadar prosesi memandikan sebuah benda pusaka. Bagi masyarakat setempat, tradisi tersebut merupakan bagian dari warisan leluhur yang telah berlangsung jauh sebelum Indonesia merdeka.

Baca Juga: PBB-P2 Kota Blitar Belum Capai 80 Persen, Juru Pungut Dikerahkan Kejar Tunggakan

Pusaka berbentuk wayang itu dibawa secara kirab dari tempat penyimpanan menuju lokasi jamasan oleh juru kunci dan rombongan.

Setibanya di lokasi, prosesi jamasan kemudian dilakukan di tempat yang dibuat lebih tinggi dari area berkumpulnya masyarakat. Diawali dengan pembacaan legenda, Kiai Bonto dimandikan menggunakan air yang telah disiapkan bersama bunga.

Dari bawah, warga tampak sabar menunggu. Bukan hanya mengikuti prosesi dengan hikmat, mereka juga berharap mendapatkan berkah  tradisi tersebut, melalui air dan bunga bekas jamasan.

Baca Juga: Libur Maulid Nabi 2026 Dongkrak Mobilitas Penumpang Kereta Api, Puluhan Ribu Orang Bepergian Lewat D

Agus muhaimin/radar blitar
Warga tampak antusias menangkap air sisa jamasan kiai bonto dari panggung.
Agus muhaimin/radar blitar
Warga tampak antusias menangkap air sisa jamasan kiai bonto dari panggung.

Sagita, salah seorang warga, mengatakan masyarakat memiliki keyakinan bahwa air bekas jamasan tersebut dapat menjadi media untuk kebaikan. Karena itu, tidak sedikit warga yang rela menunggu hingga prosesi selesai.

“Warga memang sudah menunggu dari pagi. Banyak yang ingin melihat langsung dan ada juga yang menunggu air jamasan,” kata Sagita.

Bagi warga Kebonsari dan desa-desa di sekitarnya, Jamasan Kiai Bonto memang memiliki daya tarik tersendiri. Momentum tersebut seperti menjadi pertemuan antara tradisi, sejarah, dan kebersamaan warga yang berlangsung dari generasi ke generasi.

Baca Juga: Polisi Gandeng Bapas Uji Rekomendasi Diversi Kasus Bullying Pelajar MTs di Wlingi, Hasil Visum Ungka

Kepala Desa Kebonsari, Subakri, bersyukur tradisi tersebut masih bisa digelar setiap tahun. Terlebih, Jamasan Kiai Bonto kini tidak hanya menjadi tradisi masyarakat setempat, tetapi telah berkembang menjadi salah satu event daerah.

“Alhamdulillah setiap tahun tradisi ini masih bisa kita laksanakan. Ini sudah menjadi bagian dari identitas dan ikon Desa Kebonsari,” ujar Subakri.

Baca Juga: Suzuki Karimun, Mobil Kotak yang Dulu Diremehkan Kini Jadi Buruan Penggemar Modifikasi

Namun, di balik kemeriahan tersebut, Subakri melihat masih ada pekerjaan rumah yang perlu dilakukan. Salah satunya berkaitan dengan aksesibilitas menuju lokasi jamasan.

Menurut dia, penataan dan perbaikan akses menjadi kebutuhan penting apabila tradisi tersebut ingin dikembangkan agar semakin nyaman dan mampu menarik lebih banyak masyarakat.

Terlebih, semakin tinggi antusiasme dan jumlah kunjungan, semakin besar pula peluang masyarakat sekitar mendapatkan manfaat ekonomi.

Baca Juga: Monyet Ekor Panjang Berkeliaran di Permukiman Sutojayan, Damkar Blitar Turun Tangan Evakuasi

“Kalau pengunjung semakin banyak, tentu dampaknya juga positif bagi perekonomian desa. Masyarakat bisa ikut bergerak,” jelasnya.

Subakri yang tahun ini memasuki akhir masa jabatannya berharap tradisi yang telah menjadi ikon tersebut tetap dilanjutkan oleh pemerintahan desa berikutnya. Bahkan, dia berharap pelaksanaannya ke depan dapat berlangsung dengan kondisi dan suasana yang lebih baik.

Pesannya, pemerintahan desa selanjutnya tidak berjalan sendiri. Kolaborasi dengan berbagai pihak, terutama pemerintah daerah, diperlukan agar pengembangan tradisi tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial tahunan.

Baca Juga: 6 Bulan Pakai Suzuki Karimun Wagon R, Ini Kelebihan dan Kekurangannya yang Perlu Diketahui

Utamanya, kata Subakri, adalah membenahi akses menuju lokasi jamasan. Dengan akses yang lebih baik, masyarakat akan lebih mudah datang dan menikmati rangkaian tradisi tersebut.

“Harapan saya, pemerintahan desa berikutnya bisa terus melaksanakan tradisi ini. Kalau bisa, aksesnya juga ditata dan diperbaiki dengan berkolaborasi dengan pemerintah daerah, sehingga Jamasan Kiai Bonto bisa semakin baik dan semakin dikenal masyarakat luas,” kata Subakri.(hai)

Editor : M. Subchan Abdullah
Jamasan Kiai Bonto kademangan blitar blitar tradisi leluhur Pusaka