BLITAR - Tujuh tahun Khoirul Hidayati menjadi penjual jajan Lebaran. Produk warga Desa Pojok, Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar, ini sering dikirim ke luar negeri. Bahkan menjadi langganan bupati.
Tinggal di gang sempit di Desa Pojok, Kecamatan Ponggok, tidak menghambat ibu satu anak ini berkreasi. Momentum Ramadhan dan Idul Fitri merupakan kesempatan Khoirul Hidayati untuk mendapatan segepok uang. Sebab, biasanya dua bulan sebelum Lebaran, pesanan kue kering buatanya selalu membeludak.
Tempat tinggal Hidayati tidak begitu mencolok. Pohon belimbing menjadi penanda hunian perempuan 44 tahun ini. Di rumah ini pula, ribuan karton jajan diproduksi setiap bulan.
Setidaknya 17 jenis kue kering sudah pernah dikirim kepada pelanggan. Mulai dari madu mongso, nastar, roti kacang, janda genit, hingga lidah kucing.
Hidayati mulai membuat kue pada tahun 2017. Saat itu dirinya masih bekerja di rumah makan yang lokasinya dekat dengan rumah temannya yang juga hobi membuat kue. Karena keinginannya membuat kue lebih tinggi, dia meminta untuk diajari cara membuat kue saat ada waktu senggang.
"Keinginana saya dalam belajar kue itu kuat. Bahkan, saya sering berkunjung dan juga sering meminta untuk diajarkan cara membuat kue,” ujarnya tampak tersipu malu.
Kini, Hidayati mulai memetik hasil kerja keras selama tujuh tahun tersebut. Dia tahu kapan saja momen-momen ramai pesanan. Selain hari raya keagaman, juga hari baik pernikahan. “Puasa seperti ini itu ramai, apalagi ketika musim megengan. Pesanan kue basah lumayan banyak,” ujarnya.
Walaupun begitu, pendapatannya tidak tentu. Untuk hari-hari biasa, dia biasanya hanya mampu menjual sekitar 50 hingga 150 kotak kue. Tetapi, ketika mendekati Lebaran, pesanan bisa membeludak hingga hampir seribuan kotak dan harus dikirimkan sebelum Lebaran.
“Kalau kue kering itu lumayan banyak. Untuk sementara ini, kami buat untuk stok toko. Sedangkan yang pesan-pesan belum dibikinkan. Soalnya biasanya pengambilan kue itu lima hari sebelum Lebaran,” jelasnya.
Kue buatan Hidayati tidak hanya disukai masyarakat luas. Bupati Blitar Rini Syarifah juga menjadi langganan tetapnya. Kue yang paling disukai bupati ialah nastar nanas.
Membuat nastar merupakan yang paling sulit. Alasannya, pembuatan kue ini membutuhkan waktu yang lama dan durasi kedaluwarsanya lebih cepat.
“Sebenarnya tidak sulit cara membuatnya, cuma karena alami buatan sini, prosesnya itu lumayan lama. Dari mulai pembuatan kue hingga selai nastar itu perlu telaten, kalau asal retak, hasilnya tidak bagus,” akunya.
Dari penjualan kue Lebaran, tidak jarang dia mampu mengantongi Rp 50 hingga Rp 60 juta selam kurun waktu dua bulan. “Ini sudah mulai stok sekitar 10 harian lebih. Soalnya mendekati momen Lebaran ini merupakan peluang yang cukup besar,”ungkapnya. (mg2/c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila