KABUPATEN BLITAR - Jeny Maerysa, ibu muda warga Kecamatan Garum, berbagi cerita memulai usaha produksi kerajinan makrame. Meski kini kebanjiran pesanan dan omzet menggiurkan, tapi sempat terjadi hal kurang mengenakkan yang dia alami.
Tak ada kesuksesan yang instan. Bahkan, kerap kali kunci sukses datang dari jerih payah kala merintis suatu usaha. Hal ini mewarnai perjalanan Jeny Merysa, perajin makrame warga Dusun Sumberejo, Desa Karangrejo, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar. Banyak kisah berharga selama menekuni usaha ini pada 2018 lalu.
Perempuan 30 tahun ini diganjar cuan dari kerajinan menyimpul benang katun yang dia bikin setiap hari. Bahkan, seni kriya miliknya jadi langganan konsumen di kawasan Asia Tenggara, seperti Malaysia, Singapura, dan negara lain seperti Turki. Tak tanggung-tanggung, omzetnya dalam sebulan mencapai Rp 50 juta dan bisa lebih saat menjelang Ramadan.
Di balik manisnya hasil yang diraih, Jeny termasuk orang yang punya deretan pengalaman pahit. Hal ini wajar dalam menyelami bisnis. Misalnya, dia bercerita soal paket pesanan yang hilang atau rusak saat tiba di tangan pembeli. Padahal, pengemasan yang dilakukannya sudah aman dan tepat. "Ya sedih pastinya, karena kami bikin juga pakai tenaga, waktu, ide juga. Tapi saya langsung tanggap kalau soal paket yang rusak, saya ganti," tegas perempuan yang sedang mengandung putra ketiga ini.
Ya, lulusan D-3 ilmu perikanan di perguruan tinggi Sidoarjo ini berbisnis sambil cari berkah. Baginya, kejadian tersebut memang merugikan produsen. Namun, dia memilih mengganti barang yang rusak dengan membuat ulang pesanan pembeli. Pembeli tak perlu bayar untuk kali kedua. "Supaya mereka tidak kecewa. Ini cara kami memupuk kepercayaan antara kami dan pembeli," sambungnya.
Dia juga pernah mengalami barang yang dikembalikan atau tidak diterima oleh pembeli. Penyebabnya, pihak ekspedisi keliru menempel resi pembelian. Walhasil, barang yang diterima pembeli tidak sesuai pesanan. Atau pembeli memang sengaja enggan menerima paket dan justru mengembalikan ke kurir.
"Kalau yang bayar di tempat tapi tidak diterima, kita tidak bisa jual lagi. Karena warna sudah beda atau ada papan ornamen yang rusak. Ya rugi bahan, rugi ongkos kirim juga," paparnya.
Meski berkawan dengan kesabaran, perempuan berhijab ini menikmati prosesnya. Sebab, awal mula terjun di bisnis tersebut tidak mudah. Jauh sebelum menikah dan membuat kreasi makrame, Jeny lebih dulu buka toko sembako. Lantaran jenuh, dia menilik tayangan di ponsel seputar pembuatan makrame.
Pada 2018, dia menjadikan hobi itu menjadi usaha sampingan. Lambat laun, pesanan mulai berdatangan. Baik secara manual maupun penjualan di media sosial. Tingginya minat beli akhirnya membuat Jeny serius memproduksi macramé dan menutup toko sembako miliknya.
"Saya awalnya bikin tirai-tirai besar, taplak meja. Tapi terus cari-cari ide kreasi lain. Akhirnya bikin gantungan pot, ambalan, bingkai cermin, dan lain sebagainya," ungkapnya.
Banyak jenis kerajinan benang simpul yang dibuatnya. Paling kekinian yakni makrame untuk hiasan dinding, lengkap dengan ranting sebagai pelengkap, lalu hiasan yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Makrame miliknya dijual dengan harga mulai dari Rp 5 ribu hingga Rp 900 ribu. Sesuai permintaan pesanan.
Mendekati momen Ramadan, dia mengaku peningkatan produksi dan penjualan bisa meningkat 100 persen dari hari biasa. Penjualan kini tak hanya secara konvensional, tapi juga melalui platform digital. Jangkauan konsumen lebih luas. "Maklum kadang buntu ide. Kalau sudah begitu, biasanya pilih motoran sendiri. Sederhana, tapi dari situ banyak muncul inspirasi," imbuhnya.
Perempuan yang melepas masa lajang pada 2020 ini lantas berusaha memberdayakan perempuan di sekitarnya. Setiap pagi, belasan ibu-ibu mengambil bahan untuk diolah. Pengerjaan simpul-simpul dilakukan di rumah, kemudian disetorkan saat sore. Meski untuk sementara tak banyak orang yang dipekerjakan, dia berharap usahanya bisa jadi pengungkit roda perekonomian warga sekitar. "Saya penginnya terus berkreasi. Peran keluarga, suami, anak-anak, sangat menguatkan saat saya lagi down. Ingat mereka bikin tambah semangat," tandasnya. (luk/c1/sub)
Editor : Doni Setiawan