Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Lezatnya Kulineran di Warung Mak Ti Blitar, Pertahankan Cara Masak Tradisional, Ternyata Ini yang Bikin Laris

Fajar Rahmad Ali Wardana • Senin, 27 Mei 2024 | 18:15 WIB

 

TRADISIONAL: Supiati atau akrab disapa Mak Ti mengambil sayur lodeh untuk pelanggan yang membungkus pesanan di warungnya, kemarin (26/5).
TRADISIONAL: Supiati atau akrab disapa Mak Ti mengambil sayur lodeh untuk pelanggan yang membungkus pesanan di warungnya, kemarin (26/5).

BLITAR - Menikmati ikan sungai tidak harus jauh mencari tempat makan yang ada di pelosok. Di sisi selatan perbatasan Kota dan Kabupaten Blitar, yakni di Desa Jatinom, Kecamatan Kanigoro, terdapat Warung Mak Ti. Kuliner ikan sungai yang masih dimasak secara tradisional.

Bumi Penataran memiliki banyak wisata alam, dan tidak ketinggalan dengan kulinernya. Rumah makan ini memiliki tempat sederhana khas pedesaan. Beda dengan warung pada umumnya, kuliner ini lokasinya tersembunyi.

Yakni, Warung Mak Ti berjarak 7 kilometer (km) dari pusat Kota Blitar. Meskipun begitu banyak masyarakat dan pejabat Blitar atau luar kota mampir untuk merasakan ikan kali masakan dari warung makan ini.

Warung Mak Ti ini didirikan oleh Supiati sejak 2000. Nama rumah makan ini tentu dari panggilan dari Supiati.

Sejak dari dulu dia memang hobi memasak, terbukti tanpa modal bangunan mewah dan lokasi strategis dapat membawa tempatnya menjadi populer.

“Awalnya, warung ini kecil karena hanya di dapur rumah. Semakin lama ramai yang datang, akhirnya saya tambah bangunan untuk khusus tempat pelanggan makan," ujar Mak Ti saat ditemui di warungnya.

Saat itu Mak Ti terlihat menjaga warung dengan duduk di depan ruang prasmanan. Sedangkan di dalam dapurnya terdapat kira-kira 6 pekerja yang bertugas memasak ikan sungai, yang menjadi menu utama warung ini. Tidak hanya itu, ada sayur lodeh yang menjadi teman makan.

Mak Ti menceritakan, ikan sungai yang disajikan di warungnya di antaranya ada nila, wader dan mujahir. Ikan-ikan ini didapatkan bukan dari sungai sekitar rumahnya, justru mencari di Bendungan Karangkates, Kabupaten Malang.

Tidak hanya itu, ikan sungai ini dimasak masih dengan cara tradisional, bukan memakai kompor.

Yakni dengan memakai tungku tradisional yang dikenal masyarakat Jawa sebagai luweng. Sehingga memang tidak mengandalkan gas LPG, namun kayu bakar yang mudah di dapat sekitar Warung Mak Ti.

“Saya mempertahankan masak semua bahan makanan iwak (ikan) dan sayur memakai tungku tradisional atau luweng, agar masakannya lebih terasa enak dan lebih sedap. Adanya aroma kayu yang dibakar, itu juga yang mungkin disuka pelanggan,” tuturnya.

Dalam tiga hari, Warung Mak Ti ini menghabiskan konsumsi ikan sungai sebanyak 5 kuintal. Jumlah itu mengalami peningkatan drastis dari awal berdiri yang hanya 5 kilogram (kg) tiap hari. Ternyata dari jumlah kecil itu dapat membawa rezeki yang banyak untuk Supiati.

Perempuan 70 tahun ini menjelaskan, memasak dengan tungku tradisional itulah menjadi ciri khas warung. Karena memang sedikit warung yang mempertahankan memakai cara tradisional dalam memasak.

Selain itu, penyajiannya juga dengan prasmanan, maka dari itu pelanggan dapat dengan bebas mengambil sayur lodeh dan lauk ikan sungai sepuasnya. Cukup dengan membayar sebesar Rp 15 ribu dan dapat makan dengan sepuasnya.

Terbukti Warung Mak Ti tidak pernah sepi pembeli. Pelanggan terlihat silih berganti datang dan pergi di rumah makan yang berada di Dusun Nglaos, Desa Jatinom. Bahkan pelanggannya tidak hanya dari Blitar, tapi juga banyak rombongan dari luar kota seperti Malang, Surabaya hingga Jakarta.

“Untuk omzet, rata-rata tiap hari berkisar Rp 2 juta hingga Rp 3 juta. Sedangkan hari libur seperti Minggu dan tanggal merah, omzetnya bisa mencapai Rp 7 juta dalam sehari,” kata Mak Ti.

Salah satu pelanggan, Tinuk, warga Kecamatan Ponggok mengatakan sering makan di Warung Mak Ti. Masakan Warung Mak Ti cocok untuk penggemar selera desa. Dia memiliki menu favorit di Warung Mak Ti, yaitu sayur lodeh lompong dan ikan sungai yang digoreng kering.

"Masakannya seperti masakan rumahan. Santan sayur lodehnya kental. Bumbunya juga terasa. Kalau orang desa seperti saya, sangat cocok dengan masakan Warung Mak Ti, seperti masakan di rumah sendiri," pungkasnya. (*/din)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#Warung Mak Ti #tradisional #Kabupaten Blitar #kuliner #ikan sungai