BLITAR - Perlahan tapi pasti, PT BPR Penataran Kabupaten Blitar Perseroda membuktikan diri layak diandalkan. Tak hanya mampu keluar dari status bank dalam pengawasan intensif (BDPI), badan usaha milik daearh (BUMD) ini mampu membukukan laba Rp 1 miliar pada 2024.
Pada 2022 lalu, perusahaan milik daerah ini nyaris disuntik mati karena banyaknya persoalan. Empat syarat mutlak dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus segera dipenuhi. Mulai dari penambahan modal, perombakan jajaran direksi dan komisaris, perbaikan tata kelola, serta pemindahan kantor pusat dari Tulungagung ke wilayah hukum Kabupaten Blitar.
“Dulu non-performing loan (NPL) kami mencapai 70 persen, sekarang tinggal 8 persen,” ujar Direktur Utama BPR Penataran, Sahrial Amri, saat ditemui di kantornya, Senin (5/5/2025).
Tak sedikit yang pesimistis. Namun, tekad manajemen baru BPR Penataran bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blitar tetap menyala. Mereka menambal kerusakan demi kerusakan, memperbaiki sistem kerja, membenahi struktur internal, hingga menyusun ulang strategi bisnis. Tak hanya perbaikan administratif, mereka juga bekerja membangun kembali kepercayaan nasabah yang sempat surut saat perusahaan dilanda krisis.
“Ini bukan kerja semalam. Kami menanam ulang dari akar, sambil terus menjaga yang masih bisa diselamatkan,” imbuh Sahrial Amri.
Buah dari kerja keras itu baru benar-benar terasa awal 2024, ketika OJK resmi mencabut status pengawasan intensif dan mengembalikan BPR Penataran ke status bank pengawasan normal. Langkah selanjutnya tak kalah menantang. Yakni, memulihkan kinerja keuangan.
Pada 2023, laba berhasil dibukukan sebesar Rp 546 juta. Angka itu melonjak hampir dua kali lipat di 2024 menjadi Rp 1,03 miliar. Meski laba tersebut masih dialokasikan untuk menutup kerugian akumulatif masa lalu, pertumbuhannya menandai titik balik penting.
Kerja keras itu pun mendapat pengakuan nasional. Pada 28 April 2025, BPR Penataran menyabet penghargaan TOP BUMD Awards kategori Bintang 3 dari Majalah Top Business, bersama PT Madani Solusi Internasional. Penghargaan itu tak sekadar simbol prestise, tapi validasi atas transformasi yang sudah dijalankan.
Tahun ini, manajemen menatap masa depan dengan visi yang lebih luas. Rencananya, pada semester I tahun ini membuka jaringan kantor baru di wilayah Blitar Timur, meluncurkan produk-produk digital dan memperkenalkan layanan simpanan, serta kredit baru.
Target laba dipatok Rp 1,7 miliar, dengan harapan mulai 2026, BPR Penataran sudah mampu menyetor pendapatan asli daerah (PAD) ke kas Pemkab Blitar. “Tujuan kami bukan sekadar sehat, tapi bermanfaat. BPR Penataran harus bisa menjadi motor penggerak ekonomi daerah,” ujar Sahrial Amri.
Di lokasi yang sama, Komisari Utama BPR Penataran Kabupaten Blitar Perseroda, Agung Andoko Putro mengingatkan, agar jajaran direksi tidak cepat berpuas diri. Segudang tantangan di masa depan harus mampu diselesaikan sebagai bentuk tanggung jawab dan pelayanan kepada masyarakat.
Baca Juga: Semangat “Excellent and Exceptional Healthcare” di Milad Ke-19 RSU Aminah Kota Blitar
“Awal yang baik ini harus menjadi semangat dan buktikan bahwa PT BPR Penataran Perseroda berkomitmen dalam mendorong perekonomian masyarakat di Kabupaten Blitar,” tandasnya. (hai/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah