BLITAR - Mendekati lebaran, pendapatan dari sektor makanan tradisional terutama jenang, dan madu mongso cenderung meningkat. Jenis makanan ini selalu digemari masyarakat ketika Hari Raya Idul Fitri. Rasanya manis dan legit membuat lidah tak henti menikmati.
Salah satu perajin camilan tradisional asal Kecamatan Kademangan, Imam Mukhtadi mengungkapkan pendapatan dari usaha bisnis ini sungguh menggiurkan. Bisnis ini menjadi usaha turun temurun yang di wariskan keluarganya.
”Mulanya itu dari orang tua. Lalu diturunkan ke anak-anaknya. Kami berbagi peran untuk mengembangkan usaha ini. Satu jualan secara online dan saya fokus proses produksi,” jelasnya.
Kini, dia menjadi penerus generasi kedua. Momen Lebaran menjadi momen panen cuan.
Imam menggantikan ayahnya pada 2004. Kala itu bagaimana dia merasakan pahit manisnya mengembangkan usaha tersebut.
Apalagi ketika pandemi Covid-19 melanda Blitar beberapa tahun lalu. Pengalaman itu serasa sulit dia lupakan.
Kondisi tersebut sempat memperpuruk bisnis keluarganya. Bagaimana tidak, aturan pembatasan aktivitas yang ketat membuat perputaran roda usahanya mandek. Selain itu, perekonomian masyarakat ikut lesu terdampak pandemi.
Meski begitu, bisnisnya mampu bertahan. Bantuan dari pemerintah daerah (pemda) setempat pun turun.
Bantuan itu berupa pelatihan jualan online dan cara pemasaran produk jajan bisa tembus minimarket. Bekal ilmu yang didapat dari pelatihan itu lantas diterapkan.
Menjelang Lebaran seperti saat ini pendapatan cenderung naik berkali lipat. ”Ini momen tahunan yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin,” ujarnya.
Tak hanya momen Lebaran, permintaan pesanan juga meningkat pada hari raya keagamaan lain. Pada hari biasa, omzet yang dia peroleh bisa mencapai sekitar Rp 750 ribu per hari. Sedangkan saat momen hari besar, bisa menghasilkan Rp 3 sampai Rp 5 juta.
“Ini kami sudah ada pesanan. Bahkan sebelum puasa, sudah ada permintaan yang masuk,” ungkapnya. (*/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila