BLITAR - Semerbak wewangian segar tercium kala Khomsatun membuka pintu ruang tamunya. Area berukuran minimalis itu memang berbeda dari ruang tamu pada umumnya. Terdapat rak kayu dan etalase kaca yang menutupi dinding di sisi barat dan timur.
Ternyata isinya penuh dengan potongan-potongan sabun unik. Baik dari segi tampilan ataupun coraknya.
Warga Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjenkidul, ini mengakui bahwa sekira 6 bulan terakhir ada satu rutinitas baru yang dia gandrungi.
Yakni, memproduksi sabun berbahan rempah dan bahan-bahan alami. Cara ini dia lakukan sebagai kiat memberdayakan diri untuk lebih lekat dengan alam.
Produksi sabun ini juga sebagai wujud keresahannya dengan sejumlah produk sabun yang kurang ramah lingkungan. “Sebenarnya, saya itu pegiat alam, tapi saya rasa tidak punya kontribusi untuk alam.
Apa yang bisa saya lakukan? Akhirnya saya tekuni ini. Bukan hanya cari buat kehidupan, melainkan kontribusinya untuk alam,” ujarnya, Rabu (24/1).
Ibu tiga anak ini menuturkan, inspirasi membuat kreasi sabun rempah tercetus dari kebiasaan sahabatnya membeli produk serupa di Bali. Dia pun mencoba membuat sabun dengan berbagai varian rempah dengan harga lebih ramah di kantong.
Apalagi, produksi sabun menggunakan rempah masih minim. Peluang ini pun tidak ingin disia-siakan. Meski dihadapkan pada potensi bisnis yang menjanjikan, perempuan 46 tahun ini tak lantas sepenuhnya memandang dari aspek materiil.
Paling tidak, dia ingin sabun tersebut tidak mencemari lingkungan sehingga memastikan kelangsungan ekosistem lingkungan. Air sisa penggunaan sabun yang mengalir ke sungai bisa mengurai limbah, serta menjadi pupuk saat diserap tanah.
“Karena bahan baku dari rempah, VCO, dan eco enzim. Kalau satu orang saja mau beralih ke produk natural, pasti bisa menuju hidup lebih baik dan peradaban lebih luhur,” jelas perempuan yang gemar mendaki gunung ini.
Di rak sisi barat, terdapat sejumlah varian sabun yang dibikin oleh ibu rumah tangga ini. Beberapa di antaranya, kombinasi kunyit dan zaitun, kunyit dan kombucha, serai, daun sirih, kopi, bidara kelor, kunyit dan madu, kentang, pisang, bengkuang dan beras, hingga lidah buaya.
Sejumlah rempah lainnya yang biasa menjadi bumbu dapur juga disulap menjadi sabun natural. Bahan-bahan tersebut didapat dari kenalannya dengan pola tanam sehat.
Proses pembuatan sabun ini harus teliti dan terukur. Misalnya pada varian kopi, lebih dulu dia menyiapkan campuran VCO dan minyak kelapa. Selanjutnya, mencapur kopi atau bahan rempah lainnya.
Lalu, mixer seluruh bahan hingga mengental dan masuk ke pencetakan. Adonan padat biasanya dalam 3-5 jam, kemudian dipotong dan dikemas.
“Itu pun perlu curing untuk menghilangkan alkalinya. Sekira 3 minggu setelahnya bisa dipakai untuk keperluan mandi,” sambung perempuan lulusan SMA ini.
Sabun tersebut dibanderol mulai Rp 15 ribu untuk semua varian kemasan kecil. Lalu untuk kemasan besar Rp 30 ribu. Dalam sebulan, rata-rata 100 potong sabun batang terjual dengan omzet Rp 1,5 juta.
Penjualan sabun ini laris manis di Nusa Tenggara Timur, Makassar, Jogjakarta, Surabaya, dan Jakarta. Bahkan, sudah menembus hingga luar negeri yakni Hong Kong dan Singapura.
“Teman-teman kebanyakan yang pesan,” tutur perempuan yang karib disapa Mak Kom ini.
Di awal merintis, ibu rumah tangga yang sebelumnya berjualan gorengan ini sempat terbentur beban modal. Namun, dia bertekad lantaran niatnya bukan hanya mencari keuntungan berupa uang, melainkan juga menjaga kondisi alam.
Saat ini, pihaknya sudah mengantongi IMB dan masih berposes mengurus legalisasi yang dikeluarkan oleh BPOM.
“Kita bisa paling tidak menjaga keseimbangan lingkungan dengan ini. Ibu saya dulu juga berpesan, tidak semua di dunia ini tentang uang. Menggunakan hati terkadang lebih dibutuhkan,” tandasnya. (*/c1/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila