BLITAR - Burung kenari masih dilirik hinga kini dan dapat dijadikan peluang bisnis. Seperti dilakoni Ahmad Syihabuddin, warga Kelurahan/Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar.
Sejak usia 12 tahun, Ahmad Syihabuddin telah berkecimpung dengan budi daya kenari.
“Tahun 2012 dengan berbekal 10 indukan burung kenari mulai belajar ternak. Saat itu saya masih kelas 5 SD. Alhamdulillah sejak 1,5 tahun lalu membuka kios kenari Dimoro,” katanya.
Pemuda yang akrab dipanggil Syihab ini menceritakan, awal mula tertarik dengan bisnis ini lantaran harga kenari yang saat itu tinggi serta diminati banyak orang.
Harga burung dari luar negeri ini cenderung stabil, serta perawatannya mudah sehingga menjadi pilihan bagi pemuda 23 tahun tersebut.
Perawatan yang dilakukan mulai dari penjemuran di pagi hari, penggantian pakan, kebersihan kandang, serta pemberian extra fooding.
Dia mengaku, omzet yang dihasilkan bisa mencapai Rp 15-17 juta tiap bulannya. Hasil bersih yang didapatkan antara Rp 5-6 juta.
“Kita jual kualitas. Kalau kualitas burungnya bagus, tentu harga juga bagus. Untuk pemasaran sendiri lewat media sosial, karena jangkauannya lebih luas.
Daerah Blitar peminatnya di warna-warna burung yang cerah,” jelasnya pada Senin (11/3).
Syihab menjual burung kenari jenis lokal di harga Rp 70 ribu hingga Rp 300 ribu. Seri AF Rp 120 ribu hingga Rp 400 ribu dan seri F1 400 ribu hingga Rp 1,5 juta.
“Dari kios kenari Dimoro, harga burung yang sudah terjual paling tinggi seharga Rp 1,7 juta,” ucapnya.
Dia menjelaskan, pembelian disarankan dengan sistem pantau cocok bayar (PCB).
Dengan sistem tersebut, pembeli diharapkan dapat menilai sendiri kondisi burung meliputi mata, kaki, kesehatan, serta kualitas suara yang dihasilkan.
“Tetap melayani pengiriman dan setoran. Pengiriman terjauh saat ini baru di Kota Solo dengan kereta,” ujarnya.
Dia membeberkan bahwa akan segera membuka cabang di Kota Tulungagung. Serta harapannya bisa menyelenggarakan kontes burung kenari yang telah lama vakum di Blitar. (mg3/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila