BLITAR - Pengalaman masa kecil dengan latar belakang keluarga yang suka tanaman bonsai menuntun Rudi Syailendra Widodo, akhirnya memilih untuk menekuni bisnis bonsai sejak 2018.
Karena tanaman bonsai merupakan seni yang simple dan mudah, di sisi lain membutuhkan ketelitian dan ketekunan.
Pria asal Srengat ini mengungkapkan bahwa semua tanaman bisa dijadikan tanaman bonsai. Meskipun, tidak semua tanaman itu akan menghasilkan bentuk dan keindahan yang sama.
“Semua tanaman itu bisa dijadikan bonsai. Tetapi, jika sembarangan tanaman itu tidak bagus hasilnya. Terutama tanaman-tanamana yang memiliki daun lebar, itu tidak cocok,” ujarnya.
Selain jenis tananaman, ketrampilan dalam membuat lekukan, pemilihan pot, pemotongan dahan, dan pemahaman akan kebutuhan nutrisi bonsai harus dimiliki pengrajin bonsai.
Tanpa ketrampilan-ketrampilan tersebut, bonsai yang dihasilkan akan kurang sempurna. Bahkan bisa jadi tidak laku karena bonsai tidak akan bisa tumbuh seperti yang diinginkan.
Dalam usaha mempercantik bonsai ini, kesenian dalam melekukkan bonsai memiliki andil besar. Namun, untuk menciptakan seni ini perlu keahlian tertentu dan tidak bisa asal menekuk.
“Membuat bonsai itu lama, kalau tidak sabar, dan mempunyai skill itu akan sulit. Jadi tidak bisa sembarangan. Apalagi, bonsai itu ada ilmu dasaranya. Bagi yang ingin terjun di bisnis bonsai minimal harus tahu pakemnya,” ungkapnya.
Menurut dia, menanam bonsai akan percuma jika hanya sedikit. Karena ini pula dia memutuskan untuk budidaya dan memperbanyak koleksinya.
Selain itu, perawatan yang biasanya hanya satu kali dalam sebulan dirasa percuma jika hanya sedikit. Dengan cara ini dia merasa bahwa waktu yang dipergunakan untuk menekuni bonsai tidak akan percuma.
“Bonsai yang saya budidayakan itu, bonsai souvenir. Bonsai ini bentuk kecil-kecil dan biasanya untuk pajangan dalam ruangan. Sedangkan untuk pemberian pupuk itu biasanya cukup satu bulan sekali,” ungkapnya.
Kendati demikian, bonsai yang di tanam di pot kecil perlu penyiraman setiap hari. Selain itu, pemberian insektisida seminggu sekali juga diperlukan agar tanaman tidak diserang hama.
“Semua tahapan ini harus rutin dilakukan, jika ini diabaikan bonsai akan keriang dan mati,” ujarnya.
Siapa sangka, ketekunanya ini berbuah hasil yang memuaskan. Bonsai yang dimilikinya rata-rata memiliki nilai jual yang tinggi, mulai dari yang paling kecil sekitar ratusan ribu hingga seharga Rp 20 juta. (mg2/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila