KABUPATEN BLITAR - Menjadi ibu rumah tangga tidak membatasi kreatifitas Alfiatun Nikmah. Itu mendorongnya untuk memproduksi berbagai jenis tas tangan dari media tali kur.
Perempuan asal Desa Kandangan, Kecamatan Srengat, ini sudah menekuni kerajinan tas sejak 2012 lalu. Kegiatan ini mulanya dia niatkan untuk menambah penghasilan keluarga sekaligus agar dia menjadi perempuan mandiri. “Awalnya itu saya membuat tas rajut untuk dipakai sendiri. Namun perlahan masyarakat banyak yang pesan. Karena saya rasa ada peluang ekonomi, akhirnya saya tekuni kerajinan ini,” jelasnya
Perempuan 37 tahun mengaku, pasar internasional dia rambah dengan relasi kerabat yang berada di luar negeri.. “Soalnya ada beberapa kakak, tante dan saudara yang berada di luar negeri. Makanya saya titipkan ke mereka untuk dipasarkan,” lanjutnya.
Keputusan ini diambil karena harga yang dia patok untuk produknya terbilang tinggi. Dia khawatir tidak akan laku di pasar lokal. Untuk diketahui, satu buah tas dibanderol dengan harga Rp 175 – 650 ribu dengan target pasar Taiwan, Hongkong, dan Singapura.
Selayaknya usaha pada umumnya, dirinya mengalami titik terendah saat pandemi melanda seluruh negeri. Karena pandemi dan kebijakan PPKM, Alfiatun kesulitan menjual barang ke luar negeri hingga akhirnya terpaksa tutup toko selama dua tahun.
Walaupun terpuruk, dirinya enggan menyerah dan mencetuskan ide-ide baru. “Kita tambah menu atau jenis tas. Dan akhirnya memutuskan untuk membuat tas anyaman dari platik untuk di jual ke pasar lokal. Alhamdulillah pasar lokal menerima,” syukurnya.
Dari pengalamanya tersebut, Ibu dua anak ini mulai menemukan cara untuk membuat konsumen tertarik. Yaitu dengan jeli dan mengikuti tren pasar. “Ada yang request model, warna, dan sebagainya. Itu demi bertahan dan bisa mengikuti arus pasar,” ujarnya.
Perempuan berkecamata ini mengaku, dalam satu bulan dia bisa membuat 2-3 desain anyar. Demi menjaga kepercayaan konsumen, Alfiatun memilih untuk membuat desain secara mandiri tanpa bantuan pegawai.
“Sesudah berhasil buat desain dan bisa mengembangkan motif-motifnya. Baru saya serahkan ke karyawan agar dicontoh dan bisa dibuat lebih banyak,” terangnya.
Proses pembuatan tas terbilang sulit dan lama. Dalam sepekan, satu orang pegawai biasa merampungkan satu tas. Disinggung soal nominal, perempuan berjilbab ini mengaku bisa menghasilkan omzet Rp 15-30 juta per bulan. Namun karena pandemi hingga sekarang, pendapatanya menyusut dan hanya memperoleh Rp 8-15 juta per bulan. “Saat ini ekonomi belum pulih sepenuhnya. Saya kira jika dibandingkan sebelum Covid-19, hanya 40 persen yang pulih,” jelasnya. (mg2/dit)
Editor : Doni Setiawan