BLITAR - Jenang merupakan salah satu jajanan Nusantara yang masih eksis di masa kini. Jajanan ini bisa dinikmati oleh segala kalangan dari kecil hingga dewasa. Bahkan jelang Lebaran ini sering diburu untuk oleh-oleh khas.
“Sejak 2003, saya sudah memegang brand jenang. Saya memiliki filosofi sendiri dalam menjalankan usaha tersebut,” terang salah satu keluarga pelopor usaha jenang di Blitar, Hendri Christiawan, owner Omah Jenang.
Chinyo sapaan akrabnya menjelaskan, ada ungkapan “katakan cinta dengan jenang, lestarikan tradisi untuk negeri”.
Artinya, jenang sebagai perekat yang mengandung tiga unsur meliputi syukur, gotong royong, dan doa.
Serta upaya untuk melestarikan dan mewariskan jajanan tradisional Indonesia bagi generesi selanjutnya.
Dia mengaku, keunikan usaha jenangnya adalah memiliki wisata edukasi proses pembuatan jenang mulai dari pemarutan kelapa, pengambilan santan, proses pengadukan jenang, hingga tahap packing.
Wisata edukasi yang dibuka pada tahun 2014 itu sering dikunjungi mulai dari anak-anak sekolah hingga dewasa.
“Awalnya tahun 2006, ketika membuka usaha jenang itu rata-rata orang senang nyambangi pawon melihat proses pembutan jenang. Ternyata itu menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung. Dari situ, saya akhirnya memiliki ide membuka wisata edukasi yang terealisasi di 2014,” kenangnya.
Dengan merogoh kocek mulai Rp 20 ribu per orang, pengunjung sudah bisa menikmati proses pembuatan jenang.
Edukasi tersebut tidak hanya mempelajari olahan jenang, tetapi juga bebas memilih olahan mana yang akan dipelajari.
Selain edukasi, dia juga membuka pelatihan khusus pembuatan jajanan tradisional termasuk wajik klethik, berbagai olahan singkong dan pisang, bahkan bisa belajar membatik dan kerajinan.
Tak hanya mendapatkan ilmu untuk pembuatan jenang, dalam wisata edukasi ini juga terdapat pengetahuan seputar manajemen usaha hingga pemasaran.
“Kalau ingin edukasi di sini (batik dan kerajinan) bisa dicarikan dari teman-teman UKM di Blitar, kan ada relasi. Kalau ngudek jenang atau madumangsa nanti pulangnya dapat suvenir senilai yang dibayarkan,” jelasnya.
Pria 43 tahun tersebut menuturkan bahwa branding produk dapat meningkatkan posisi perusahaan dan penjualan produk. Pengenalan jajanan tradisional ini tak luput dari pemasaran di media.
Jajanan tradisional jenang miliknya dibanderol mulai harga Rp 15-90 ribu tergantung kemasannya. Kemudian, jenang kiloan Rp 43-45 ribu dan ukuran besek Rp 35 ribu per 8 ons.
Pasar potensial jenang dengan permintaan tertinggi adalah Semarang, Jogja, Batu, dan Jember. Omzet pada April 2023 mencapai Rp 250 juta, sedangkan total omzet tahunan pada 2023 tercatat mencapai Rp 1.345.039.000.
“Segmen pasar kami di pasar pariwisata. Semarang, Jogja, satu bulan bisa 3-4 kali pengiriman yang masuk ke berbagai pusat oleh-oleh,” jelasnya.
Dia mengaku tetap optimistis dengan perkembangan bisnis ke depan. Itu agar jenang tetap mampu bertahan melihat sejarahnya yang merupakan makanan para raja Jawa.
Asalkan mampu menjaga kualitas, bisa mengikuti perubahan zaman mulai dari sistem pemasaran hingga packaging, dan yang paling penting berani membuka edukasi.
“Karena dengan adanya edukasi inilah yang nantinya memperkenalkan. Bahkan ketika ada event, saya tidak segan-segan membawa alat dan bahan serta edukasi on the spot,” ujarnya. (mg3/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila