BLITAR KAWENTAR - Kaledo khas Palu dikenal sebagai kuliner tradisional Sulawesi Tengah yang memiliki kuah bening dengan cita rasa asam dan pedas. Berbeda dari sup daging pada umumnya, hidangan ini menggunakan tulang sapi yang masih memiliki daging sekaligus sumsum sebagai bahan utama. Kaledo biasanya disantap bersama singkong rebus, sambal cabai rawit hijau, jeruk nipis, dan bawang merah goreng.
Kaledo dibuat dengan bahan yang relatif sederhana. Tidak banyak rempah digunakan dalam kuahnya. Cita rasa utama justru berasal dari tulang dan daging sapi, cabai rawit hijau, serta asam jawa mentah.
Tulang Sapi dan Sumsum Jadi Bahan Utama
Untuk membuat kaledo, digunakan sekitar 750 gram iga sapi dan tulang yang masih memiliki sumsum. Bagian tulang menjadi unsur penting karena kaldu yang dihasilkan memberikan rasa gurih pada kuah.
Daging sapi terlebih dahulu dicuci bersih. Air kemudian dididihkan sebelum tulang dan iga dimasukkan. Saat proses perebusan berlangsung, muncul busa berwarna keabu-abuan di permukaan air.
Busa tersebut harus diambil agar kuah menjadi lebih bening. Proses ini dilakukan beberapa kali selama perebusan. Daging kemudian dimasak hingga iga benar-benar empuk. Digunakan teknik perebusan 10 menit, kemudian api dimatikan selama 30 menit, lalu direbus kembali selama 10 menit.
Baca Juga: Pantai Serang Blitar Tawarkan Tiket Murah, Kuliner Seafood hingga Spot Bermain Aman untuk Anak
Setelah agak dingin, lemak yang mengapung di permukaan kuah juga dibuang. Langkah tersebut membuat kuah kaledo lebih bening dan tidak terlalu berminyak.
Asam Jawa Mentah dan Cabai Jadi Kunci
Kaledo memiliki bumbu yang sederhana. Tidak digunakan bawang merah, bawang putih, lada, serai, maupun berbagai rempah seperti pada banyak hidangan berkuah lainnya.
Cabai rawit hijau menjadi salah satu bahan wajib. Sekitar 150 gram cabai direbus sebentar, kemudian diulek kasar bersama garam dan sedikit penyedap. Sebagian cabai dimasukkan ke dalam kuah, sedangkan sisanya digunakan sebagai sambal pelengkap saat penyajian.
Bahan penting berikutnya adalah asam jawa mentah. Sekitar 150 gram asam direbus hingga lunak dan pecah. Setelah itu, asam dihancurkan menggunakan air rebusannya untuk mengeluarkan sari asam.
Sari tersebut kemudian disaring hingga menghasilkan sekitar 225 mililiter air asam jawa. Air asam dimasukkan secara bertahap ke dalam kuah agar tingkat keasamannya bisa disesuaikan.
Baca Juga: Kuliner Legendaris Blitar Wajib Dicoba Seharian Jelajahi Kota Proklamator dengan Cita Rasa Otentik
Disajikan dengan Singkong Rebus
Sementara daging direbus, singkong sekitar 700 gram dipotong kecil dan dimasak menggunakan air serta sedikit garam. Singkong direbus hingga empuk, kemudian ditiriskan.
Setelah daging matang, air asam jawa, cabai hijau, daun jeruk, garam, sedikit gula, dan kaldu sapi bubuk ditambahkan ke dalam kuah. Semua bahan dimasak hingga rasanya menyatu.
Kaledo kemudian disajikan panas bersama singkong rebus. Sebagai pelengkap, ditambahkan sambal cabai rawit hijau, irisan jeruk nipis, dan bawang merah goreng khas Palu.
Saat dicicipi, kuahnya terasa bening, segar, asam, dan pedas. Daging iga juga menjadi empuk hingga mudah terlepas dari tulang. Sumsum yang berada di dalam tulang turut menjadi bagian yang dinikmati.
Baca Juga: Kuliner Legendaris Blitar yang Wajib Dicoba, Dari Soto Bu Ing hingga Tewel Bu Umi yang Melegenda
Kaledo disebut sebagai masakan suku Kaili di Sulawesi Tengah. Penyajiannya secara tradisional menggunakan singkong rebus, meski hidangan ini juga dapat disantap bersama nasi. Perpaduan kuah asam pedas, daging empuk, sumsum, dan singkong membuat kaledo memiliki karakter rasa yang khas.
Editor : Difa'un NadhirohSumber : Diolah dari berbagai sumber