Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Opak Gambir, Jajanan Tradisional yang Tetap Eksis di Blitar, Paling Diburu Tiap Lebaran, Kini Makin Banyak Varian Rasa

M. Subchan Abdullah • Senin, 18 Maret 2024 | 15:46 WIB

 

PERTAHANKAN KUALITAS: Karyawan opak gambir yang dikelola Dian Kartikawati di Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, memproduksi pesanan Lebaran. 
PERTAHANKAN KUALITAS: Karyawan opak gambir yang dikelola Dian Kartikawati di Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan, memproduksi pesanan Lebaran. 

BLITAR - Memiliki basic peternakan dan sudah berkali-kali jatuh bangun dalam menjalankan berbagai usaha. Pada 2002, Dian Kartikawati mengawali usaha ternak bebek dan kini beralih usaha menjadi produsen opak gambir yang menjadi ciri khas di Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sananwetan Kota Blitar.

“Ya, waktu itu bermula dari ternak bebek, dari 100 ekor berkembang jadi 200 ekor. Lalu tumbuh 500 ekor, sampai puncaknya hingga 1.000 ekor,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Blitar menceritakan awal berusaha, Minggu (17/3/2024).

Namun, usaha ternak itu tidak bertahan lama. Sebab, ada beberapa kendala yang dialami hingga ia menyudahi usaha beternak bebek tersebut.

Kemudian berlanjut usaha tanaman hias sesuai hobi. Dia kala itu menjual tanaman hias seperti tanaman gelombang cinta dan aglonema. Berjalan mulai 2006 hingga 2011, usaha ini terbilang sukses.

Pada Maret 2012, Dian membuka bisnis baru yakni produksi opak gambir. Pengembangan usaha itu karena berangkat dari keresahan ibu-ibu PKK di wilayah Kelurahan Plosokerep.

Peh gak due opak, gak enek stok opak meneh (Duh, tidak ada kerupuk. Tidak ada stok opak lagi). Nah, dari sini saya lihat peluang,” ungkap ibu dua anak ini.

Berbekal pelanggan tetap di usaha tanaman hias, Dian menjadikan itu sebagai target pemasaran opak gambir hingga berjalan lancar di awal penggarapan.

Mengurus perizinan usaha dan label halal menjadi langkah prioritas utamanya. Meski Plosokerep terkenal akan sentra opak gambir, produk Dian memiliki ciri khas yang menjadi gebrakan sejarah di dunia opak gambir Kota Blitar.

“Waktu itu saya survei pasar yang ada varian rasa cuma wijen, jahe, sama cokelat. Gak ada yang rasa buah. Karena masih pendatang baru, saya harus punya ciri khas,” ucapnya.

Dari situlah, dia mencoba produksi opak gambir dan dipasarkan ke toko-toko dengan varian rasa buah. Salah satunya, rasa nangka. ”Kok mendapat respons baik dari konsumen dan tokonya. Akhirnya dikembangkan lagi sampai 10 varian rasa buah,” tuturnya.

Meskipun terbilang inovatif, Dian tidak menutup saran dan masukan dari pelanggan. Hal itu demi usahanya terus berkembang. ”Saya sangat bersyukur, karena dari sana saya belajar dan bisa melangkah,” ungkapnya.

Hingga kini, ada 10 karyawan yang membantu produksi opak gambir. Ada tiga jenis produk yang dijual. Yaitu, premium, medium, dan gambiraria. Tentunya, beda jenis, beda bahan dasar olahan. Namun, kualitas yang diberikan tetap sama. Customer tinggal memilih sesuai keinginannya.

Seakan tidak memiliki rasa takut opak gambir bisa tergeser oleh gempuran varian makanan ringan di zaman sekarang. Dian sangat optimistis opak gambir bisa tetap eksis dan laris. ”Opak gambir tidak tergerus oleh zaman. Karena pasti disukai oleh mbah. Makhluk terkuat gak boleh dibantah, sebagai perwujudan anak dan cucu yang berbakti walaupun tidak suka opak, pasti akan beli untuk mbahnya,” kelakarnya.

Apalagi, opak gambir ini bisa jadi alternatif menu diet. Khususnya bagi perempuan yang ingin tetap nyemil tanpa takut gemuk, opak gambir bisa jadi pilihan. ”Opak gambir ini tidak mengandung minyak sama sekali. Prosesnya dipanggang dan termasuk makanan ringan. Jadi, makan sekilo pun gak akan kenyang.”

Di momen Ramadan seperti saat ini, permintaan opak gambir naik signifikan. Baik dari pelanggan toko hingga pesanan dari instansi Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar. Biasanya, opak gambir dijadikan bingkisan Lebaran dengan memanfaatkan produk dari UMKM. Hal tersebut tentu sangat membantu Dian dan teman kelompoknya.

Pesanan yang meningkat itu tidak dikerjakan Dian sendiri. Dia juga melemparnya ke produsen opak gambir lain di sekitarnya. Sebab, menurutnya, produksi opak gambir ini bersifat pemberdayaan kelompok, bukan personal.

”Jadi, kami kabarkan di grup bahwa ada tawaran sekian banyak, kira-kira mau ngerjakan apa mboten. Dan di sana tidak ada pengambilan laba. Karena tiap personal sudah punya pakem sendiri dalam mencari laba,” tandasnya.

Selain momen Ramadan dan Lebaran, ada juga momen Idul Adha. Biasanya opak gambir dijadikan suvenir haji. Lalu, momen orang-orang hajatan dan jadwal liburan anak sekolahan. Momen-momen tersebut sangat berpengaruh pada peningkatan pemasaran. (*/c1/sub)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#produsen #opak gambir #Kota Blitar