BLITAR KAWENTAR - Gatot Tiwul Yutum menjadi salah satu kuliner tradisional legendaris yang menarik perhatian saat berkunjung ke Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berlokasi di Jalan Pramuka Nomor 36, Wonosari, Gatot Tiwul Yutum telah hadir sejak 1985 dan kini memasuki generasi kedua dengan beragam varian rasa serta produk instan untuk oleh-oleh.
Kuliner berbahan dasar singkong ini menjadi bagian dari kekayaan pangan tradisional Gunungkidul. Gatot dibuat dari gaplek yang melalui proses khusus hingga menghasilkan warna gelap, sedangkan tiwul dibuat dari gaplek putih yang digiling dan diolah menjadi makanan bercita rasa khas.
Berdiri Sejak 1985, Kini Masuk Generasi Kedua
Perjalanan Gatot Tiwul Yutum bermula pada 1985. Menurut Selamat Riyadi, generasi kedua pengelola usaha tersebut, pada awalnya produk dijajakan secara berkeliling dari pasar ke pasar.
Usaha kemudian berkembang pada 2004 ketika produksi mulai dilakukan di dapur sendiri. Setahun atau dua tahun berikutnya, mereka membuka kios kecil berbahan bambu. Sekitar 2010 hingga 2011, tempat usaha kembali dikembangkan hingga menjadi seperti sekarang.
Nama Yutum sendiri memiliki cerita tersendiri. Nama tersebut berasal dari kebiasaan pelanggan memanggil ibunya, Tumirah, ketika masih berjualan secara berkeliling. Nama panggilan itu kemudian dipakai sebagai identitas usaha.
Baca Juga: Pantai Serang Blitar Tawarkan Tiket Murah, Kuliner Seafood hingga Spot Bermain Aman untuk Anak
Seiring perkembangan zaman, Gatot Tiwul Yutum tidak hanya mempertahankan rasa original. Produk ini juga hadir dengan sejumlah pilihan rasa seperti cokelat, kopi, pandan, dan keju.
Dari Gatot Original hingga Tiwul Coblong
Salah satu varian yang menarik perhatian adalah tiwul coblong. Berbeda dengan tiwul biasa, varian ini memiliki tambahan gula jawa yang meleleh di bagian tengah.
Saat dibelah, gula merah terlihat berada di dalam tiwul sehingga memberikan sensasi manis pada setiap suapan. Selain tiwul coblong, tersedia pula varian original dan extra gula jawa.
Inovasi lainnya adalah produk tiwul instan. Produk tersebut dibuat agar konsumen dari luar daerah dapat membawa pulang tiwul dan mengolahnya sendiri.
Menurut pengelola, produk fresh umumnya dapat bertahan sekitar dua hingga tiga hari. Sementara itu, produk instan memiliki masa simpan hingga satu tahun sehingga lebih praktis untuk dijadikan oleh-oleh.
Baca Juga: Pantai Serang Blitar Tawarkan Wisata Pantai Lengkap dengan ATV, Kuliner, dan Area Camping
Proses Pembuatan Masih Mempertahankan Cara Tradisional
Keunikan Gatot Tiwul Yutum juga terlihat dari proses pembuatannya. Di salah satu cabangnya, pengunjung bahkan dapat melihat langsung proses produksi.
Radmi Nengsih menjelaskan, pembuatan gatot diawali dengan mengolah singkong menjadi gaplek. Gaplek tersebut kemudian melalui proses fermentasi hingga warnanya berubah menjadi hitam.
Setelah kering, bahan direndam selama dua malam. Selanjutnya dibersihkan dan dipotong-potong, kemudian direndam kembali selama satu malam sebelum dicuci hingga bersih.
Proses berikutnya adalah pengukusan selama sekitar tiga jam. Setelah matang, gatot dicampur dengan gula jawa yang sebelumnya telah dimasak hingga mengental.
Sementara itu, pembuatan tiwul menggunakan gaplek berwarna putih. Gaplek digiling hingga halus, kemudian dicampur dengan air gula. Adonan tersebut disaring untuk memisahkan tekstur halus dan kasar sebelum akhirnya dikukus.
Baca Juga: Kuliner Legendaris Blitar Wajib Dicoba Seharian Jelajahi Kota Proklamator dengan Cita Rasa Otentik
Buka Sejak Pagi untuk Pemburu Oleh-Oleh
Gatot Tiwul Yutum membuka tokonya mulai pukul 06.00 hingga 20.00. Jam operasional tersebut sengaja dimulai sejak pagi karena banyak konsumen yang membeli produk sebagai oleh-oleh sebelum melanjutkan perjalanan.
Selain berada di Jalan Pramuka, Gatot Tiwul Yutum juga memiliki cabang di kawasan Gading. Lokasinya berada di jalur menuju Wonosari yang juga menjadi salah satu akses wisatawan menuju berbagai destinasi di Gunungkidul.
Kehadiran Gatot Tiwul Yutum menunjukkan bagaimana makanan tradisional dapat terus bertahan melalui regenerasi dan inovasi. Dari jajanan berbahan gaplek yang sederhana, produk ini berkembang menjadi oleh-oleh dengan beragam pilihan rasa dan kemasan instan tanpa meninggalkan karakter kuliner khas Gunungkidul.
Editor : Difa'un NadhirohSumber : Diolah dari berbagai sumber