BLITAR - Kesukaannya pada seni ini telah muncul sejak kecil. “Dulunya ayah juga suka dengan seni bonsai, jadi dari kecil sudah tertarik. Tapi, saya baru fokus pada 2018 lalu,” kata Rudi Syailendra Widodo kepada Jawa Pos Radar Blitar.
Mendung menggelayut di langit pada Kamis (7/3) tak menyurutkan semangat Rudi Syailendra Widodo, warga Kelurahan Dandong, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar dalam beraktivitas. Ketika ditemui di kios, tangannya terampil menari pada ranting-ranting bonsai.
Berbagai macam pekerjaan sudah pernah dia lakoni, mulai dari montir bengkel hingga menjadi sales produk kecantikan. Hingga suatu waktu, muncul keinginannya untuk mandiri, tidak bekerja untuk orang lain.
Lalu, pada 2018, dia mendirikan galeri bonsai yang diberi nama Bon Syailendra Art Shop. Dia mengeklaim galeri bonsai miliknya merupakan satu-satunya yang ada di Blitar. “Kalau penjual dan pegiat bonsai sendiri memang banyak di Blitar, tapi kalau berkonsep display store seperti ini kebanyakan yang ada di luar negeri. Untuk area Karesidenan Kediri sendiri tampaknya baru di sini yang ada,” ujarnya.
Dia mengaku fokus pemasaran di media sosial (medsos) sebelum membuka galeri. Jatuh bangun telah dia lakoni pada tahap awal mem-branding produk bonsainya. Perlu penataan gambar dan konsep video yang dapat menarik perhatian masyarakat.
Pria kelahiran 1979 ini menceritakan, satu tahun pertama menggeluti bisnis bonsai, dirinya fokus upload portofolio bonsai karyanya. Akan tetapi, cara itu belum berhasil menggaet minat pembeli.
“Saya terus evaluasi apa yang salah. Apa dari segi pengambilan gambar atau kualitas video yang kurang, kok belum bisa mendapat atensi lebih. Terus diperbaiki, mengikuti tren sosial media, rencana ke depan segera live di TikTok juga,” ucapnya sambil terkekeh.
“Setiap upload kan juga dibawa ke ruangan display store, lama-kelamaan audiens tertarik. Kok ada toko bonsai dikonsep sedemikian rupa. Dari situ, setiap postingan itu insight pengunjungnya mulai naik hingga perlahan-lahan terjual,” tambahnya.
Ketika sedang banyak-banyaknya peminat, dia berpikir akan kehabisan stok jika terjual seperti ini terus. Mulanya, bonsai tersebut dibeli dari orang lain. Kini, dirinya melakoni budi daya sendiri untuk mengantisipasi kehabisan bahan.
Budi daya bonsai dimulai dari membeli indukan yang kemudian dikembangkan. Perawatannya mulai dari pemupukan, penyemprotan insektisida karena banyak hama, penggantian media, pruning (pemotongan dahan), hingga pemotongan akar tergantung dari kesuburan bonsai.
“Untuk bibitan jarang dijual ecer, biasanya langsung partai karena harganya murah. Biasanya mulai Rp 10 ribu,” jelasnya.
Rudi menjual bonsai ukuran Mame (ukuran tinggi sekitar 15 cm) dan Sito (ukuran tinggi di bawah 15 cm) minimal di harga Rp 100 ribu hingga jutaan. Tergantung tingkat kerumitan dan ukuran bonsai. Produksi yang paling banyak adalah ukuran Mame karena minimalis sehingga cocok menjadi penghias ruangan dan bisa dinikmati oleh semua kalangan.
“Pengiriman paling jauh saat ini ke Batam dan Timika. Pengirimnya paling lama sekitar 9 hari. Untuk peminat yang paling banyak itu daerah Jawa Barat dan Bali, kalau harga sendiri saat ini rekor keluar dari store di angka Rp 15 juta,” ujarnya.
Penggawa Komunitas Penggemar Bonsai Blitar Barat ini mengatakan, fokusnya saat ini pada jenis sakura mikro dan anting putri yang merupakan jenis bonsai paling populer. Menurutnya, bonsai yang bagus memiliki kriteria pakem ketika diikutkan kontes.
Hal itu meliputi kesehatan, kesan pertama, arah gerak, dimensi, dan proporsi. Akan tetapi, bonsai yang dijual tergantung selera pembeli.
Selain itu, pria berambut gondrong ini juga menyatakan bahwa peminat bonsai di wilayah Blitar sangat banyak, baik dari kota maupun kabupaten.
Peminat utama bonsai suvenir seperti yang dia kerjakan kebanyakan kaum hawa . itu kkarena bentuknya yang memanjakan mata. Kemudian, bonsai jenis kontes biasanya dijualbelikan kepada rekan penghobi bonsai sendiri.
Rudi berharap pegiat seni ini bisa menciptakan terobosan karya yang sesuai dengan harapan. Selain itu, dia berharap ke depannya untuk pemasaran bonsai melalui teman-teman penghobi atau medsos bisa terus meningkat agar tidak terhenti di tahap budi daya saja. Karena dalam dunia bonsai, perlu kesabaran dan ketelatenan sebagai kunci utama. (*/c1/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila