BALI - Desa Penglipuran menjadi salah satu destinasi di Bali yang menarik perhatian karena kebersihan, kerapian, serta kuatnya tradisi masyarakat. Desa yang berada di Kabupaten Bangli ini memiliki jalan utama tanpa kendaraan, rumah-rumah dengan tata letak seragam, sistem pengelolaan sampah, hingga hutan bambu yang masih dijaga berdasarkan aturan adat.
Desa Penglipuran disebut dalam video perjalanan Road Trip Indonesia sebagai salah satu desa yang masuk tiga desa terbersih dan terapi di dunia. Keunikan tersebut tidak hanya terlihat dari lingkungan yang bebas sampah, tetapi juga dari cara masyarakat mempertahankan budaya leluhur dan tata ruang tradisional Bali.
Baca Juga: 10 Sungai Terindah di Indonesia, Ada yang Dijuluki Green Canyon hingga Amazon Indonesia
Jalan Desa Tanpa Kendaraan
Saat memasuki kawasan Desa Penglipuran, pengunjung langsung disambut jalan utama yang hanya digunakan untuk pejalan kaki. Mobil dan sepeda motor tidak diperbolehkan melintas di jalur tersebut. Kendaraan warga diarahkan ke jalan melingkar di belakang permukiman.
Kondisi ini membuat suasana desa terasa lebih tenang. Rumah-rumah warga berdiri berderet di sisi kiri dan kanan jalan dengan bentuk gerbang yang relatif seragam. Taman dan tanaman di depan rumah juga membuat kawasan permukiman terlihat rapi.
Desa ini berada di ketinggian sekitar 600 hingga 700 meter di atas permukaan laut. Suhunya disebut berkisar 18 sampai 25 derajat Celsius sehingga suasana terasa sejuk.
Salah satu bagian rumah yang menarik perhatian adalah dapur tradisional. Bangunan tersebut memiliki bentuk rendah sehingga orang yang masuk harus sedikit menunduk. Dapur masih menggunakan tungku dan kayu bakar, meski warga juga telah memakai kompor gas untuk kebutuhan memasak sehari-hari.
Bangunan dapur juga dahulu memiliki fungsi yang lebih luas. Selain digunakan untuk memasak, ruangan tersebut menjadi tempat tidur, berkumpul keluarga, hingga menyimpan hasil pertanian dan makanan.
Tri Mandala Jadi Dasar Tata Ruang
Keunikan Desa Penglipuran semakin terlihat dari konsep tata ruang bernama Tri Mandala. Kawasan desa dibagi menjadi tiga bagian, yakni Utama Mandala, Madya Mandala, dan Nista Mandala.
Utama Mandala berada di bagian paling tinggi dan menjadi kawasan pura yang dianggap paling suci. Sementara Madya Mandala merupakan area permukiman warga. Di bagian paling bawah terdapat Nista Mandala yang digunakan sebagai kawasan pemakaman.
Konsep tersebut menunjukkan pembagian ruang berdasarkan fungsi dan tingkat kesakralannya. Setiap rumah juga memiliki pura keluarga selain pura desa yang berada di kawasan utama.
Ketika jam kunjungan wisata dibuka, wisatawan dapat melihat bagian dalam sejumlah rumah warga. Di dalamnya terdapat berbagai bangunan seperti dapur tradisional, bale, pura keluarga, hingga ruang untuk anggota keluarga.
Baca Juga: 10 Sungai Terindah di Indonesia, Ada yang Dijuluki Green Canyon hingga Amazon Indonesia
Hutan Bambu dan Aturan Adat
Selain permukiman, Desa Penglipuran memiliki hutan bambu yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Luas hutan bambu disebut mencapai sekitar 45 hektare dari total luas desa yang lebih dari 100 hektare.
Bambu tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari lanskap desa. Masyarakat juga memanfaatkannya untuk bangunan tradisional, peralatan rumah tangga, serta berbagai kebutuhan upacara adat.
Penebangan bambu tidak dilakukan sembarangan. Masyarakat harus menunggu waktu yang dianggap tepat berdasarkan aturan adat. Hutan bambu juga dipercaya berperan menjaga cadangan air dan keseimbangan lingkungan.
Selain hutan bambu, terdapat pula hutan adat yang dianggap sakral. Kawasan tersebut dijaga ketat dan tidak boleh dirusak. Aturan adat diberlakukan untuk menjaga vegetasi sekaligus mempertahankan keseimbangan lingkungan desa.
Kebersihan Desa Penglipuran pada akhirnya tidak berdiri sendiri. Kondisi tersebut berjalan bersama budaya, tata ruang, aturan adat, dan kesadaran masyarakat dalam merawat lingkungan. Perpaduan itulah yang membuat desa di Bangli ini menjadi tujuan wisata yang menarik bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Editor : Muhammad Rusdian NuzulaSumber : Roadtrip Indonesia