BLITAR - Peluang kecil jika dikembangkan dengan manajemen yang baik pasti akan menjadi ladang bisnis yang bernilai tinggi.
Salah satunya, beternak ayam pelung. Jenis ayam lokal yang dikembangkan di daerah Cianjur, Jawa Barat, ini selain memiliki postur yang lebih besar dari ayam lokal biasa, kelebihannya ada pada suara kokok yang khas, merdu, dan panjang.
Untuk posturnya, ayam pelung memiliki pertumbuhan yang cepat dengan bobot maksimal ketika dewasa mencapai 4-5 kilogram (kg) dan tinggi berkisar 40-50 sentimeter (cm).
Selain memiliki ciri perawakan lebih besar dari ayam pada umumnya, ayam ini memiliki ciri khas kokok ayam dengan suara yang mengalun lebih panjang.
Hal tersebut menjadikan ayam ini memiliki tempat tersendiri bagi penghobinya. Salah satunya, Muhammad Fadli.
Bermula dari menjual anak ayam kampung berumur satu bulan hanya laku Rp 25 ribu, pria yang kesehariannya mengajar di MIS Raudlatul Hanan ini, kini fokus menekuni budi daya ayam pelung.
“Sama-sama pelihara ayam Sekalian pelihara yang nilai ekonomisnya lebih tinggi,” ungkapnya.
Dia juga sering unjuk gigi bersama ayam miliknya melalui kontes-kontes khusus ayam pelung.Lomba ayam ini biasanya didasarkan pada panjang suara kokok dan kemerduannya.
Saat ini, ayam dari kandang warga Desa Sawentar, KecamatanKanigoro, ini sudah terjual ke berbagai daerah seperti Kediri, Malang, hingga Madura.
Ayam-ayam tersebut banyak yang menonjol di kontes sehingga diburu oleh penghobi. Selain kualitasnya yang bagus, ayam dari kandang miliknya memiliki harga yang relatif lebih murah.Anakan ayam pelung yang berusia satu minggu dipasarkan seharga Rp. 35-50 ribu per ekor.
Kemudian, ayam berusia remaja dipatok sekitar Rp 250-300 ribu per ekor tergantung kualitas. Manis-pahit penjurian dalam beberapa kontes telah ia rasakan.
“Minimal penggembira, tapi setidaknya setiap kontes pasti ada yang nyantol. Dulu pertama kontes di Kediri, alhamdulillah tembus penampilan juara pertama.” kenangnya.
Pria berusia 58 tahun ini juga membocorkan sedikit perawatan agar ayam pelung ketika dilombakan dalam kondisi yang prima. Yakni, karantina minimal 5 hari sebelum kontes.
Lalu, pemberian pakan ketika menjelang lomba berupa nasi yang dilembutkan, sayur tomat agar suaranya jernih, serta mandi dan dijemur. Baginya, postur ayam adalah nomor dua. Paling utama adalah suara kokok yang dihasilkan.
“Tidak menutup kemungkinan postur bisa memengaruhi suara. Tapi, menurut saya, yang utama ya suara yang dihasilkan,” jelasnya. (mg1/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila