BLITAR-Halaman teras salah satu rumah di Desa/Kecamatan Sanankulon dipenuhi suvenir warna merah.
Beberapa pemuda menyambut koran ini dan menyampaikan bahwa pemilik rumah sedang sibuk produksi di bagian belakang.
Ya, tempat ini merupakan salah satu perajin suvenir di Bumi Penataran yang masih eksis. Begitu juga di momen Imlek. Tas angpao berbentuk lampion adalah karya uniknya tahun ini.
Tak berselang lama, Andreas alias pemilik produksi terlihat bersama beberapa pekerjanya. “Saya menambahkan motif naga pada tas lampion karena Imlek 2024 ini merupakan tahun naga. Nah, ide tas angpao ini muncul ketika melihat tradisi Imlek, yakni keluarga Tionghoa berkunjung ke saudara dengan memberikan angpao,” ujar Andreas sembari menunjukkan karyanya.
Biasanya, pemberian angpao diterima oleh anak-anak dan keluarga yang belum menikah. Dalam sehari, biasanya banyak saudara yang dikunjungi ketika Imlek.
Maka dari itu, Andreas berpikir untuk membuat tas angpao untuk anak-anak yang lucu dan memiliki khas Imlek.
Dia mengambil kesempatan itu agar angpao yang diterima anak-anak bisa tersimpan dengan baik. Selain itu, tas lampion produksi Andreas berbahan dasar kain oskar yang biasa digunakan untuk sofa. Dengan begitu, bisa tahan lama karena anti air.
Laki-laki berkacamata ini sudah mempersiapkan tas angpao lampion ini sejak sebulan yang lalu atau awal Januari.
Namun, produk ini mulai ramai di jejaring online sekitar dua minggu yang lalu. Pembelinya banyak dari luar Jawa seperti Makasar, Singkawang, Jakarta, dan Bogor.
“Ada pembelinya di Blitar, cuma tidak sebanyak pembeli dari marketplace atau online. Karena kami tidak mengetahui selera orang Blitar, tapi ketika dipasarkan di online justru lebih besar dan banyak yang pesan,” ungkapnya.
Sebelum hari Imlek kemarin, sudah ada 400 pesanan tas angpao lampion. Suvenir ini menjadi yang terlaris dari barang Imlek yang lain diproduksi oleh Andreas. Untungnya dalam produksi ini, dia dibantu 40 pegawai.
Andreas memproduksi tas angpao lampion dengan dua ukuran, kecil dan besar. Tas lampion ukuran kecil dijual dengan harga Rp 80 ribu per biji, sedangkan tas lampion ukuran besar dijual dengan harga Rp 140 ribu per biji.
Tiap tahun, Andreas berusaha untuk membuat karya baru untuk produk suvenirnya. Dengan begitu, ada inovasi di tiap edisi hari-hari besar, khususnya pada Imlek. Tentu dia melibatkan timnya untuk berembuk terkait rencana produk baru.
“Biasanya memang dimulai dari ide saya untuk produk baru, kemudian anak-anak menambahkan. Lalu, mencoba dan mengujinya. Untuk tas angpao lampion ini dua kali pengujian, hingga akhirnya layak dijual,” tutur Andreas.
Andreas memang merupakan perajin suvenir atau kerajinan tangan sejak 2012. Awalnya, dia fokus memproduksi kerajinan tangan untuk suvenir pernikahan.
Sebelum menekuni usaha kerajinan tangan, dia adalah seorang guru honorer di SDN Tanggung 1 Kota Blitar.
Andreas menjadi guru SD pada 2010 hingga 2012. Ketika menjadi guru honorer, dia sudah mulai merintis usaha kerajinan tangan di rumah.
Kerajian tangan milik Andreas terus berkembang dari tahun ke tahun. Dia juga memproduksi aksesori dengan menyesuaikan momen tertentu, seperti Imlek, Idul Fitri, dan lainnya.
Bahkan ketika terjadi pandemi Covid-19, dia sempat memproduksi tas berbentuk masker. Tas itu cukup laris manis di pasaran.
Kesuksesannya sekarang terbukti dapat memliki 40 orang karyawan untuk produksi, pemasaran, dan pengemasan kerajinan tangan. (*/c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila