BLITAR - Kisah sukses tak melulu berjalan mulus dan lancar, tapi ada perjuangan dan pengorbanan yang tidak kecil.
Seperti itulah gambaran yang dilalui Yuliono, warga Kelurahan Blitar, Kecamatan Sukorejo, hingga kini sukses beternak burung Kenari.
Puluhan burung kenari tampak memenuhi sangkar di bagian dapur rumah Yuliono. Sukses beternak burung kenari, tapi juga dia harus rela beberapa bagian rumahnya terpaksa menjadi tempat sangkar burung.
Warga Kelurahan Blitar Kecamatan Sukorejo ini terbilang sukses saat ini. Namun, sebelumnya dia harus berhenti bekerja hingga menjual barang-barangnya untuk modal beternak kenari.
“Saya berternak burung kenari sejak 2010, sebelumnya saya kerja di percetakan dan memutuskan untuk resign. Lalu, ternak burung dengan memanfaatkan lahan seadanya di sekitar rumah. Tempat untuk breeding ini, dulu merupakan kamar mandi dan sumur,” ujar Yuliono, sambil menunjuk beberapa bagian rumah yang disulap untuk tempat sangkat burung.
Cak Geno sapaan akrabnya, menerima saran dari temannya jika beternak burung dapat membawa untung. Saat itu, dia juga kebetulan hobi dengan burung. Namun nasib tidak selalu mulus dalam menjalani ternak burung.
“Sekarang ya lumayan, untuk omzet bisa mencapai Rp 8 juta hingga Rp 15 juta per bulan dari hasil berternak burung kenari,” akunya.
Dia menceritakan, awalnya berternak burung murai dan kenari pada 2010. Saat itu burung kenari hanya beberapa ekor saja, karena untuk sampingan.
Ternyata justru ternak burung kenari yang lebih berkembang, sementara untuk burung murai selain sulit dan rumit untuk diternakkan, juga kurang menguntungkan.
"Awalnya ternak burung murai, dan kenari hanya buat sampingan. Cuma lama-lama burung kenari lebih berhasil dan lebih menjanjikan. Maka dari itu, saya mulai fokus ternak burung kenari pada 2011," ungkapnya.
Laki-laki 43 tahun ini awalnya hanya memiliki tiga ekor burung kenari, dua betina dan satu jantan.
Dari jumlah tersebut terus meningkat, sedangkan harga kenari juga semakin bagus. Harga burung kenari hampir Rp 100 ribu per ekor pada 2012-2014.
“Tapi ya sempat anjlok harganya, hingga Rp 10 ribu per ekor pada kurun 2015-2018,” tuturnya.
Cak Geno tetap bertahan dengan ternak burung kenari. Apalagi pada 2019 harga burung kenari mulai menguntungkan. Harga menjulang tinggi saat pandemi Covid-19, dan permintaan burung kenari naik drastis.
Menurutnya, berternak burung kenari gampang-gampang susah. Sebab untuk berternak tidak butuh tempat luas. Selain itu, biaya perawatan ternak burung kenari juga lebih murah.
Untuk kendalanya cuaca, jika suhunya terlalu panas dan dingin juga tidak bagus. Kendala lain hama tikus yang banyak berkeliaran di sekitar rumahnya.
“Saya menjual sepeda motor dan meminjam uang di bank untuk menambah modal ternak kenari. Modal itu untuk membeli indukan burung kenari yang bagus. Membeli indukan burung kenari impor dari luar negeri, seperti Turki, Portugal dan Italia,” tutur Cak Geno.
Harga satu ekor indukan burung kenari jantan impor sekitar Rp 5 juta, itu satu ekor. Sedangkan harga satu ekor indukan burung kenari betina impor berkisar Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta. dia saat ini memiliki 11 ekor indukan burung kenari impor, 6 ekor jantan dan 5 ekor betina.
Saat ini harga burung kenari masih stabil. Terutama harga burung kenari hasil ternak dari indukan impor.
Pelanggan burung kenari impor biasanya juga merupakan penghobi yang suka ikut lomba burung.
Selain itu, juga ada para penghobi yang ingin belajar ternak burung kenari. untuk pemasaran cukup mudah, karena dari mulut ke mulut. Pembeli datang sendiri ke rumah dan membuat dia kewalahan melayani pembeli di rumah.
“Sekarang saya fokus ternak burung kenari impor. Karena harganya bagus. Untuk harga jual burung kenari usia 4-5 minggu mencapai Rp 200 ribu sampai Rp 2 juta per ekor,” pungkasnya. (ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila