Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Iseng, Pasutri asal Kanigoro ini Hasilkan Ratusan Juta dari Penjualan Karya Batik

Mohammad Syafi'uddin • Senin, 22 April 2024 | 17:59 WIB
TEKUN: Umayah dan suami mengerjakan pesanan batik tulis pelanggan di rumah produksinya di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, kemarin (21/4).
TEKUN: Umayah dan suami mengerjakan pesanan batik tulis pelanggan di rumah produksinya di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, kemarin (21/4).

KABUPATEN BLITAR - Umayah, warga Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, memperoleh ratusan juta dari hasil menjual karyanya tahun 2023.

Itu berawal dari rasa iseng untuk ikut pelatihan pembuatan batik.

Sebelum memulai pembuatan batik hingga meraih sukses, perjalanan hidup Umayah tidak semudah harapan.

“Awalnya itu tentu tidak mudah. Kami (suami istri, Red) selalu gagal dan harus bangkit lagi,” ujar perempuan yang sudah menggeluti dunia batik sejak 2016 tersebut.

Dia mengaku bahwa semula tidak tahu-menahu soal batik. Itu lantaran harga batik masih mahal sehingga tidak ada niat menekuni bisnis di bidang tersebut.

Namun, dengan ikut berbagai pelatihan di Solo dan ada keinginan untuk mendirikan usaha beda dengan yang lain, maka rasa suka akan pembuatan batik semakin bertumbuh.

“Bagi kami, tantangan pembuat batik saat itu masih minim. Semula tidak memikirkan pendapatan lantaran suka membuat batik,” jelasnya.

Dia menghabiskan waktu selama dua tahun untuk mengamati dan belajar membuat batik. Dalam kurun waktu itu, dia berkali-kali gagal. Namun, usahanya perlahan membuahkan hasil.

Di tahun 2019, dia mulai mengikuti berbagai pameran. Walaupun begitu, kain batik yang dibawanya masih kecil.

Dia kini memiliki tiga batik yang sudah masuk hak cipta atas namanya. Yakni, batik Pandam Nguncar Palah, Trisayekti, dan Lomojoaoang-Alang.

“Awalnya itu saya mengajukan enam motif, namun diterima dua. Dan terakhir kemarin ada penambahan satu lagi,” ujarnya.

Sejak awal, yang bisa memepererat dan membuatnya kukuh ialah semakin banyaknya pemesan. Tak terkecuali produk buatannya yang gagal.

“Produk yang gagal juga laku. Bahkan, beberapa pelanggan kami itu mau karena batik yang gagal memiliki ciri khas berbeda dan berkesan unik. Seakan dibuat khusus dan tidak akan ada pembuatan lagi,” jelasnya.

Tentunya harga batik yang gagal berbeda dengan batik sempurna. Bedanya tidak jauh. Semisal batik sempurna harganya sekitar Rp 150 ribu, kalau batik gagal bisa Rp 100 ribu.

Dia membuat berbagai macam batik. Seperti batik cap, batik tulis, batik campur, dan terakhir batik abstrak.

Dari ke semua batik itu, tersulit ialah pembuatan batik tulis. Sebab, pencantingannya butuh waktu lebih lama daripada proses pembuatan batik lainnya.

Meski durasi pencantingan lama dan butuh ketelitian serta keterampilan, tapi harganya lebih mahal daripada batik lain.

Sementara batik cap menggunakan cap yang terbuat dari tembaga.

Keunggulan batik cap ini ialah durasi pembuatan batik lebih cepat, bisa produksi lebih banyak, dan harga lebih murah. Namun, harga alat cap yang digunakan mahal.

“Batik tulis di satu potong itu bisa memakan waktu satu hari untuk menggambar. Lalu, mencanting kain memakan waktu dua hari. Kalau batik cap itu bisa sehari dua puluh untuk pemberian lilin malam,” jelasnya.

Kemudian untuk batik abstrak, pembuatannya benar-benar berbeda. Lebih simpel karena hanya butuh kuas untuk melukis di lembaran kain putih. (*/c1/din)

Editor : Anggi Septian A.P.
#Kabupaten Blitar #bisnis #Kecamatan Kanigoro #batik