PACITAN - Sungai Maron menjadi salah satu destinasi wisata alam yang menawarkan pemandangan berbeda di Pacitan. Sungai ini memiliki air yang jernih, aliran tenang, serta tepian yang dipenuhi pohon kelapa dan nipah. Lanskap tersebut membuat Sungai Maron kerap disebut sebagai Amazon Jawa Timur karena suasananya menyerupai kawasan sungai di tengah hutan tropis.
Sungai Maron berada di Desa Dersono, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan. Kawasan wisata ini tidak sepenuhnya berada di tengah hutan karena masih berdekatan dengan permukiman warga. Namun, semakin jauh perahu menyusuri sungai, suasana berubah menjadi lebih rimbun dan alami.
Keindahan tersebut dapat dinikmati dengan menaiki perahu yang membawa wisatawan menyusuri aliran sungai hingga mendekati muara Pantai Ngiroboyo.
Baca Juga: Danau Terindah di Indonesia, Ada yang Dihuni Ubur-ubur Tak Menyengat
Air Sungai Maron Bening dan Dikelilingi Pepohonan
Salah satu hal yang langsung menarik perhatian wisatawan adalah kejernihan airnya. Dari atas perahu, dasar sungai dapat terlihat dengan cukup jelas. Warna air yang kehijauan berpadu dengan pepohonan di sepanjang bantaran sehingga menghasilkan panorama yang asri.
Air Sungai Maron disebut berasal dari kawasan karst. Bebatuan kapur yang menyerap air hujan kemudian memunculkan mata air. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan air sungai terlihat jernih meski alirannya tidak terlalu deras.
Dalam perjalanan, wisatawan akan melewati kawasan yang dipenuhi pohon kelapa dan nipah. Vegetasi tersebut tidak hanya menjadi latar pemandangan, tetapi juga memiliki fungsi bagi ekosistem sungai.
Akar pohon nipah, misalnya, membantu menjaga bantaran sungai dari longsor. Vegetasi di sekitar aliran juga menjadi tempat hidup bagi berbagai makhluk, termasuk ikan kecil dan burung.
Menurut informasi Dinas Pariwisata Pacitan yang disebut dalam video, kedalaman Sungai Maron bervariasi antara 3 hingga 10 meter. Kondisi dasar sungai yang berpasir dan minim limbah turut membuat airnya tetap terlihat jernih.
Susur Sungai Menuju Pantai Ngiroboyo
Pengalaman utama di Sungai Maron adalah menyusuri sungai menggunakan perahu. Biaya yang disebut dalam video sebesar Rp100.000 untuk satu perahu dengan kapasitas maksimal empat orang.
Perjalanan membawa wisatawan memasuki bagian sungai yang semakin rindang. Dari atas perahu, pepohonan di kanan dan kiri membentuk lorong hijau alami. Angin yang berembus di atas permukaan air membuat suasana terasa lebih sejuk meski perjalanan dilakukan pada siang hari.
Semakin mendekati hilir, badan sungai terlihat semakin lebar. Perjalanan kemudian sampai di kawasan muara Pantai Ngiroboyo.
Di sekitar sungai juga terdapat berbagai fasilitas wisata. Sejumlah homestay dan vila dibangun dengan pemandangan langsung menghadap Sungai Maron. Terdapat pula camping ground yang dapat menjadi pilihan bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana alam lebih lama.
Salah satu spot yang banyak menarik perhatian adalah ayunan yang menggantung di atas sungai. Lokasi tersebut menjadi tempat wisatawan berfoto dengan latar air dan pepohonan.
Baca Juga: Danau Terindah di Indonesia, Ada yang Dihuni Ubur-ubur Tak Menyengat
Popularitas Sungai Maron Bantu Warga Sekitar
Sungai Maron sebelumnya lebih banyak dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan air dan irigasi. Seiring berkembangnya aktivitas wisata, masyarakat sekitar ikut terlibat dalam pengelolaannya.
Keberadaan wisata sungai kemudian membuka peluang ekonomi melalui perahu, warung, penginapan, hingga berbagai fasilitas pendukung lainnya.
Popularitas Sungai Maron juga semakin meningkat berkat media sosial. Banyak wisatawan membagikan pengalaman dan pemandangan sungai sehingga membuat destinasi ini semakin dikenal.
Namun, meningkatnya kunjungan juga perlu diimbangi dengan kepedulian terhadap lingkungan. Kejernihan air, hutan tepi sungai, serta ekosistem di sekitarnya menjadi bagian penting dari daya tarik Sungai Maron.
Jika kondisi alam tersebut tetap terjaga, Sungai Maron tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga ruang hidup yang memberikan manfaat bagi masyarakat Pacitan.
Editor : Muhammad Rusdian NuzulaSumber : Lenda Channel