BLITAR - Kuliner legendaris pecinan Kembang Tahu di Kota Blitar hanya bisa dinikmati di depan Pasar Templek.
Pedagang yang hingga kini masih bertahan menjajakan minuman hangat dari kedelai ini bernama Waras. Dia sudah 20 tahun berdagang kembang tahu mengelilingi Kota Blitar dan kini menetap di tempat tersebut.
Waras sering memakai baju batik saat berdagang. Dia dapat ditemui di depan Pasar Templek mulai pukul 10.00 hingga 17.00. Biasanya, dia pulang saat dagangannya hampir habis.
“Saya belajar dari bapak. Beliau sudah berdagang kembang tahu sejak tahun 1980. Lalu 2000 saya ikut bapak memproduksi hingga berdagang dan tiga tahun kemudian memberanikan diri berjualan sendiri,” ujar Waras ketika ditemui beberapa hari yang lalu.
Dia menceritakan bahwa dulu orangtuanya lebih giat dan bersemangat dalam berjualan kembang tahu.
Bahkan mulai persiapan produksi sejak tengah malam. Itu berbeda dengan Waras yang memulai produksinya pagi hari. Alhasil, Waras berdagang di depan Pasar Templek pada pukul 10.00 WIB.
Selain itu, kuantitas barang dagangan yang dibawa berbeda dengan bapaknya dulu. Jika orangtuanya dapat berdagang dengan bahan kedelai 5 kilo gram setiap hari, saat ini Waras hanya dapat memproduksi setengahnya atau 2,5 kilo gram saja.
“Dulu pelanggan saya kembang tahu ini dari Hotel Santoso hingga kawasan Pecinan yang ada di Jalan Merdeka.
Namun saat ini warga keturunan Tionghoa yang jadi pelanggannya sudah banyak yang meninggal dunia dan tokonya bangkrut.
Untungnya, banyak masyarakat umum yang juga meminati kembang tahu,” ungkapnya.
Pertama kali Waras melapak di depan Pasar Templek pada 2019 lalu, tepatnya sebelum Covid-19 melanda. Itu bermula dia melewati jalan tersebut dan ada seorang pembeli yang menghampiri.
Lambat laun, ada lebih banyak lagi pembeli yang menghampiri dagangannya, hingga habis. Momen itu membuat Waras memutuskan untuk menetap di depan Pasar Templek.
Menurut Waras, kembang tahu ini tidak semua orang dapat membuatnya. Konon, kuliner pecinan ini hanya dapat dibuat oleh orang yang memiliki keturunan pembuat kembang tahu.
Maka dari itu, hanya Waras saja yang terlihat berjualan kembang tahu di Kota Blitar.
“Kalau usaha minuman sari kedelai banyak orang yang bisa dan berjualan. Banyak orang yang bertanya resep dan cara membuat kembang tahu, bahkan warga Pakunden datang ke rumah saya beberapa waktu lalu,” tutur Waras.
Namun setelah beberapa kali belajar dengan Waras, warga Pakunden tersebut tidak pernah terlihat berjualan kembang tahu.
Informasinya, orang itu sudah sukses berjualan sari kedelai, namun masih ingin untuk berdagang kembang tahu. Sayang, dia tidak pernah berhasil membuat kembang tahu di rumah.
Minuman ini berbahan susu kedelai yang berwarna putih dan batu tahu atau kalsium sulfat. Selain itu, ada kuah jahe yang hangat dan kenyal ketika masuk dalam mulut.
Namun untuk batu tahu, tidak semua kota menjual bahan ini. Tiga bulan sekali Waras tiga harus ke Surabaya untuk membeli bahan tersebut.
“Saya berita-cita untuk dapat membuka cabang kembang tahu. Namun terkendala modal. Harus memiliki bahan yang cukup banyak jika nambah dagangan,” tandasnya.
Waras menjual kembang tahu Rp 5 ribu per porsi. Kalau di Malang dan Kediri bisa mencapai Rp 8 ribu dan Surabaya ada yang hingga Rp 10 ribu per porsi.
Waras masih konsisten dengan harga itu agar dapat mempertahankan pelanggan yang sudah ada dan berharap tambah peminatnya.
Dia menceritakan, awal berdagang berkeliling Jalan Merdeka Kota Blitar yang notabene banyak warga keturunan Tionghoa.
Namun sudah lima tahun sudah menetap di depan Pasar Templek karena pelanggan di jalan protokol itu sudah tiada.
Ternyata banyak masyarakat luar kota yang meminati kembang tahu yang dibuat Waras. Pelanggannya berasal dari Tulungagung, Malang dan Kediri.
Konon, rasa dari minuman khas pecinan yang diracik Waras ini lebih original.
“Sebenarnya di Malang dan Tulungagung ada yang berjualan kembang tahu. Namun biasanya ada campuran agar-agar. Itu yang kadang kurang disukai oleh pelanggan.
Sehingga lebih mencari kembang tahu saya yang tanpa campuran,” pungkasnya. (jar/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila